Sun,26 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Ketakwaan Perempuan Tidak Lebih Rendah dari Laki-laki

Ketakwaan Perempuan Tidak Lebih Rendah dari Laki-laki

ketakwaan-perempuan-tidak-lebih-rendah-dari-laki-laki
Ketakwaan Perempuan Tidak Lebih Rendah dari Laki-laki
service

Mubadalah.id — Dalam sejarah panjang peradaban manusia, perempuan sering kali ditempatkan pada posisi yang dianggap lebih rendah dari laki-laki, baik dalam urusan sosial, intelektual, maupun spiritual.

Anggapan seperti ini begitu mengakar, bahkan dalam sebagian tafsir keagamaan yang memosisikan laki-laki sebagai pihak yang lebih dekat dengan Tuhan, lebih pantas menjadi pemimpin, dan lebih berhak atas kebenaran.

Padahal, secara prinsip dalam Islam, spiritualitas dan intelektualitas adalah pencapaian yang tidak Tuhan tentukan oleh jenis kelamin.

Dr. Faqihuddin Abdul Kodir dalam bukunya Qiraah Mubadalah menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada jenis kelaminnya, melainkan pada ketakwaanya.

Dalam pandangan beliau, laki-laki tidak lebih baik dari perempuan. Sebagaimana perempuan juga tidak bisa kita anggap lebih rendah atau buruk.

Pandangan ini sejalan dengan firman Allah dalam surah at-Tahrim ayat 10–12. Allah Swt. memberikan perumpamaan dua tipe perempuan yang menunjukkan kemandirian spiritual:

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth… Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang beriman, istri Firaun… dan Maryam putri Imran…”

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak bisa diwariskan melalui relasi biologis atau pernikahan. Istri Nabi pun bisa celaka karena ketidaksetiaannya kepada Allah. Sementara perempuan seperti Asiyah (istri Firaun) dan Maryam justru mencapai derajat tertinggi di sisi-Nya. Meski hidup dalam sistem dan lingkungan yang menindas.

Dengan kata lain, Islam menegaskan bahwa perempuan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki untuk mencapai derajat keimanan tertinggi. Bahkan kemandirian spiritual ini menjadi bukti bahwa relasi manusia dengan Tuhannya bersifat langsung bukan dari jenis kelaminnya. []

Redaksi

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.