● Hiu epaulette Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti) adalah spesies endemik yang hanya ditemukan di perairan Raja Ampat.
● Hiu epaulette atau Mandemor rentan terhadap kerusakan habitat serta perubahan lingkungan, kini statusnya hampir terancam punah.
● Teknologi eDNA bisa membantu upaya konservasi hiu berjalan.
Artikel ini ditulis dalam rangka memperingati International Day for Biodiversity yang digelar setiap 22 Mei.
Kebanyakan dari kita mungkin hanya tahu bahwa ikan hiu itu berpindah tempat dengan cara berenang, tapi tahukah kamu kalau ada juga spesies hiu yang bisa berjalan?
Ya, hiu epaulette atau hiu berjalan (genus Hemiscyllium) adalah salah satu kelompok hiu paling unik di dunia. Ia bisa berjalan di dasar laut dengan menggunakan keempat siripnya.
Perairan timur Indonesia merupakan habitat bagi enam dari sembilan spesies hiu epaulette endemik yang hidup di barat daya Samudera Pasifik. Salah satu spesies hiu epaulette endemik yang hanya bisa kita temukan di perairan Raja Ampat dan sekitarnya, yakni hiu epaulette Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti) atau dikenal dengan nama ‘Mandemor’ oleh masyarakat lokal.
Sayangnya, spesies endemik Raja Ampat ini statusnya hampir terancam punah. Sejak 2023, pemerintah Indonesia telah menetapkan perlindungan penuh untuk semua spesies hiu berjalan di Indonesia.
Untuk mencegah kepunahan spesies langka ini, langkah pertama tentu kita harus mengetahui di mana saja lokasi mereka berada dan bagaimana kondisi populasinya. Masalahnya, mereka adalah hewan nokturnal alias hanya aktif di malam hari.
Menjawab masalah ini, kami peneliti dari Elasmobranch Institute Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Konservasi Indonesia, dan BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat) berkolaborasi membuat teknologi pemindai genetik (eDNA) untuk mendeteksi keberadaan hiu berjalan. Riset ini baru saja terbit di jurnal Environmental DNA.
Pemindai “sidik jari” khusus hiu epaulette
Selama ini, survei populasi hiu epaulette dilakukan mengikuti perilaku hiu yang cenderung aktif pada malam hari. Para peneliti biasanya berjalan menyusuri area terumbu karang atau padang lamun yang dangkal pada saat air surut.

Namun, cara manual ini melelahkan. Selain itu, peneliti malah berisiko bertemu hewan beracun dan ganas, dan justru tidak selalu berhasil menemukan hiu epaulette. Para peneliti lantas menggunakan pendekatan baru, yaitu melalui metode DNA lingkungan (environmental DNA atau eDNA).
Melalui eDNA, hewan dapat terdeteksi lewat jejak genetiknya. Layaknya manusia yang meninggalkan helai rambut atau sel kulit, hewan laut juga meninggalkan jejak materi genetik, berupa lendir, sel, sisa jaringan, atau fragmen organik di dalam air sekitar lingkungan hidupnya.
Dengan analisis jejak materi genetik di air laut, peneliti bisa mengetahui hewan apa saja yang pernah melintas atau berada di sana tanpa harus melihatnya secara langsung.
Tantangannya adalah kebanyakan primer (penanda genetik) untuk eDNA air laut bersifat universal. Alhasil, hampir semua DNA makhluk laut, mulai dari ikan kecil hingga plankton bisa terdeteksi, tetapi kerap tidak bisa mengenali DNA spesifik seperti hiu epaulette.
Untuk itu, tim peneliti mengembangkan penanda genetik baru bernama primer ES-200ND4. Penanda genetik ini “diprogram” untuk mengenali bagian khusus layaknya sidik jari biologis unik dari DNA hiu epaulette, yaitu gen NADH4.
Sederhananya, pemindai khusus ini hanya “berbunyi” jika menemukan jejak hiu epaulette, tanpa terganggu oleh DNA-DNA dari hewan-hewan lain yang ada di air.
Setelah berhasil diuji di laboratorium, penanda genetik baru ini kemudian kami tes di lapangan untuk mendeteksi hiu epaulette di habitat aslinya.
Hasilnya sangat menggembirakan. Teknologi ini berhasil mendeteksi keberadaan hiu epaulette di enam dari tujuh lokasi pengujian.

Momen paling krusial terjadi di perairan Dayan. Informasi keberadaan hiu epaulette di lokasi ini sebelumnya hanya diketahui dari penuturan masyarakat lokal. Sementara survei ilmiah belum pernah mengonfirmasi keberadaannya di sana.
Pengamatan langsung yang dilakukan di siang hari sama sekali tidak menemukan hiu epaulette. Namun, hasil analisis dari sampel air laut menunjukkan sinyal eDNA hiu epaulette berhasil dideteksi dengan kuat. Dengan kata lain, hiu ini terkonfirmasi ada di sana, meski tak kasat mata.
Read more: Teknologi eDNA: Terobosan baru menyingkap kehidupan laut dalam dengan mudah dan murah
Bisa diterapkan kepada spesies langka lain
Inovasi ini menjadi titik balik penting dalam konservasi hiu epaulette. Dengan eDNA dari seember air, peneliti dan pengelola kawasan kini punya alat yang dapat diandalkan, relatif murah, dan tidak mengganggu spesies lain dalam upaya memetakan habitat penting spesies hiu epaulette.
Data dan informasi yang didapatkan dari eDNA bisa membantu pengelola kawasan konservasi dalam sejumlah hal. Mulai dari memverifikasi apakah hiu epaulette ada di lokasi-lokasi tertentu dan juga menentukan lokasi baru untuk perluasan kawasan konservasi.
Selain itu, data dan informasi ini tentu berguna untuk merancang kebijakan konservasi yang lebih tepat sasaran untuk melindungi spesies ini.
Tim peneliti berharap metode eDNA ini bisa diujicobakan di kawasan lain di timur Indonesia yang menjadi habitat bagi lima spesies hiu berjalan lainnya, serta di Papua Nugini yang memiliki hiu epaulette serupa. Dan berikutnya, temuan hasil eDNA ini bisa dilanjutkan untuk meneliti perilaku dan sebaran populasi spesies langka ini lebih luas.
Hiu epaulette adalah “harta karun evolusi” Indonesia timur. Spesies endemik ini tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Namun, tanpa data, strategi penelitian dan konservasi yang efektif, upaya perlindungan tidak akan berhasil.
Dengan memanfaatkan eDNA, kita kini memiliki “mata” baru untuk membaca kehidupan tersembunyi di laut. Hanya dari seember air laut, informasi penting tentang keberadaan salah satu spesies paling unik Indonesia dapat terungkap.
Di tengah ancaman krisis biodiversitas global, teknologi ini memberi harapan baru. Inovasi ilmiah bisa membantu memastikan hiu-hiu pemalu ini tetap berjalan di terumbu karang Raja Ampat dan Indonesia timur untuk generasi yang akan datang.




Comments are closed.