
Sempat terlintas pertanyaan apakah ciptaan Allah—selain manusia—juga berpuasa? Saya lalu membayangkan bagaimana kalau seekor kambing atau sapi disuruh berpuasa. Bagaimana sahurnya? Siapa yang membangunkannya? Bagaimana berbukanya.
Saya tersenyum-senyum sendiri membayangkan pikiran dan imajinasi absurd saya ini. Kok sapi dan kambing disamakan dengan manusia. Ya jelas nggak apple to apple. Maka saya mencoba mencari cari tahu, dengan mengingat-ingat pelajaran Biologi yang diajarkan Pak Tarmono waktu SMP dan diajari oleh Bu Prapti dan Pak Giarto waktu SMA.
Bila kita tilik, puasa ini adalah praktik religius yang dilakukan oleh umat manusia untuk tujuan teologis, spiritual, dan moral. Seiring kemajuan zaman dan berjalannya waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan, konsep ini ternyata tidak hanya berlaku untuk makhluk yang bernama manusia. Tetapi juga untuk makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan.
Memang untuk manusia, karena dia adalah makhluk yang berakal (suka ngeyel), perintahnya jelas. Clearly stated: DIWAJIBKAN atas kamu berpuasa, dst.
Sedangkan untuk makhluk Allah selain manusia, memang tidak ada perintah secara langsung yang turun ‘Wahai kerbau diwajibkan atas kamu untuk berpuasa’. Nggak ada itu. Setidaknya saya belum pernah mendengarnya. Tetapi melalui pelajaran yang diberikan oleh Pak Tar, Pak Gie dan Bu Prapti, saya teringat beberapa istilah seperti: hibernasi, dorman, dan hal-lain yang berhubungan dengan penghematan energi tubuh.
Banyak organisme hidup mengalami periode ketika mereka tidak memperoleh energi dari lingkungan dan harus mengandalkan cadangan energi internal untuk bertahan hidup. Fenomena ini dapat ditemukan pada berbagai tingkat organisasi kehidupan, mulai dari sel, tumbuhan, hewan, hingga manusia.
Pada tingkat sel, kekurangan nutrisi memicu proses adaptif seperti autofagi. Pada tumbuhan, siklus siang dan malam menyebabkan periode ketika fotosintesis tidak dapat berlangsung. Pada hewan, berbagai spesies mengalami periode panjang tanpa makan selama hibernasi atau migrasi.
Fenomena ini kalau kita cermati adalah konsep puasa (menahan diri).
Pada tumbuhan, bila malam tiba maka proses fotosintesis terhenti karena tak ada ultraviolet dari sinar matahari. Sehingga tumbuhan harus menggunakan energi cadangan agar keberlangsungan hidupnya tetap berjalan. Proses ini menggunakan energi cadangan dalam bentuk pati (tepung). Beruntungnya, pemakaian cadangan energi ini tidak di-‘gas-pol’-kan. Karena penguapan di malam hari relatif lebih sedikit.
Selain itu beberapa tumbuhan mengalami dormansi pada musim musim tertentu. Lihatlah tumbuhan/pohon yang meninggalkan umbi-umbiannya selama musim kemarau, dan nanti akan tumbuh lagi ketika musim hujan tiba. Kita lihat lagi fenomena musim gugur di negara-negara empat musim. Daun berubah dari hijau ke kuning lalu ke orange dan merah, dan merah tua lalu gugur. Sangat indah. Tetapi sebenarnya itu adalah metode puasanya tumbuhan dalam menghadapi musim dingin tiba. Sehingga pepohonan yang gugur daunnya akan tinggal batang, cabang, dan rantingnya di musim gugur. Sehingga metabolisme yang terjadi saat musim dingin sangat sangat minim.
Pada hewan, berbagai strategi adaptif memungkinkan organisme bertahan tanpa makanan dalam waktu lama. Contohnya adalah hibernasi pada beruang.
Beruang melakukan hibernasi selama musim dingin dengan berdiam di dalam sarang/gua untuk menghemat energi, mengurangi suhu tubuh, detak jantung, dan pernapasan. Selama 3–7 bulan, mereka tidak makan atau minum, bertahan hidup dengan membakar cadangan lemak dan protein di dalam tubuh. Sebelum ‘berpuasa’ di musim dingin, melakukan sahur dengan cara: beruang makan dalam jumlah besar untuk membangun cadangan lemak yang digunakan sebagai energi selama “puasa” musim dingin.
Lalu perubahan fisiologis yang terjadi adalah metabolisme menurun hingga 50-60%, detak jantung melambat drastis dari 40-50 kali menjadi 8-19 kali per menit, dan pernapasan menjadi lambat. Hibernasi pada beruang tidak selelap hewan lain. Beruang tidak tidur nyenyak sepanjang waktu dan tetap siaga. Mereka bisa bangun jika ada bahaya atau untuk membetulkan posisi tidur.
Dengan proses hibernasi ini beruang kehilangan 15-20% berat tubuhnya, tetapi mereka tidak buang air besar atau kecil, dan memecah lemak tubuh untuk menghasilkan energi serta air. Setelah musim dingin berakhir, beruang akan bangun dengan kondisi tubuh yang lelah dan kurus, lalu langsung mencari makan untuk memulihkan energi.
Ada beberapa hewan yang lain yang melakukan penghematan energi (puasa) dengan cara mereka masing-masing. Penguin Kaisar melakukan puasa reproduktif. Penguin Kaisar jantan melakukan puasa ekstrem selama kurang lebih 65 hingga 120 hari saat musim kawin untuk mengerami telur di tengah badai Antartika. Mereka bertahan hidup hanya dengan cadangan lemak, kehilangan hingga sepertiga berat tubuhnya, demi menjaga telur tetap hangat di kaki mereka hingga menetas.
Ternyata…
Fenomena puasa atau pembatasan energi, merupakan sebuah mekanisme biologis yang ditemukan pada berbagai makhluk ciptaan Allah. Dan pada berbagai macam tingkatan. Pada tingkat sel, proses puasa memicu proses autofagi yang membantu menjaga kesehatan sel. Pada tumbuhan, siklus malam dan dormansi menunjukkan strategi penggunaan cadangan energi. Pada hewan, puasa terjadi dalam berbagai bentuk adaptasi ekologis seperti hibernasi dan migrasi. Pada manusia, puasa memicu perubahan metabolik yang mendukung kesehatan, termasuk proses autofagi.
Nah…., dengan demikian puasa dapat dipahami tidak hanya sebagai praktik spiritual manusia, tetapi juga sebagai prinsip biologis fundamental dalam sistem kehidupan.
Allahu Akbar!
R19




Comments are closed.