Fri,11 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Siamang Terganggu dengan Suara Bising Kegiatan Manusia di Hutan Sumatera

Siamang Terganggu dengan Suara Bising Kegiatan Manusia di Hutan Sumatera

siamang-terganggu-dengan-suara-bising-kegiatan-manusia-di-hutan-sumatera
Siamang Terganggu dengan Suara Bising Kegiatan Manusia di Hutan Sumatera
service

Hutan yang hijau belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa liar. Suara kendaraan, mesin, dan musik yang memasuki kawasan hutan dapat mengubah cara siamang (Symphalangus syndactylus) bergerak, mencari makan, bahkan berinteraksi dengan pasangannya. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ethology pada Juni 2025 mengamati tujuh kelompok siamang di Sikundur, Ketambe, Kutapanjang, dan Soraya, di Sumatera Utara. Peneliti memutar empat jenis suara sekitar tiga menit dengan tingkat kebisingan mendekati 90 desibel. Tiga suara berasal dari aktivitas manusia, yaitu lalu lintas kendaraan, mesin pemecah beton atau jackhammer, dan musik rock. Suara tonggeret digunakan sebagai pembanding karena merupakan bagian alami dari lingkungan hutan. Hasilnya, siamang memberikan respons paling kuat terhadap suara lalu lintas dan jackhammer. Setelah mendengar lalu lintas, mereka bergerak rata-rata sejauh 103,86 meter dari sumber suara. Jarak tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan respons terhadap suara tonggeret, yaitu sekitar 51,14 meter. Temuan ini tidak berarti semua siamang selalu berlari sejauh 100 meter ketika mendengar kendaraan. Jumlah kelompok yang diteliti juga relatif sedikit. Namun, eksperimen tersebut menunjukkan bahwa suara manusia dapat mengubah perilaku satwa meskipun kondisi fisik hutannya tidak langsung berubah. Siamang biasanya hidup dalam kelompok keluarga yang terdiri dari pasangan jantan dan betina beserta keturunannya. Mereka mempertahankan wilayah seluas sekitar 20-70 hektar dan menempuh perjalanan harian sepanjang 700-1.500 meter untuk mencari buah serta daun. Gangguan suara berulang berpotensi menciptakan “lanskap ketakutan akustik”. Dalam kondisi ini, siamang memetakan lokasi yang bising sebagai area berisiko dan memilih menghindarinya. Jika kawasan tersebut sebenarnya kaya makanan, penghindaran dapat membatasi akses terhadap sumber daya dan meningkatkan energi…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.