Balita tewas kena serang monyet peliharaan tetangganya terjadi di Pasean, Pamekasan, Jawa Timur, 1 April lalu. Pegiat satwa menyesalkan kematian balita karena serangan monyet peliharaan ini dan menilai seharusnya tak terjadi kalau pemerintah tegas mengatur jual-beli maupun pemeliharaan primata itu. Kejadian bermula saat korban dan dua anak lain tengah asyik bermain di sekitar rumahnya, lalu seekor monyet berlari dan menyerang mereka dengan agresif. Monyet itu merupakan peliharaan warga lain yang terlepas dari ikatan. Naas, satu anak tidak sempat menyelamatkan diri dan menjadi sasaran gigitan monyet itu. “Akibat serangan itu, korban mengalami luka robek pada paha kanan dan luka robek pada tangan kanan,” kata AKP Gunarto, Kapolsek Pasean, dalam keterangan tertulis yang Mongabay terima. Dia bilang, keluarga langsung membawa korban ke RSUD Waru. Setibanya di sana, balita itu sudah tak bernyawa. Mengutip Detik.com, Gunarto, menyebut, pemilik sudah menangkap dan membunuh monyet itu. “Sudah mati dibunuh oleh pemiliknya. Monyetnya memang kembali ke pemiliknya.” Benvika, Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN), mengatakan, monyet peliharaan lepas kemudian menyerang manusia sering terjadi di Indonesia. “Monyet serang manusia bukan kasus baru. Kejadian seperti ini sering terjadi dan terulang lagi. Kali ini pada akhirnya jatuh korban,” katanya kepada Mongabay, Sabtu (4/4/26). Dalam banyak kasus, katanya, penyebab kejadian karena masih bebasnya perdagangan monyet baik daring maupun luring. Hal ini terlihat di pasar hewan seperti di Jatinegara, Jakarta, pasar satwa dan tanaman hias Yogyakarta (PASTY) dan lain-lain. Di sana, bayi-bayi monyet maupun beruk bebas terpajang. Selain itu, penjualan daring pun menjamur lewat media sosial ataupun marketplace. Parahnya, ada komunitas…This article was originally published on Mongabay
Belajar dari Kasus Monyet Peliharaan Serang Balita di Madura
Belajar dari Kasus Monyet Peliharaan Serang Balita di Madura





Comments are closed.