Sun,9 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Kala Sektor Nikel dan Baja Tak Masuk dalam Komitmen Penurunan Emisi Indonesia

Kala Sektor Nikel dan Baja Tak Masuk dalam Komitmen Penurunan Emisi Indonesia

kala-sektor-nikel-dan-baja-tak-masuk-dalam-komitmen-penurunan-emisi-indonesia
Kala Sektor Nikel dan Baja Tak Masuk dalam Komitmen Penurunan Emisi Indonesia
service

  Pemerintah mengecualikan sektor nikel dan industri hard to abate seperti baja dari kewajiban dekarbonisasi dalam dokumen second nationally determined contribution (SNDC). Padahal, kedua industri ini menyumbang emisi karbon tinggi dari proses pembakaran batubara dan konsumsi energi fosil yang masif. Kondisi ini, memperlihatkan sikap kontradiksi antara ambisi iklim dan arah pembangunan ekonomi nasional. Pemerintah berjanji menurunkan emisi melalui SNDC yang sudah setor ke United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), menjelang pertemuuan iklim para pihak (conference of parties (COP )30, 10-21 November 2025. Nadia Hadad,  Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan sekaligus Koordinator Tim Lobi Koalisi JustCOP, menilai,  pengecualian hilirisasi nikel dan sektor baja dalam SNDC memperlihatkan, target penurunan emisi belum sepenuhnya jadi arus utama dalam kebijakan pembangunan. “Dikecualikannya nikel dan baja dari dokumen SNDC berarti bahwa emisi dari industri baja tidak diperhitungkan secara formal dalam target penurunan emisi nasional, dengan kata lain, tidak ada kebijakan atau program mitigasi yang spesifik untuk sektor ini dalam kerangka SNDC,”  kata Iqbal Damanik, anggota Koalisi JustCOP juga Climate dan Energy Manager Greenpeace Indonesia. Industri baja, misal, merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di Indonesia. Terutama,  karena proses produksi sangat bergantung pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batubara. Ketika sektor besar seperti baja keluar dari perhitungan, katanya, kredibilitas komitmen iklim Indonesia menjadi dipertanyakan. “Target penurunan emisi akan tampak lebih mudah dicapai di atas kertas, tetapi tidak mencerminkan kondisi lapangan yang sesungguhnya.” Industri baja memberikan kontribusi besar terhadap emisi karbon nasional, yakni 4,9% dari total emisi industri yang mencapai setara 430 juta ton…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.