Banjir melanda sejumlah wilayah Jawa Tengah (Jateng) awal 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Senin (19/1/26) setidaknya ada 71.479 jiwa dan ribuan rumah terdampak banjir tersebar di Kabupaten Demak, Kendal, Batang, Pemalang, dan Kota Pekalongan. Di Demak, 3.825 rumahdan lebih 14.000 jiwa terdampak. Di Kendal, banjir melanda 28 desa. Sebanyak 10.700 rumah dan 27.119 jiwa terdampak. Sedangkan di Batang, tercatat ada 18.270 jiwa terdampak. Kemudian di Pemalang, banjir merendam 2.987 rumah dan 12.090 jiwa, serta Kota Pekalongan 8.692 keluarga terdampak. Banjir juga mengenai ribuan hektar lahan pertanian dan fasilitas umum. Bergas Catursasi Penanggungan, Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng mengatakan, banjir masih menggenangi Pekalongan, Kudus, dan Pati pada Kamis, (22/1/26). Pengungsi di Pekalongan pun jumlahnya masih tinggi, sekitar 2.800-an jiwa. Pemerintah Kota Pekalongan juga sudah menetapkan status tanggap darurat bencana pada Minggu, (18/01/26). Bergas belum bisa menyebut jumlah seluruh warga terdampak di Jateng, serta berapa kerugian material secara pasti. Namun dia katakan banyak. “Lebih luas dari itu ya (jika) bicara terdampak,” ujarnya. Kawasan permukiman di Pemalang, Jawa Tengah yang dilanda banjir. Foto: Dokumen warga. Kegagalan tata ruang Nur Cholis, Deputi Direktur Walhi Jateng mengatakan, banjir di Jateng terjadi karena pelbagai faktor, bukan hanya cuaca semata. Salah satu faktornya, kegagalan tata ruang di Jateng. “Krisis ekologis bukan semata karena faktor curah hujan, melainkan akibat kegagalan tata kelola ruang yang tidak berpihak pada perlindungan kawasan hulu dan fungsi ekologis wilayah,” katanya. Banjir di Jateng, merupakan dampak dari laju degradasi lahan dan deforestasi dalam kurun waktu 2014–2024. Merujuk data yang Walhi himpun,…This article was originally published on Mongabay
Banjir Jawa Tengah, Potret Tata Ruang Buruk?
Banjir Jawa Tengah, Potret Tata Ruang Buruk?





Comments are closed.