Polemik rencana usulan perubahan fungsi status kawasan hutan Meratus dari hutan lindung ke taman nasional menarik perhatian antropolog mancanegara. Mereka menilai, semangat perlindungan kawasan yang jadi alasan pendorong taman nasional harusnya mengandalkan masyarakat adat atau lokal. Anna Lowenhaupt Tsing, antropolog yang terkenal lewat studi etnografi multispecies, kapitalisme, dan antropologi lingkungan termasuk kajiannya pada Komunitas Dayak Meratus, menekankan pentingnya melihat gagasan dari sudut pandang orang adat. Sebab, ribuan tahun sudah Masyarakat Adat Meratus hidup di lingkungan kaya dan beragam. Hutan dan dan pegunungan bukan sekadar ruang ekologis, melainkan sumber penghidupan sekaligus penghubung antara masa lalu dan masa depan. “Upaya pelestarian di Meratus semestinya belajar dari masyarakat adat dan bekerja bersama mereka, bukan justru meminggirkannya,” katanya pada Mongabay. Menurut dia, praktik pelestarian bukan hal baru bagi Masyarakat Adat Meratus karena sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Profesor di Departemen Antropologi University of California, Santa Cruz ini mengingatkan, setiap inisiatif konservasi akan berpotensi gagal jika hanya melayani kepentingan elite yang jauh dari kawasan itu. Sebaliknya, pengakuan identitas dan hak masyarakat adat di Meratus jadi kunci menjaga komunitas dan lanskap itu. Jadi, wacana taman nasional di berbagai belahan dunia pun tak lebih dari alasan untuk merampas hak-hak masyarakat adat. Padahal, mereka yang turut membentuk lanskap itu. Taman nasional, justru berisiko merusak wilayah yang hendak dilindungi itu. Pembangunan jalan, misal, bisa menjadi salah satu penyebab pengikisan lahan dan deforestasi. Tidak hanya di Meratus, juga di kawasan pegunungan tropis lainnya. Pembangunan lintasan dengan permukaan keras, katanya, berpotensi menghancurkan bentang alam dengan skala lebih luas. “Penggusuran Masyarakat…This article was originally published on Mongabay
Antropolog Soroti Wacana Hutan Meratus jadi Taman Nasional
Antropolog Soroti Wacana Hutan Meratus jadi Taman Nasional





Comments are closed.