Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الدَّاعِي إِلَى طَاعَتِهِ، وَالْمُوَفِّقُ لِهِدَايَتِهِ، الَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِعِبَادَتِهِ، وَبَيَّنَ لَهُمْ أَحْكَامَ شَرِيعَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ اعْتِقَادًا لِرُبُوبِيَّتِهِ، وَإِذْعَانًا لِجَلَالِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصَمَدِيَّتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى مِنْ خَلِيقَتِهِ، وَالْمُخْتَارُ الْمُجْتَبَى مِنْ بَرِيَّتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ الْمُبَلِّغِ عَنْ رِسَالَةِ الرَّحْمٰنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menjaga lisan dan sikap agar tidak menyakiti sesama.
Salah satu bentuk ujian ketakwaan di zaman sekarang adalah bagaimana kita mengendalikan ucapan dan tulisan, terutama dari kebiasaan sindir–menyindir yang sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat besar.
Banyak di antara kita yang tergelincir dalam perbuatan merendahkan harkat dan martabat saudara kita sendiri, baik secara langsung maupun melalui media sosial, dengan dalih candaan atau kritik. Padahal Islam mengajarkan bahwa orang yang bertakwa adalah mereka yang lisannya bersih dari ejekan, olok-olok, dan sindiran yang menyakiti.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain”
عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ
“(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok)”
وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ
“dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain”
عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ
“(karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok).”
وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ
“Janganlah kamu saling mencela”
وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ
“dan saling memanggil dengan julukan yang buruk.”
بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ
“Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman.”
وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ١١
“Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Ayat ini dengan tegas melarang kita mengolok-olok, mengejek, dan dan termasuk melakukan sindiran, baik yang disampaikan secara terang-terangan maupun secara terselubung. Seperti kita pahami bahwa sindiran adalah perilaku ucapan atau tulisan ataupun wujud ekspresi menyampaikan sesuatu dengan cara tidak langsung dengan tujuan untuk mengejek dan merendahkan orang lain.
Meskipun tampak sepele, sindiran bisa menimbulkan permasalahan dalam kehidupan sosial. Melakukan sindirian sangat menyakitkan dan menimbulkan rasa sakit hati, dendam, serta permusuhan di antara individu. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip akhlak yang diajarkan dalam Islam.
Rasulullah telah mengingatkan:
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: “Muslim yang sempurna imannya adalah seseorang yang orang Muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya,” (HR. Muttafaqun ‘alaih).
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Seiring dengan perubahan zaman, fenomena saling menyindir semakin marak di era media sosial saat ini. Kemudahan mengunggah status, komentar, dan konten membuat seseorang dengan mudah mengolok-olok dan menyindir orang lain tanpa merasa bersalah. Sindiran di media sosial sering kali dilakukan secara terbuka, disaksikan banyak orang, dan meninggalkan jejak digital yang mempermalukan pihak yang disindir.
Padahal, Islam sangat menekankan adab dalam berbicara, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Apa yang ditulis dan diunggah juga termasuk bagian dari lisan yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Allah berfirman dala Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Rasulullah SAW juga telah memberikan pedoman yang sangat jelas terkait menjaga ucapan. Beliau bersabda dalam hadits ke-15 yang tertulis dalam Kitab Arba’in Nawawi karya Imam An-Nawawi:
مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرَاً أَو لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah!” (HR Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Kita harus memahami bahwa larangan saling menyindir dalam Islam bertujuan untuk menjaga kehormatan, persatuan, dan kedamaian dalam interaksi sosial. Sindiran yang dimaksudkan untuk merendahkan harkat dan martabat orang lain merupakan perbuatan tercela yang berdampak buruk, baik secara pribadi maupun sosial. Kita hendaknya lebih berhati-hati dalam bertutur kata, menjauhi sindiran yang menyakitkan, dan menggantinya dengan ucapan yang jujur, santun, dan membangun.
Tentu akan lebih baik untuk menyampaikan kritikan atau masukan langsung kepada seseorang dengan cara yang baik dan bisa diterima oleh yang bersangkutan. Dengan menjaga lisan dan prilaku, kita bisa menjaga persaudaraan dan menjadikan kehidupan sosial kita lebih damai dan membahagiakan. Amin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ، مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H. Muhammad Faizin, Ketua Bidang Humas Data dan Informasi Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Provinsi Lampung.





Comments are closed.