Pada 1925, Marcelin Flandrin memotret seekor singa di lereng Pegunungan Atlas. Foto itu kelak diketahui sebagai potret terakhir singa berber di habitat aslinya. Saat itu Flandrin menerbangkan pesawat kecil dari Paris menuju Dakar dan mendokumentasikan lanskap Afrika Utara dari udara. Ia mungkin tidak menyadari bahwa hasil jepretannya menjadi saksi akhir kehadiran spesies singa paling legendaris di kawasan itu. Singa berber atau Panthera leo leo, dikenal juga sebagai singa Atlas, pernah menghuni wilayah luas di Afrika Utara. Mereka hidup dari Maroko hingga Mesir, di pegunungan, hutan cedar, dan padang sabana yang kini banyak berubah menjadi lahan kering. Ukurannya besar dengan surai hitam pekat yang menjuntai hingga dada. Dalam berbagai catatan, singa jantan dewasa bisa mencapai panjang lebih dari tiga meter dan berat hingga 250 kilogram. Seekor singa di Pegunungan Atlas, Maroko, dipotret dari pesawat saat penerbangan Casablanca–Dakar. Gambar ini dikenal sebagai potret terakhir singa berber (Panthera leo leo) di alam liar. Foto: Marcelin Flandrin, 1925 (Wikimedia Commons, CC-Public Domain). Singa berber lama menjadi simbol kekuatan bagi para penguasa di Afrika Utara. Namun nasib mereka berubah ketika kekaisaran Romawi menjadikan hewan ini bagian dari pertunjukan berdarah di Colosseum. Ribuan singa ditangkap dari alam liar dan dikirim ke Roma untuk bertarung melawan gladiator dan hewan lain di arena hiburan publik. Selama berabad-abad, singa berber menjadi korban utama budaya pertunjukan yang menempatkan kekuasaan manusia di atas kehidupan alam. Dari Colosseum ke Senapan Pemburu Pada masa itu, Romawi tidak hanya memamerkan kekuatannya lewat perang, tetapi juga melalui venationes, perburuan hewan liar di arena. Dalam catatan…This article was originally published on Mongabay
Kisah Foto Terakhir Singa Berber, Petarung di Arena Gladiator era Romawi
Kisah Foto Terakhir Singa Berber, Petarung di Arena Gladiator era Romawi





Comments are closed.