Tue,19 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Bagaimana memilih ‘daycare’ aman dan berkualitas untuk anak?

Bagaimana memilih ‘daycare’ aman dan berkualitas untuk anak?

bagaimana-memilih-‘daycare’-aman-dan-berkualitas-untuk-anak?
Bagaimana memilih ‘daycare’ aman dan berkualitas untuk anak?
service

● Dahulukan kualitas interaksi dan kepekaan pengasuh di atas fasilitas fisik atau tampilan ‘daycare’.

● Pastikan rasio jumlah ideal pengasuh dan anak agar kebutuhan afeksi serta keamanan anak terpenuhi.

● Bekali anak dengan kemampuan berkomunikasi dan konsep keamanan diri untuk mencegah serta mendeteksi potensi bahaya.


Di tengah meningkatnya kebutuhan daycare bagi keluarga modern, banyak orang tua masih memilih tempat penitipan anak berdasarkan hal-hal yang tampak di permukaan seperti gedung yang bagus, mainan yang lengkap, ruangan ber-AC, atau CCTV yang bisa dipantau sepanjang hari.

Padahal, daycare yang berkualitas tidak hanya dinilai dari fasilitasnya, tetapi dari bagaimana tempat tersebut benar-benar mendukung keamanan, kesejahteraan emosional, dan tumbuh kembang anak.

Dalam perspektif perkembangan anak usia dini, rasa aman merupakan fondasi utama. Psikolog Abraham Maslow menjelaskan bahwa anak membutuhkan rasa aman sebelum mampu belajar dan berkembang secara optimal.

Karena itu, saat memilih daycare, orang tua perlu melihat lebih jauh dibanding sekadar tampilan fisik. Berikut ini tip memilih daycare dari saya sebagai dosen pendidikan anak usia dini.


Read more: Daycare sebagai bentuk dukungan terhadap ibu bekerja, pemerintah perlu jamin kelayakan dan keterjangkauannya


1. Amati cara pengasuh memperlakukan anak

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kualitas interaksi antara pengasuh dan anak. Teori attachment menekankan pentingnya hubungan yang hangat dan responsif bagi perkembangan emosi anak.

Sayangnya, kualitas pengasuhan memang tidak selalu mudah dideteksi sejak awal. Interior yang menarik atau program yang terlihat “unggul” belum tentu mencerminkan kualitas interaksi sehari-hari di dalamnya.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru menentukan pilihan hanya dari brosur atau media sosial. Manfaatkan masa trial atau observasi sebagai kesempatan untuk benar-benar melihat bagaimana pengasuh berinteraksi dengan anak.

Perhatikan hal-hal kecil yang sering kali justru paling bermakna.

Misal, apakah pengasuh berjongkok saat berbicara dengan anak? Apakah mereka menyebut nama anak dengan hangat? Apakah mereka mendengarkan ketika anak mencoba berkomunikasi? Apakah tangisan anak direspons dengan tenang?


Read more: Tumbuh kembang anak usia dini sangat memengaruhi capaian pendidikan: 3 aspek yang perlu Indonesia perhatikan


Dalam perspektif perkembangan sosial emosional, pengasuh yang emotionally responsive adalah pengasuh yang mampu membaca, memahami, dan merespons kebutuhan emosi anak secara tepat dan hangat. Respons ini bukan berarti selalu membuat anak berhenti menangis seketika, tetapi menunjukkan bahwa emosi anak dianggap penting dan diterima.

Indikatornya sering kali terlihat dari interaksi sederhana sehari-hari, seperti:

  1. Pengasuh segera menyadari ketika anak mulai tidak nyaman atau kewalahan,

  2. Nada bicara tetap lembut meskipun situasi ramai,

  3. Anak yang menangis tidak diabaikan atau dibentak,

  4. Pengasuh membantu anak menamai emosinya: “Sedih ya ditinggal mama? Tidak apa-apa nanti bermain bersama mama lagi. Sekarang adek bersama bunda”,

  5. Anak dipeluk, ditenangkan, atau didampingi ketika membutuhkan regulasi emosi,

  6. Anak terlihat nyaman mendekat atau mencari bantuan kepada pengasuh.

Respons emosional yang baik juga terlihat dari bagaimana pengasuh menghormati kebutuhan individual anak. Ada anak yang mudah beradaptasi, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada juga anak yang suka bermain ramai, ada yang memerlukan waktu mengamati terlebih dahulu.

2. Perhatikan rasio jumlah pengasuh dan anak yang dititipkan

Anak usia dini membutuhkan perhatian individual, terutama bayi dan batita (toddler). Jika satu pengasuh harus menangani terlalu banyak anak sekaligus, kebutuhan emosional maupun keamanan anak menjadi lebih sulit terpenuhi.

Di Indonesia, rasio pendidik dan peserta didik telah diatur dalam Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014, yaitu:

• Usia lahir – 2 tahun: 1 pengasuh untuk 4 anak

• Usia 2 – 4 tahun: 1 pengasuh untuk 8 anak

• Usia 4 – 6 tahun: 1 pengasuh untuk 15 anak

Rasio ini bukan sekadar angka administratif, tetapi berkaitan langsung dengan kualitas pengasuhan. Bayi dan batita membutuhkan kontak emosional, pengawasan, serta bantuan regulasi emosi yang jauh lebih intens dibanding anak usia yang lebih besar.

Karena itu, semakin kecil usia anak, semakin besar kebutuhan mereka terhadap pengasuhan yang responsif dan individual.

3. Bangun komunikasi dengan anak

Memilih daycare yang baik saja sebenarnya belum cukup. Orang tua juga perlu membekali anak dengan keterampilan komunikasi agar mereka mampu menyampaikan apa yang terjadi pada dirinya.

Banyak kasus kekerasan atau pengalaman tidak nyaman pada anak sulit terdeteksi bukan karena anak tidak mengalami sesuatu, tetapi karena anak belum tahu bagaimana cara bercerita.

Di sinilah pentingnya membangun komunikasi terbuka sejak dini. Anak perlu memahami bahwa mereka boleh bercerita tentang apa pun tanpa takut dimarahi.

Orang tua dapat mulai dari percakapan sederhana sehari-hari:

“Hari ini paling seru main apa?”

“Ada hal yang bikin kamu nggak nyaman enggak?”

“Kalau ada sesuatu yang bikin sedih, kamu boleh cerita ke mama dan papa.”

Dalam pendekatan emotion coaching, yaitu cara orang tua atau pengasuh membantu anak memahami perasaannya, bukan sekadar menghentikan tangis atau marahnya, anak akan terbiasa mengenali dan menyebutkan emosinya sehingga lebih mudah mengomunikasikan pengalaman mereka.

Untuk kelompok anak dengan usia kurang dari satu tahun (infant), tantangannya memang jauh lebih besar karena bayi belum mampu bercerita secara verbal tentang apa yang mereka rasakan atau alami.

Berbeda dengan anak yang lebih besar yang mulai bisa mengatakan “aku takut”, “aku sedih”, atau “aku tidak suka”, bayi berkomunikasi melalui tangisan, ekspresi wajah, gerakan tubuh, pola tidur, hingga perubahan perilaku yang sering kali sangat halus.


Read more: Kasus daycare “predator”: Mengapa menghujat ibu jauh lebih mudah daripada memperbaiki sistem?


Orang tua perlu lebih peka terhadap sinyal-sinyal kecil setelah bayi berada di daycare. Misalnya, apakah pola tidur berubah drastis, bayi menjadi lebih mudah terkejut, sangat lengket secara berlebihan setelah pulang, sulit makan, atau tampak terus-menerus lelah dan overstimulated (kelebihan rangsangan).

Sebaliknya, bayi yang merasa aman umumnya perlahan menunjukkan emosi positif seperti melakukan kontak mata, tersenyum saat melihat pengasuh tertentu, tampak rileks ketika digendong, atau mulai nyaman mengeksplorasi lingkungan.

Kenalkan konsep aman pada anak

Anak juga perlu dikenalkan pada konsep safe secret” dan “unsafe secret”. Anak perlu tahu bahwa apapun yang membuat mereka takut, sedih, bingung, atau tidak nyaman tidak boleh disimpan sendiri.

Anak perlu memahami bahwa ketika sesuatu membuat mereka tidak aman, berbicara kepada orang dewasa terpercaya adalah tindakan berani untuk melindungi diri sendiri maupun orang lain. Dalam konteks ini, anak sedang belajar menjadi whistleblower yang berani bersuara ketika ada hal yang tidak benar.

Menciptakan lingkungan aman bagi anak berarti menghadirkan daycare yang berkualitas sekaligus membangun relasi yang membuat anak merasa didengar. Sebab, bentuk pengawasan yang paling bermakna bukan terletak pada sarana prasarana, melainkan pada keberanian anak untuk bercerita karena merasa memiliki tempat yang aman dan dipercaya.


Read more: Tata kelola atau budaya? Mengapa sekolah yang aman butuh keduanya



0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.