Arina.id – Al Jazeera merilis laporan investigatif dan film dokumenter terbaru yang mengungkap kesaksian sejumlah mantan tahanan Palestina terkait dugaan praktik pemerkosaan, kekerasan seksual, dan penyiksaan sistematis di pusat-pusat penahanan Israel. Laporan tersebut menambah deretan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang selama ini disampaikan oleh berbagai organisasi internasional.
Dokumenter berjudul “Bodies of Evidence: Israel’s Darkest Weapon” memuat kesaksian sejumlah mantan tahanan yang mengaku mengalami berbagai bentuk kekerasan seksual selama berada dalam tahanan. Salah satu mantan tahanan yang diwawancarai Al Jazeera menceritakan bahwa para petugas penjara bahkan menertawakan korban saat tindakan kekerasan itu terjadi.
Menurut laporan tersebut, praktik kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina bukanlah tuduhan baru. Namun, berbagai organisasi HAM menilai intensitas dan cakupannya meningkat sejak pecahnya perang Gaza pasca-serangan Hamas pada Oktober 2023. Al Jazeera menyebut kekerasan seksual digunakan sebagai instrumen intimidasi dan penghukuman terhadap tahanan Palestina.
Laporan Al Jazeera mengutip temuan sejumlah lembaga internasional. Pada Maret 2025, sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan terdapat indikasi penggunaan kekerasan seksual dan berbasis gender secara sistematis terhadap warga Palestina sejak Oktober 2023. Pada 2026, Sekretaris Jenderal PBB juga memasukkan Israel ke dalam daftar pihak yang diduga secara kredibel melakukan kekerasan seksual dalam konflik bersenjata.
Selain PBB, sejumlah organisasi HAM seperti Human Rights Watch, Amnesty International, serta organisasi HAM Israel, B’Tselem, juga telah mendokumentasikan berbagai kesaksian mengenai pemukulan, penghinaan seksual, pelecehan, hingga dugaan pemerkosaan terhadap tahanan Palestina.
Beberapa laporan sebelumnya mengungkap kondisi penahanan yang disebut sangat memprihatinkan. Mantan tahanan menggambarkan adanya pemukulan rutin, pembatasan makanan, pengabaian layanan kesehatan, penggunaan anjing untuk mengintimidasi tahanan, hingga berbagai bentuk kekerasan seksual selama proses interogasi maupun penahanan.
Pemerintah dan militer Israel selama ini membantah adanya kebijakan sistematis terkait penyiksaan atau kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina. Otoritas Israel menyatakan bahwa setiap laporan pelanggaran akan diperiksa sesuai prosedur hukum yang berlaku. Namun berbagai kelompok HAM menilai mekanisme akuntabilitas yang ada belum mampu menjawab banyaknya tuduhan yang terus bermunculan.
Dokumenter Al Jazeera tersebut kembali memicu perhatian internasional terhadap kondisi ribuan tahanan Palestina yang masih berada di berbagai fasilitas penahanan Israel. Organisasi-organisasi HAM mendesak dilakukan penyelidikan independen internasional guna memastikan kebenaran tuduhan tersebut dan menjamin perlindungan hak-hak para tahanan sesuai hukum humaniter internasional.





Comments are closed.