Fri,11 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Kuasa Kata dalam Pusaran Algoritma

Kuasa Kata dalam Pusaran Algoritma

kuasa-kata-dalam-pusaran-algoritma
Kuasa Kata dalam Pusaran Algoritma
service

Coba perhatikan linimasa kita hari ini. Dalam hitungan detik, ribuan kata melintas: status, komentar, judul berita, cuitan singkat yang lahir dan mati begitu cepat. Sepintas, semua itu tampak sepele: sekadar huruf yang tersusun jadi kalimat. Tapi coba kita tanya pada diri sendiri, mengapa satu kalimat bisa membuat kita marah seketika, sementara kalimat lain—yang secara tata bahasa sama sederhananya—tak meninggalkan bekas sama sekali?

Jawabannya sederhana,  tapi seringkali luput dari perhatian kita, yakni kata tidak pernah berdiri sendiri. Ia lahir dari konteks, dilontarkan di ruang tertentu, ditujukan kepada audiens tertentu, dan digerakkan oleh motif dan hasrat tertentu. 

Dan di zaman digital sekarang, ada satu kekuatan baru yang ikut menentukan nasib sebuah kata, yaitu algoritma—sistem tak kasat mata yang memilih kata mana yang layak dilihat jutaan orang dan kata mana yang tenggelam tanpa jejak. Dan situasi ini dimanfaatkan orang untuk memperebutkan kata sebagai alat kuasa, membangun opini, dan mengolah emosi massa.

Sejak lama, kita diajari bahwa bahasa adalah alat untuk menyampaikan informasi. Tapi filsuf bahasa John Austin mengingatkan kita bahwa ‘berkata’ sesungguhnya adalah ‘bertindak’. Ketika seseorang berteriak “Awas, banjir!”, ia bukan sekadar melaporkan cuaca—ia sedang menggerakkan orang lain untuk lari menyelamatkan diri. Demikian pula ketika orang mengatakan: ‘Kamu bisa’, ‘dia abai pada meritokrasi’,  dan aneka rupa kata lain. Kata, dengan kata lain, punya daya dorong yang kuat dan digerakkan dengan kekuatan dan aneka rupa.

Di ruang digital, daya dorong atas kata tersebut dilipatgandakan. Judul berita atau komentar bukan lagi sekadar ringkasan; ia dirancang memancing rasa penasaran, marah, atau takut, karena algoritma telah belajar bahwa emosi yang meluap-luap membuat orang lebih lama bertahan di layar, lebih sering membagikan, lebih sering berkomentar. Kata pun berubah fungsi: dari alat menyampaikan kebenaran menjadi alat memancing reaksi, menggerakkan massa dan membingkai opini.

Dalam ekosistem digital macam ini, kata yang sama, nasibnya  berbeda. Kalimat yang sama bisa dimaknai jauh berbeda tergantung siapa yang mengucapkan dan di ruang mana ia diucapkan?

Michel Foucault pernah menyampaikan satu prinsip bahwa yang menentukan apakah sebuah ucapan dianggap benar bukan semata isinya, melainkan siapa yang berbicara dan dari “mimbar” mana ia bicara. Di media sosial, mimbar itu adalah jumlah pengikut, tanda centang biru, atau sekadar keberuntungan algoritmik yang mendorong satu unggahan menjadi viral sementara unggahan lain—meski berisi kebenaran atau informasi yang sama—tak pernah dilirik siapa pun.

Pierre Bourdieu menyebut peristiwa ini sebagai perebutan modal simbolik: siapa yang menguasai cara bicara, gaya bahasa, dan panggung untuk bersuara, dialah yang memiliki kuasa sosial. Dulu, panggung itu adalah mimbar khotbah, meja redaksi, atau podium politik. Kini, panggung itu bisa berpindah ke linimasa, dan penjaga gerbangnya bukan lagi manusia, melainkan baris kode yang bekerja siang malam menghitung berapa lama mata kita tertahan pada sebuah unggahan.

Di sini, persoalannya menjadi rumit. Sebab, seperti dikatakan Shoshana Zuboff, di era “kapitalisme pengawasan” ini, perhatian manusia diubah menjadi komoditas yang diperjualbelikan kepada pengiklan. Karena itu, algoritma tidak dirancang untuk menyebarkan kebenaran atau kebaikan, melainkan untuk memaksimalkan waktu yang kita habiskan menatap layar.

Konsekuensinya bisa ditebak: bukan hanya ungkapan kebenaran, kata-kata yang memancing amarah, emosi, kebencian, ketakutan, dan perpecahan mendapat panggung lebih luas dibanding kata-kata yang menenangkan dan mendamaikan. Bukan karena kata-kata itu benar, tapi karena kata-kata itu “menghasilkan”. Di titik inilah kita perlu bertanya lebih dalam: apakah viralitas sungguh mencerminkan kebenaran? 

Kita perlu menyadari bahwa jauh sebelum kita mengenal algoritma, Al-Qur’an sudah memberi pesan lewat sebuah perumpamaan yang begitu jernih tentang Dua Pohon: Kalimah Thayyibah dan Kalimah Khabitsah

Dalam surah Ibrahim: 24-25, Allah menghadirkan sebuah perumpamaan yang indah tentang dua jenis kata. Kata yang baik (Kalimah Thayyibah), diumpamakan bagai sebatang pohon yang baik: akarnya kukuh menghunjam ke bumi, dan cabangnya menjulang ke langit, berbuah pada setiap musim atas izin Tuhannya. Sebaliknya, kata yang buruk (kalimah khabitsah) diumpamakan bagai pohon yang buruk, yang telah tercabut dari permukaan bumi, tidak memiliki keteguhan sedikit pun.

Terhadap perumpamaan ini  Al-Thabari, penafsir era klasik dalam tafsirnya  menjelaskan bahwa kalimah thayyibah yang dimaksud dalam ayat ini pada mulanya merujuk pada kalimat tauhid, lā ilāha illallāh, namun dia juga menjelaskan bahwa maknanya berlaku umum untuk setiap ucapan yang baik dan benar, sebagaimana pohon yang baik berlaku umum untuk setiap pohon yang kokoh dan berbuah.

Ibnu Katsir memperkuat penjelasan ini. Menurutnya, akar yang kukuh dalam ayat ini menggambarkan keteguhan kalimat yang baik di dalam hati orang yang meyakininya, sementara cabang yang menjulang ke langit menggambarkan amal dan ucapan baik itu senantiasa naik diterima di sisi Allah. Kata yang baik, dalam pandangan Ibnu Katsir, bukan sekadar terdengar merdu di telinga, melainkan berakar kuat pada kebenaran sehingga mampu bertahan dan terus memberi manfaat—bagai pohon yang berbuah di setiap musim, bukan hanya sesekali ketika viral.

Sebaliknya, mengenai kalimah khabitsah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ia diumpamakan sebagai pohon hanzhalah (sejenis pohon pahit dan buruk) yang tercabut dari akarnya—tidak memiliki keteguhan, tidak memiliki ketetapan, dan sewaktu-waktu bisa runtuh oleh terpaan angin sekecil apa pun. Kata yang buruk mungkin tampak menonjol sesaat, namun karena tak berakar pada kebenaran, ia rapuh dan mudah lenyap ditelan waktu.

Al-Qurthubi menambahkan dimensi sosial yang menarik atas ayat tersebut bahwa perumpamaan ini juga berlaku bagi setiap ucapan yang keluar dari lisan manusia dalam pergaulan sehari-hari. Ucapan yang jujur dan bermanfaat akan terus dikenang dan memberi dampak baik meski pengucapnya telah tiada, sedangkan ucapan dusta dan fitnah, meski sempat menggegerkan, pada akhirnya akan runtuh dan dilupakan bersama terbongkarnya kebohongan itu sendiri.

M. Quraish Shihab, dalam Tafsir Al-Mishbah, memperluas maknanya hingga mencakup segala bentuk tutur kata dan sikap: yang terpuji akan terus membuahkan kebaikan sepanjang masa, sedangkan yang tercela akan senantiasa goyah, betapa pun ia sempat menyita perhatian orang banyak.

Ala kulli hal, pada konteks digital sekarang, perumpamaan pohon yang tercabut ini begitu tepat menggambarkan kata-kata provokatif yang viral hari ini. Ia mungkin menyebar cepat, menghiasi linimasa, memancing jutaan komentar dalam semalam. Tapi karena tidak berakar pada kebenaran dan kebaikan, ia rapuh—mudah terbantahkan, mudah dilupakan, bahkan sering kali berbalik menjatuhkan penyebarnya sendiri ketika kebohongannya terbongkar.

Sebaliknya, kata yang baik—jujur, bermanfaat dan berakar kebenaran—barangkali tidak selalu viral. Ia mungkin tidak memenangkan algoritma dalam hitungan hari. Tapi seperti pohon yang berakar kuat, ia terus “berbuah” dari waktu ke waktu: dikutip kembali, diteladani, memberi manfaat lintas generasi, karena ia berpijak pada kebenaran yang tidak lekang oleh tren.

Ini adalah pelajaran  bagi kita yang hidup di pusaran algoritma. Al-Qur’an, jauh sebelum media sosial diciptakan, telah mengingatkan bahwa ukuran sejati sebuah kata bukan seberapa ramai ia diperbincangkan hari ini, melainkan seberapa dalam akarnya pada kebenaran, dan seberapa lama ia mampu memberi manfaat.

Semua tuntunan ini adalah kerangka penilaian yang berbeda  dari logika algoritma. Algoritma menilai kata dari seberapa besar reaksi yang ia picu; Al-Qur’an menilai kata dari kejujuran dan kebaikan yang ia kandung.

Kuasa kata yang sesungguhnya tidak diukur dari seberapa keras ia bergema hari ini di linimasa kita, melainkan seberapa dalam ia berakar pada kejujuran dan kebaikan. Algoritma boleh saja menentukan kata mana yang muncul di atas dan kata mana yang tenggelam. Tapi seperti yang diajarkan lewat perumpamaan pohon yang baik dan pohon yang buruk, umur panjang sebuah kata tidak ditentukan oleh mesin, melainkan oleh akar kebenaran yang menopangnya.

Di tengah derasnya arus kata yang menghantam kita setiap hari di ruang-ruang digital yang paling kita butuhkan bukanlah kata yang paling ramai diperbincangkan, melainkan kata yang paling jujur dan tenang menuntun: kata yang, meski tidak selalu viral, akan terus berbuah kebaikan sepanjang masa.[]

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.