Penguin afrika (Spheniscus demersus) yang hidup di lepas pantai Afrika Selatan, harus mengalami momen menyedihkan sepanjang 2004 hingga 2011. Mereka terpaksa bertahan hidup tanpa ketersediaan makanan dan bersaing dengan kapal penangkap ikan ukuran besar di lokasi yang sama. Sekitar 62 ribu individu dewasa mati dalam kurun waktu tersebut. Satwa ini menderita kepalaran akut, akibat sarden yang merupakan pakannya, menurun hingga 25 persen karena ditangkap untuk dikonsumsi manusia. Padahal, asupan makanan sangat penting bagi penguin afrika, karena akan menjalani puasa saat berada di darat untuk mengganti bulunya. Penambahan berat badan sebelum puasa menjadi wajib dilakukan, karena mereka tidak bisa berburu seperti di laut. Berat badan yang bertambah menjadi bagian dari evolusi untuk menyimpan cadangan makanan dengan cepat. Selain kelaparan, kematian juga dipicu perubahan lingkungan akibat dampak iklim. Tak hanya di lepas pantai Afrika Selatan, penurunan populasi juga terjadi di seluruh dunia selama 30 tahun terakhir, hingga 80 persen. Richard Sherley, ahli biologi konservasi dari Univesitas Exeter, Inggris, bersama kolega menuliskan penelitian tersebut di jurnal Ostrich 2025. “Kelangsungan hidup dewasa, terutama melalui pergantian bulu tahunan yang krusial, sangat terkait ketersediaan mangsa,” jelasnya. Saat penguin afrika kesulitan mendapatkan sarden di alam karena diambil kapal penangkap ikan, sebenarnya jumlah sarden juga sedang mengalami penurunan di alam. Puncaknya, pada 2006 eksploitasi berlangsung sangat tinggi hingga mencapai 80 persen. Pada 2024, jumlah tersisa penguin diperkirakan kurang dari 10 ribu individu. Menurut Sherley, agar ancaman berkurang, perlu pengurangan eksploitasi pada sarden. Terutama, saat biomassa sarden berada di bawah 25 persen dari kapasitas maksimum. “Bila bisa dilakukan, sarden…This article was originally published on Mongabay
Penguin Afrika dan Jalur Migrasi Burung Laut
Penguin Afrika dan Jalur Migrasi Burung Laut





Comments are closed.