Tue,19 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Akibat kebelet viral, tempat wisata potensial kerap layu sebelum berkembang

Akibat kebelet viral, tempat wisata potensial kerap layu sebelum berkembang

akibat-kebelet-viral,-tempat-wisata-potensial-kerap-layu-sebelum-berkembang
Akibat kebelet viral, tempat wisata potensial kerap layu sebelum berkembang
service

● Bagi tempat pariwisata, jadi viral memang salah satu strategi mujarab mendatangkan wisatawan.

● Sayangnya banyak yang menjadikan viralitas jadi prioritas utama dalam strategi pengembangan.

● Dampak negatifnya, warga lokal justru tersingkirkan karena harga sewa rumah dan biaya hidup yang semakin mahal.


Beberapa tahun terakhir pascapandemi COVID-19, banyak tempat wisata baru yang mendadak ramai karena viral di media sosial. Dalam hitungan hari, sebuah lokasi yang sebelumnya relatif sepi atau bahkan baru dikembangkan langsung dipadati pelancong yang FOMO atau khawatir ketinggalan tren.

Di berbagai destinasi pariwisata unggulan nasional, seperti Bali, lonjakan wisatawan kerap terjadi dan terus meluas karena viralitas. Setelah Canggu dan Ubud, keviralan beralih ke kawasan Nusa Penida.

Fenomena ini sekilas tampak menguntungkan karena meningkatkan eksposur, jumlah wisatawan, dan mempercepat lajunya roda ekonomi lokal. Tak salah jika pelaku industri pariwisata menganggap viralitas sebagai indikator keberhasilan utama pengembangan kawasannya.

Svargabumi Magelang jadi salah satu contoh situs destinasi pariwisata yang sempat viral. Tapi kini antusiasme warga terhadap lokasi ini amat rendah.

Sayangnya, begitu masa viralnya lewat, tempat wisata tersebut bak tak pernah muncul sejak awal. Jadi apakah pendekatan berbasis viralitas ini benar-benar ideal dan berkelanjutan bagi pariwisata Indonesia?


Read more: Bali kian disesaki turis: Wisata desa jadi alternatif menjanjikan


Ketika algoritma menjadi acuan keberhasilan

Dalam perspektif pemasaran, viralitas memang efektif untuk meningkatkan kesadaran merek (brand awareness). Strategi pemasaran digital saat ini cenderung berfokus pada satu metrik utama, yakni jangkauan (reach).


Read more: Nomad digital bikin ekonomi Canggu melesat, tapi bagaimana dengan warga lokal?


Semakin banyak orang melihat dan membagikan konten, pemasaran suatu produk semakin dianggap berhasil. Peran influencer dalam ekosistem ini juga tidak bisa diabaikan. Promosi destinasi melalui figur dengan jutaan pengikut mampu mempercepat arus kunjungan dalam waktu singkat.

Mendatangkan wisawatan memang jadi tujuan akhir dalam pengembangan pariwisata. Tapi tanpa strategi dan manajemen pengelolaan yang baik, hal ini bakal berujung jadi bencana. Infografis: Andi Ibnu/The Conversation Indonesia

Visual yang indah, pengalaman unik, dan lokasi yang “instagrammable” menjadi bahan bakar utama. Akibatnya, destinasi wisata direduksi menjadi sekadar objek visual yang siap dikonsumsi, bukan ruang hidup yang memiliki batas ekologis dan sosial.

Namun, pendekatan ini sering mengabaikan satu faktor krusial, yakni daya dukung destinasi. Sayangnya, peningkatan ini tidak selalu diikuti dengan kesiapan infrastruktur dan pengelolaan destinasi yang memadai.

Ketika kualitas pengalaman melancong menurun akibat keramaian berlebih, citra destinasi juga ikut terdampak. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan daya saing dan keberlanjutan industri pariwisata.

Rentetan risiko yang muncul setelah viral

Yang perlu dipahami adalah algoritma media sosial tidak dirancang untuk mempertimbangkan keberlanjutan. Algoritma bekerja dengan logika keterlibatan (engagement), sehingga konten yang paling menarik perhatian akan diperkuat dan disebarkan lebih luas.

Dalam konteks pariwisata, awareness tanpa kontrol justru dapat menjadi bumerang. Destinasi yang belum siap secara infrastruktur, tata kelola, maupun regulasi akan kesulitan mengelola lonjakan pengunjung yang datang secara tiba-tiba dan masif.

Siapa yang mau kembali, ketika mendatangi sebuah situs pariwisata baru, tetapi mengalami susah parkir, makanan mahal, dan berdesak-desakan tak karuan?

Ketika promosi tidak disertai informasi mengenai kapasitas destinasi, aturan lokal, atau etika berwisata, dampaknya tak hanya terhadap lingkungan tapi juga masyarakat dan penghidupan mereka.

Kelebihan jumlah wisatawan (overtourism) secara tiba-tiba kerap mendorong kenaikan harga barang dan jasa, yang pada akhirnya membebani masyarakat lokal. Lalu lintas kawasan jadi macet, penuh polusi, dan pembangunan yang cepat.

Dalam beberapa kasus, warga setempat justru tersisih dari ruang hidupnya akibat komersialisasi yang berlebihan. Di kawasan seperti Canggu dan Seminyak, misalnya, peningkatan jumlah wisatawan mancanegara mendorong kenaikan harga sewa properti, tanah, hingga makanan.

Situasi serupa juga terlihat di Labuan Bajo. Pengembangan pariwisata yang berorientasi pada konsep super premium cenderung lebih banyak melibatkan investor berskala besar yang tak terjangkau oleh wisatawan berkantong tipis.

Tekanan terhadap lingkungan juga semakin terlihat di sejumlah destinasi utama. Di Kuta dan beberapa pantai populer lainnya di Bali, peningkatan jumlah wisatawan berkontribusi pada lonjakan volume sampah yang kerap melampaui kapasitas pengelolaan setempat.

Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan wisatawan, tetapi juga berdampak pada kualitas lingkungan pesisir.

Sementara itu, di Labuan Bajo, aktivitas pariwisata yang semakin intensif turut memberi tekanan pada ekosistem laut.

Pun lalu lintas kapal wisata yang sibuk berlebih berisiko merusak terumbu karang dan mengganggu keseimbangan biodiversitas laut.


Read more: Ekspansi Scoot ke titik-titik ‘Bali baru’ mesti menjadi dorongan kompetisi maskapai nasional


Sebelum semua terlambat

Meski tidak bisa dibenarkan sepenuhnya, kondisi yang terjadi di Canggu dan Seminyak masih sedikit lebih baik. Sebab, kawasan ini tetap hidup meskipun menjelma jadi wilayah “jajahan” turis internasional dan meminggirkan masyarakat lokal, .

Persoalannya adalah tunas situs-situs pariwisata di wilayah nonpopuler tapi potensial. Tak sedikit dari mereka yang mati sebelum berkembang karena pengelola tak siap menghadapi lonjakan instan akibat sempat viral di media sosial.

Karena itu, konsep pemasaran berbasis keberlanjutan menjadi semakin relevan dalam konteks ini. Fokusnya tidak lagi semata-mata pada seberapa luas jangkauan promosi, tetapi juga pada seberapa sesuai jumlah wisatawan dengan kapasitas destinasi.

Dalam pendekatan ini, promosi pariwisata tidak hanya bertujuan meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga mendukung keberlanjutan destinasi dan kesejahteraan masyarakat lokal. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah kurasi promosi destinasi.

Tidak semua lokasi perlu dipromosikan secara masif. Dilema antara algoritma dan keaslian alam bukanlah tentang memilih salah satu, melainkan tentang menemukan keseimbangan.


Read more: Menilik potensi jumbo pariwisata musik nasional


Media sosial dan teknologi digital tetap berperan penting dalam mempromosikan pariwisata. Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, kekuatan tersebut dapat berubah menjadi ancaman bagi keberlanjutan destinasi.

Pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak orang yang datang, tetapi juga oleh seberapa baik sebuah destinasi mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, lingkungan, dan masyarakat lokal.

Tanpa perubahan sudut pandang dan sikap, viralitas hanya akan menjadi kemenangan jangka pendek yang berujung pada kerugian jangka panjang dan permanen.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.