Bincangperempuan.com- B-Pers pernah dengar ucapan seperti, “abis melahirkan vaginanya jadi longgar,” atau “kalau sering berhubungan seks nanti turun mesin”? Kalimat-kalimat semacam ini mungkin pernah kamu temukan di obrolan sehari-hari, entah sebagai candaan, nasehat atau bahkan bentuk penghakiman. Sayangnya, banyak orang menerimanya mentah-mentah tanpa mempertanyakan apakah ini fakta atau sekadar mitos yang diwariskan turun-temurun?
Melansir dari Jooi, sejak dulu vagina kerap diposisikan sebagai sesuatu yang misterius, bahkan menakutkan. Dalam mitologi Yunani misalnya, ada istilah Vagina Dentata—mitos tentang vagina bergigi yang digambarkan sebagai peringatan bagi laki-laki agar berhati-hati saat berhubungan seks karena berisiko “kehilangan” alat kelaminnya. Narasi semacam ini menunjukkan bagaimana bagian reproduksi perempuan sudah sejak lama diobjektifikasi dan dikelilingi ketakutan.
Masuk ke abad ke-21, ceritanya ternyata belum banyak berubah. Vagina masih sering diselimuti misinformasi. Mulai dari tren “wellness” seperti yoni egg yang diklaim bisa memperkuat otot panggul, hingga praktik vaginal steaming yang justru diperingatkan dokter karena berisiko membahayakan kesehatan. Alih-alih membantu, tren-tren ini justru memperpanjang mitos seolah vagina adalah organ yang kurang, kotor, atau perlu terus diperbaiki agar kencang.
Kurangnya edukasi soal vagina dan pembicaraan reproduksi perempuan bisa berdampak buruk. Mitos dan stigma yang beredar membuat banyak perempuan merasa malu, canggung, bahkan takut memahami tubuhnya sendiri. Rasa malu ini bisa menghambat seseorang untuk mencari informasi, melakukan pemeriksaan kesehatan, atau berkonsultasi dengan tenaga medis ketika mengalami masalah. Padahal, kesehatan reproduksi bukan isu sepele, dan akses terhadapnya seharusnya tidak boleh terhalang mitos.
Karena itu, membongkar mitos tentang vagina berarti juga merebut kembali otonomi atas tubuh. Mengulik berbagai sumber, berikut ini beberapa mitos yang masih sering dipercaya, lengkap dengan faktanya.
1. Vagina Seharusnya Beraroma Harum
Mitos. Faktanya, vagina adalah organ yang membersihkan dirinya sendiri. Vagina memiliki bakteri baik yang menjaga keseimbangan kesehatan, dan bakteri ini menghasilkan aroma alami yang cenderung asam. Oleh karena itu upaya memberi wewangian atau parfum pada vagina justru bisa mengganggu keseimbangan bakteri dan memicu infeksi seperti vaginosis bakterialis atau jamur.
Baca juga: Mengenal Anatomi Vagina dan Cara Menjaga Kesehatannya
2. Vagina Selalu Berdarah Saat Pertama Kali Melakukan Penetrasi Seks
Mitos. Sebagian orang memang mengalami perdarahan saat pertama kali berhubungan seks, tapi banyak juga yang tidak. Selaput dara (himen) adalah jaringan tipis yang bisa meregang secara alami karena berbagai aktivitas, seperti olahraga, menggunakan tampon, atau memasukkan jari. Ada atau tidaknya darah sama sekali tidak bisa dijadikan penanda “keperawanan”. Semua kondisi tersebut normal.
3. Sering Melakukan Seks Bisa Bikin Vagina Longgar
Mitos besar. Saat terangsang, vagina memang melebar dan melumasi dirinya sendiri untuk menyesuaikan dengan penetrasi. Tetapi setelah rangsangan berakhir, vagina kembali ke kondisi semula. Penetrasi seksual tidak menyebabkan peregangan permanen. Vagina adalah organ yang elastis, kaya saraf, dan suplai darah—bukan benda mati yang mudah rusak.
4. Cairan Vagina Selalu Menandakan Penyakit
Mitos. Keputihan atau cairan vagina adalah proses alami. Cairan ini berfungsi membersihkan sel-sel lama dari dalam vagina dan membantu menjaga keseimbangan kesehatan. Justru dari cairan inilah tubuh memberi sinyal bila ada ketidakseimbangan, misalnya perubahan warna, bau, atau tekstur. Jika ada yang terasa tidak biasa, konsultasi dengan bidan atau dokter kandungan.
5. Rambut Kemaluan Harus Dihilangkan agar Vagina Bersih
Mitos. Rambut kemaluan berfungsi sebagai pelindung alami dari bakteri dan iritasi. Rambut vaginan adalah garis pertahanan pertama terhadap gesekan, infeksi, dan gangguan dari luar. Menghilangkannya merupakan pilihan personal, bukan kewajiban agar terlihat bersih.
6. Orgasme Hanya Bisa Dicapai Lewat Penetrasi
Mitos. Penetrasi memang bisa memicu rangsangan, tapi bukan satu-satunya jalan menuju orgasme. Banyak orang justru mencapai klimaks melalui stimulasi klitoris. Setiap tubuh berbeda, dan tidak ada satu cara atau satu jalan untuk menikmati seks.
Baca juga: Selaput Dara, Mitos Keperawanan yang Menghantui Perempuan
7. Air Mani Tidak Mempengaruhi Kesehatan Vagina
Mitos. Vagina memiliki lingkungan yang cenderung asam (pH sekitar 3,8–4,5), sementara air mani bersifat basa. Ketika air mani masuk ke dalam vagina, keseimbangan pH vagina dapat berubah sementara. Pada sebagian orang yang memiliki vagina sensitif atau rentan infeksi, perubahan pH ini dapat memicu iritasi atau meningkatkan risiko infeksi seperti vaginosis bakterialis. Oleh karena itu, menjaga kesehatan reproduksi bukan hanya kebersihan vagina, tetapi juga kebersihan penis serta praktik hubungan seksual yang aman dan sehat.
8. Vagina Perlu Dibersihkan dari Dalam
Mitos yang Paling Membahayakan. Anggapan ini berakar dari narasi seksis bahwa vagina itu “kotor”. Padahal, vagina adalah organ self-cleaning dengan lebih dari 30 jenis mikroorganisme baik yang menjaga pH tetap sedikit asam. Seperti mulut dengan air liur atau mata dengan air mata, vagina membersihkan dirinya sendiri secara alami.
Mencuci vagina dengan sabun keras atau douching justru bisa merusak keseimbangan ini dan meningkatkan risiko infeksi serta bau tidak sedap. Yang dianjurkan hanyalah membersihkan vulva dengan air hangat dan, bila perlu, sabun tanpa pewangi.
Pada akhirnya mitos soal vagina bukan hanya keliru, tapi juga soal kuasa tentang siapa yang boleh mendefinisikan tubuh perempuan. Selama mitos-mitos ini terus dibiarkan, rasa malu dan stigma akan tetap menempel, membuat perempuan menjauh dari pemahaman atas tubuhnya sendiri.
Membuka percakapan, mencari informasi berbasis medis, dan berani mempertanyakan “katanya” adalah langkah kecil tapi penting. Tubuh perempuan tidak rusak, tidak kotor, dan tidak perlu distandarkan pada mitos. Yang perlu dibenahi justru cara kita membicarakannya.
Referensi:
- The Birth Center. (2021). Common vaginal myths. https://thebirthcenter.com/2021/07/common-vaginal-myths/
- Joii Care. (n.d.). 5 myths about the vagina we need to stop believing. https://joiicare.com/5-myths-about-the-vagina-we-need-to-stop-believing/
- Love Wellness. (n.d.). The complicated relationship between semen and vaginal pH. https://lovewellness.com/blogs/love-wellness/the-complicated-relationship-between-semen-and-vaginal-ph
- Healthline. (n.d.). Vaginal pH balance: Why it matters. https://www.healthline.com/health/womens-health/vaginal-ph-balance





Comments are closed.