Saat ini, hubungan antar negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer dan dominasi politik. Dalam banyak kasus, kemampuan diplomasi dan komunikasi yang baik ternyata menjadi media yang sangat efektif untuk meredam konflik, menjaga stabilitas dan memperkuat posisi negara tersebut di percaturan politik internasional.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diplomasi diartikan sebagai kecakapan menggunakan pilihan kata yang tepat bagi keuntungan pihak yang bersangkutan. Dalam konteks hubungan internasional, Harold Nicolson, seorang diplomat dan penulis asal Inggris, mendefinisikan diplomasi sebagai upaya mengelola hubungan internasional melalui negosiasi serta metode yang digunakan untuk mengelola hubungan tersebut. (Harold Nicolson, Diplomacy, [London: Oxford University, 1999], hal. 15)
Definisi di atas menunjukkan bahwa diplomasi bukan sekedar instrumen politik yang mengandalkan dominasi kekuasaan. Diplomasi lebih dipahami sebagai cara untuk menyelesaikan masalah dan menjalin hubungan melalui negosiasi dan komunikasi yang bermartabat.
Menariknya, jauh sebelum munculnya teori yang disampaikan oleh Harold dan teori-teori serupa, Al-Quran telah terlebih dahulu mengajarkan prinsip-prinsip diplomasi yang tersebar di dalam berbagai ayatnya. Salah satunya ialah melalui kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis, pemimpin kerajaan Saba’, yang diabadikan dalam Surat an-Naml ayat 20-44.
Dalam tulisan kali ini, penulis akan mengkaji nilai-nilai diplomasi dalam kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis yang melakukan negosiasi dengan kapasitas masing-masing sebagai pemimpin sebuah kerajaan.
Komunikasi sebagai Basis Diplomasi
Kisahnya berawal dari sebuah informasi yang datang kepada Nabi Sulaiman bahwa di Negeri Saba ada sebuah kerajaan makmur yang dipimpin oleh seorang ratu. Namun sayangnya , di tengah kemakmuran dan kesejahteraan yang dirasakan, mereka tidak beriman kepada Allah. Alih-alih menyembah Allah mereka justru menyembah matahari.
Sebagai seorang Rasul, Nabi Sulaiman merasa terpanggil untuk menyampaikan risalah tauhid kepada penduduk Negeri Saba. Menariknya, meskipun beliau seorang raja yang sangat disegani dan ditakuti pada waktu itu, beliau tidak langsung mengirimkan pasukan. Nabi Sulaiman lebih memilih jalur negosiasi dengan mengirimkan surat kepada Ratu Balqis.
Keterangan ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surat an-Naml ayat 28-31. Allah Swt. berfirman:
{اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ (28) قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ (29) إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (30) أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ } [النمل: 28 – 31]
Artinya: “Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan. Dia (Ratu Balqis) berkata, ‘Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri (muslim).” Q.S. An-Naml [27]: 28-31
Ayat di atas memuat penggalan kisah di mana Ratu Balqis menerima surat dari Nabi Sulaiman yang diantarkan oleh burung Hud-Hud. Setelah menerima surat terebut, sang ratu memanggil para pembesar kerajaan untuk mendiskusikan reaksi dan langkah yang akan dilakukan setelah menerima surat tersebut.
Hal yang menarik dari ayat ini adalah ucapan Ratu Balqis yang menyebut surat Nabi Sulaiman sebagai kitābun karīm (surat yang mulia). Dalam Tafsir al-Qurthubi dijelaskan, sebutan itu menunjukkan penghormatan Ratu Balqis terhadap isi surat tersebut. Bahasanya santun, komunikatif, tetapi tetap tegas. (Abu Abdillah Muhammad al-Qurthubi, Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964, juz 13, hlm. 192).
Dengan kemampuan berdiplomasi dan komunikasi yang elegan melalui surat tersebut, Ratu Balqis tertarik dan merasa segan dengan wibawa Nabi Sulaiman. Hal ini yang kemudian menjadi titik awal bagi Nabi Sulaiman meraih kemenangan besar serta keberhasilan dalam mendakwahkan risalah tauhid kepada Negeri Saba’.
Diplomasi Demokratis ala Ratu Balqis
Setelah menerima surat dari Nabi Sulaiman yang dikirimkan melalui burung Hud-Hud, Ratu Balqis kemudian mengumpulkan pejabat-pejabat kerajaan untuk berunding mengenai langkah yang akan ditempuh.
Para pejabat istana kemudian menyarankan agar sang ratu menyiapkan pasukan dalam jumlah besar untuk melawan pasukan Nabi Sulaiman. Mereka menawarkan jalur peperangan karena, secara militer, Negri Saba’ memiliki jumlah pasukan besar, pengalaman dan peralatan tempur yang memadai.
Dengan kondisi tersebut, mereka yakin bisa membela diri bahkan melakukan perlawanan jika sewaktu-waktu Nabi Sulaiman melakukan ekspansi ke wilayah kerajaan Saba’.
Kisah ini, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an Surat An-Naml ayat 32-33. Allah Swt. berfirman:
{قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ (32) قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ} [النمل: 32، 33]
Artinya: “Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu urusan sebelum kamu hadir (dalam majelisku). Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan dan ketangkasan yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu. Maka, pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.”
Ayat di atas menunjukkan kebijaksanaan sang ratu dan para pejabat kerajaannya dalam menjalankan roda pemerintahan. Secara eksplisit, langkah yang dilakukan Ratu Balqis dengan mengajak pejabat istananya untuk memutuskan persoalan hubungan bilateral merupakan bentuk diplomasi demokratis.
Diplomasi demokratis sendiri adalah salah satu jenis diplomasi yang berlangsung secara terbuka dan memperhatikan suara rakyat. Dalam hal ini, upaya Ratu Balqis menyelesaikan masalah hubungan bilateral dengan para pejabat kerajaan menunjukkan kebijaksanaannya dalam menerapkan prinsip demokrasi.
Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan;
ثم استشارتهم في شأن الرد على الكتاب، وهذا من الحكمة والديمقراطية ونبذ الاستبداد
Artinya: “Kemudian Ratu Balqis bermusyawarah dengan mereka mengenai langkah yang harus di ambil untuk menanggapi surat tersebut. ini adalah bentuk kebijaksanaan, penerapan prinsip demokrasi dan menjauhi sikap otoriter.
Jawaban yang diterima Ratu Balqis dari pejabat istananya juga menunjukkan kompetensi dan kesetiaan yang tinggi kepada atasan. Imam ar-Razi menyimpulkan setidaknya ada dua aspek yang menjadi inti jawaban mereka.
Pertama, kesediaan untuk bertempur dengan seluruh kekuatan yang dimiliki jika harus menggunakan jalur militer. Kedua, menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Ratu Balqis dan akan menerima jika harus menerima jalan damai. (Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut: Dar Ihya’ut Turats al-‘Arabi, 1420 H.], juz 24, hal. 555)
Akhirnya, Ratu Balqis memilih jalan damai. Keputusan itu diambil setelah melalui pertimbangan yang matang. Ia berusaha menghindari peperangan. Menurutnya, setiap perang selalu membawa kerusakan. Korbannya bukan hanya para pemimpin atau prajurit, tetapi juga rakyat biasa. Karena itu, ia mengutamakan diplomasi sebagai jalan terbaik untuk mencegah pertumpahan darah dan kehancuran.
Ketika Integritas Nabi Sulaiman Diuji
Berdasarkan hasil musyawarah bersama pejabat istana, Ratu Balqis memilih jalan damai dan berdiplomasi dengan Nabi Sulaiman. Taktik diplomasi sang ratu cukup cerdik. Sebagai langkah awal, ia mengirim utusan untuk membawakan hadiah kepada Nabi Sulaiman. Hadiah yang berisi barang-barang elite dan berharga itu memang dimaksudkan untuk melunakkan hati serta menguji integritas Nabi Sulaiman.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan episode kisah ini dalam Q.S. An-Naml ayat 35-37. Menurut para mufasir, hadiah yang dikirim Ratu Balqis bermaksud untuk menguji siapakah sebenarnya sosok Sulaiman tersebut. Jika menerima hadiahnya, maka Sulaiman hanyalah seorang raja biasa. Namun, ketika ia menolaknya, maka ia adalah nabi dan utusan yang memang sedang menjalankan misi dakwah.
Setelah utusan itu sampai dan menyodorkan hadiah yang dibawa, Nabi Sulaiman dengan tegas menolak semua yang dibawa utusan tersebut. dengan penuh wibawa, Nabi Sulaiman mengatakan kepada utusan tersebut bahwa apa yang ia bawa tidak ada harganya dibandingkan dengan anugerah Allah yang telah diberikan kepadanya.
Dengan ini, strategi diplomasi yang dilakukan ratu Balqis gagal total. Penolakan tegas Nabi Sulaiman terhadap hadiah yang dikirimkan menjadi bukti bahwa ketegasan dan keteguhan pada prinsip merupakan cara efektif untuk mengangkat wibawa di hadapan orang lain.
Dari paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa kisah Nabi Sulaiman dengan Ratu Balqis yang diabadikan dalam Al-Qur’an memuat prinsip-prinsip dasar diplomasi. Namun, jika kita teliti lebih dalam, Al-Qur’an tidak memandang diplomasi hanya sebagai strategi politik. Lebih dari itu, diplomasi adalah bagian dari akhlak bagaimana seharusnya kita menjalin relasi dengan orang lain.
Di tengah situasi kehidupan yang dipenuhi konflik, polarisasi dan ketegangan geopolitik, kisah ini mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu menjadi jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan. Al-Qur’an justru mengajarkan bahwa diplomasi serta kemampuan komunikasi yang baik, santun dan bermartabat sering kali membuka peluang yang tidak dapat diraih dengan dominasi dan ancaman. Wallahu a’lam.
—————-
Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.





Comments are closed.