Tue,19 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Bukan sekadar tren: Bagaimana perubahan iklim dan pengaruh ‘runfluencer’ mengancam hobi lari kita?

Bukan sekadar tren: Bagaimana perubahan iklim dan pengaruh ‘runfluencer’ mengancam hobi lari kita?

bukan-sekadar-tren:-bagaimana-perubahan-iklim-dan-pengaruh-‘runfluencer’-mengancam-hobi-lari-kita?
Bukan sekadar tren: Bagaimana perubahan iklim dan pengaruh ‘runfluencer’ mengancam hobi lari kita?
service

Kamu tidak salah jika merasa belakangan makin banyak orang menggandrungi olahraga lari (secara fisik maupun digital). Selama 20232025, lari jadi aktivitas yang paling banyak diunggah di aplikasi olahraga Strava.

Lari merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik yang paling mudah dilakukan, secara mandiri maupun bersama teman. Selain cuma butuh perlengkapan minimal, lari tidak bergantung pada fasilitas pelatihan khusus. Kita hanya perlu mengikat tali sepatu dan mulai berlari.

Namun, praktik lari yang tampak sederhana ini ternyata berkaitan erat dengan dinamika lingkungan yang kompleks. Peningkatan suhu global dan polusi udara membuat aktivitas lari memberatkan fisik sekaligus membahayakan. Belum lagi, sebagian perangkat digital yang diandalkan banyak pelari juga membawa dampak lingkungan tersendiri.

Laporan Tren Strava tahun 2023 mengungkap sebanyak 75% pelari menyatakan panas ekstrem memengaruhi rencana mereka berolahraga.

Sementara itu, kualitas udara yang buruk berdampak pada 27% atlet lainnya. Saat ini kita menghadapi kenyataan bahwa peningkatan suhu bumi membuat aktivitas lari kian sulit diakses dan kurang aman untuk dilakukan.

Tantangan lainnya adalah pengaruh para runfluencer (influencer di bidang lari), tren fesyen lari, hingga kemunculan berbagai produk yang diklaim dapat membantu pelari menghadapi cuaca panas. Semua ini menunjukkan ironi yang rumit antara budaya lari, perubahan iklim, dan budaya konsumsi kita.


Hobi dapat menghadirkan kegembiraan, kesejahteraan, sekaligus ketenangan di tengah hiruk-pikuk keseharian kita. Namun sayangnya masih banyak dari kita yang belum memilikinya. Jika kamu sudah siap mengganti kebiasaan menatap layar dengan menyulam, atau meninggalkan budaya kerja berlebih demi berkebun, The Hobby Starter Kit (sebuah seri terbaru dari Quarter Life) hadir untuk membantumu memulainya.


Bahaya cuaca panas

Berlari di tengah cuaca panas dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas berlebih, termasuk heat stroke dan gagal ginjal akut. Hal ini terjadi karena kegagalan sistem pendinginan tubuh dan dehidrasi akibat stres panas selama berolahraga.

Bagi mereka yang berambisi memecahkan rekor pribadi, suhu panas justru menurunkan performa lari. Analisis data balapan Strava menunjukkan rata-rata waktu finis di New York City Marathon tahun 2022 melambat 12 menit. Pada tahun 2022, suhu mencapai 23°C dengan kelembapan tinggi, dibandingkan tahun 2021 ketika suhu berada di kisaran 13°C.

Ini baru sebagian kecil dari risiko berlari di musim panas. Selain paparan panas ekstrem, keamanan berlari di musim panas juga terancam oleh kabut asap dan buruknya kualitas udara.

Ilustrasi sekelompok pelari.

Ilustrasi sekelompok pelari. THE CANADIAN PRESS/Yader Guzman

Pengaruh runfluencer

Tidak hanya krisis iklim yang memengaruhi rutinitas lari harian kita. Pergeseran tren budaya lari juga mengubah bagaimana cara kita berlari.

Saat para pelari mencoba beradaptasi dengan suhu yang kian panas, buruknya kualitas udara, serta musim panas yang dipenuhi kabut asap, tekanan untuk membeli produk baru, melacak data, dan melakukan optimasi justru semakin meningkat.

Tak sedikit dari kita mungkin telah menyadari munculnya iklan tertarget dan konten bersponsor dari para runfluencer. Mereka kerap mempromosikan produk serta aplikasi lari terbaru, salah satunya adalah Runna. Aplikasi olahraga asal Inggris ini dikenal lewat program latihan personal dan fitur pengatur kecepatan berbasis kecerdasan buatan (AI).

Sejak tahun 2022, keberadaan Runna di dunia digital melonjak secara signifikan hingga akhirnya diakuisisi Strava April tahun lalu.

Aplikasi seperti ini memang dapat membantu memberikan struktur latihan dan persiapan kompetisi. Namun, teknologi tersebut juga menuai kritik dari para ahli yang menaruh perhatian pada intensitas program latihan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang tak jarang menyebabkan cedera karena memforsir beban latihan.

Pihak Runna berkilah mereka tidak menggunakan AI untuk membuat rencana latihan, melainkan untuk memantau kemajuan pelari sepanjang program tersebut berlangsung.

Meski efisien dan personal, aplikasi seperti ini merupakan bagian dari infrastruktur digital yang memiliki dampak lingkungan tersendiri. Penggunaan pelacak GPS, pengunggahan data secara terus-menerus, penyimpanan berbasis cloud, hingga analisis berbasis AI, semuanya bergantung pada pusat data yang sangat boros energi.

Di luar penggunaan aplikasi, para runfluencer juga memanfaatkan platform digital untuk membagikan standar estetika lari, mulai dari sepatu, tren mode lari terkini, hingga pakaian.

Hal tersebut pada akhirnya mendorong budaya yang menormalkan konsumsi berlebihan. Fenomena ini juga meningkatkan dampak lingkungan secara drastis—yang membuat lari jadi terasa kurang menarik dan semakin tak terjangkau.

Budaya lari yang makin berbasis data, mulai terjerat dengan masalah emisi serta kebutuhan energi dari teknologi digital.

Budaya lari yang makin berbasis data, mulai terjerat dengan masalah emisi serta kebutuhan energi dari teknologi digital. (Getty Images/Unsplash+)

Menjaga keselamatan saat berlari

Jika bisa memilih, pilihlah jadwal latihan dan event lari saat udara tidak terlalu panas bersuhu 2-13°C. Langkah ini bijaksana ketimbang memaksakan diri yang penuh risiko.

Sebagai contoh, bulan Mei ini Indonesia diperkirakan akan memasuki musim kemarau dan beberapa wilayah akan menghadapi cuaca panas ekstrem. Kamu bisa memantau perkembangan perkiraan cuaca untuk rencana berlatih dan race yang lebih aman bagi tubuh.

Selain itu, dengarkan sinyal dari tubuh sendiri, cari saran dari pelatih manusia, serta pilih perlengkapan yang tahan lama daripada sekadar mengikuti tren mode terbaru.

Hindari pula konsumsi berlebihan terhadap produk maupun program yang sebenarnya tidak diperlukan. Karena sejatinya kita tidak memerlukan banyak perlengkapan maupun aplikasi untuk berlari.

Wawasan ini penting sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya lari toksik yang menganggap bahwa hidup sehat berarti harus mencetak target baru, terus-menerus beli perlengkapan baru, dan pamer pencapaian di aplikasi olahraga. Ini sangat krusial di tengah kondisi perubahan iklim yang membuat olahraga ini semakin rentan.

Adinda Ghinashalsabilla Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.