Audio dibuat menggunakan AI.
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis
KATA PEMRED #67
PinterPolitik.com
Di ujung sebatang ranting, pada pagi tanpa angin, seekor laba-laba mengangkat perutnya ke langit. Ia berjinjit. Ia melepas beberapa helai benang. Lalu ia naik.
Lama orang mengira embusan udaralah yang mengangkatnya. Pada 2018, dua peneliti Universitas Bristol, Erica Morley dan Daniel Robert, menerbitkan percobaan mereka di jurnal Current Biology. Hewan sekecil itu ternyata merasakan medan listrik atmosfer, dan di ruang percobaan medan itu sendiri sudah memicu tubuhnya terangkat. Listrik tidak menggantikan udara. Keduanya bekerja bersama. Makhluk tanpa sayap itu pernah dijumpai pada ketinggian 4 kilometer, ratusan kilometer dari tempat ia menetas.
Dua syarat terbaca di sana, meski para peneliti tidak menuliskannya begitu. Ia harus memintal benangnya sendiri. Ia harus sanggup mengaitkan diri pada medan yang bukan miliknya.
Riwayat Produksi Film Negara memanggil kembali laba-laba itu. Setelah audiensi pada Juli 2025, Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong PFN menjelma pusat konten negara. Rencananya membentang dari distribusi dan promosi sampai modal ventura, ekspor, dan pengelolaan kekayaan intelektual. Lalu ia tersangkut pada perkara yang selalu sama, pembiayaan, sebab pelaku kreatif rata-rata tidak menggenggam jaminan yang diakui perbankan. Gagasan tidak bisa diagunkan.
Seluruh rancangan itu berdiri sebagai penopang industri. Tidak satu bagian pun darinya dirancang sebagai lapisan suara.
Sebuah republik berdiri di atas tiga lapisan. Yang paling bawah terbuat dari jalan, pelabuhan, pembangkit, dan kabel yang menyeberangi laut. Yang di tengah terbuat dari bank, pasar modal, dan dana kelolaan negara. Yang paling atas terbuat dari suara. Bukan siaran, melainkan kesanggupan sebuah bangsa menafsirkan dirinya kepada dunia, lalu didengar ketika ia melakukannya.
Dua lapisan pertama kita bangun dengan tekun selama delapan puluh tahun. Lapisan ketiga belum pernah berdiri sebagai satu sistem. Yang ada hanyalah pecahan yang bekerja sendiri-sendiri. Isinya kita biayai satu proyek demi satu proyek, lalu kita bertanya-tanya mengapa ia tidak pernah terbang.
Negara mendanai produksi, bukan membangun lapisan. Anggaran habis ketika proyeknya usai. Festival bubar, filmnya tayang, tepuk tangan reda, dan yang tersisa jarang berupa aset yang masih bekerja pada tahun berikutnya.
Benang itu tidak tumbuh tanpa kapital. Perkara jaminan yang menyandera PFN bukan soal teknis perbankan, melainkan soal jenis uang. Bank bekerja dengan agunan berwujud benda dan tenor pendek. Industri konten hanya menggenggam hak, dan hak baru berbuah setelah bertahun-tahun. Yang dibutuhkan ialah kapital berdurasi panjang, yang berani menakar kekayaan intelektual sebagai aset dan memegangnya sebagai portofolio, dengan kesediaan menanggung bahwa sebagian besar karya akan gugur dan sebagian kecil membiayai semuanya.
Kapital saja hanya menerbangkan corong, jika rumahnya keliru.
Kredibilitas bukan hiasan moral di ujung proposal. Kredibilitas adalah daya angkut. Ia yang menentukan sebuah suara naik atau jatuh kembali ke tanah.
Ilmunya sudah lama tegak. Pada 1951, Carl Hovland dan Walter Weiss menunjukkan bahwa pesan yang persis sama menggerakkan sikap secara berbeda, semata-mata karena siapa yang mengucapkannya. Enam dasawarsa kemudian Joseph Nye, yang memperkenalkan gagasan soft power, merumuskannya tanpa selubung. Propaganda terbaik bukanlah propaganda, dan di zaman informasi kredibilitas adalah sumber daya paling langka.
Tiongkok menanam modal raksasa pada penyiaran luar negerinya. Dalam pengukuran Gallup, CGTN ditonton 0,7 persen orang dewasa Vietnam. Di Nigeria angkanya 3,7 persen, kira-kira seperempat audiens BBC di negeri itu. Di Pantai Gading, siaran radio internasional Tiongkok didengar kurang dari 1 persen penduduk, sementara BBC menyentuh 13,7 persen.
Angka berbalik pada lembaga yang tidak dibangun sebagai corong. BBC World Service hidup dari iuran pemirsa Inggris dan sebagian dana pemerintah, tetapi pemerintah itu tidak menyunting isinya. Ia menjangkau 355 juta orang setiap pekan, dan 76 persen jangkauannya berada di negara dengan kebebasan pers yang rendah. Ia tentu bukan percobaan yang bersih. Ia mewarisi bahasa dunia dan jaringan yang dirawat berpuluh tahun.
Jerman menulis pemisahan itu ke dalam undang-undang. Deutsche Welle hidup hampir sepenuhnya dari anggaran federal, lewat pos kebudayaan dan media pemerintahnya. Namun Undang-Undang Deutsche Welle melarang pemerintah memberi arahan atas rancangan siaran dan keputusan redaksi. Pagar itu tidak steril. Pemerintah dan parlemen boleh mengomentari rencana kerja DW, dan DW wajib menjelaskan bila ia menempuh jalan lain. Keputusan akhirnya tetap miliknya. Uangnya milik negara. Suntingannya tidak.
Al Jazeera menunjukkan harga sebuah suara. Pada 2017, penutupannya masuk ke dalam tuntutan resmi negara-negara tetangga yang memblokade Qatar. Tuntutan itu mengakui apa yang hendak dibungkamnya, bahwa jaringan itu didengar.
Jangkauan bisa dibeli. Daya angkut tidak. Negara memanen pengaruh paling besar justru pada bagian yang ia lepaskan kendalinya. Medan listrik itu milik atmosfer, bukan milik laba-laba. Ia hanya bisa dikaitkan, tidak bisa dimiliki.
Ada yang akan berkata bahwa ekspor hiburan sudah memadai, dan bahwa keragaman kreator lebih dipercaya ketimbang satu lembaga. Sebagian benar. Namun drama, musik, dan gim menjual sebuah negeri tanpa menjelaskannya. Sebuah lagu tidak pernah diminta menerangkan sebuah kerusuhan. Ketika kawasan ini menjadi berita, yang dicari dunia bukan katalog, melainkan penafsir yang bisa dipercaya.
Ada pula yang akan berkata bahwa bentuk itu sudah kita miliki. Radio Republik Indonesia dan Televisi Republik Indonesia berstatus lembaga penyiaran publik sejak Undang-Undang Penyiaran 2002, dan kemerdekaan redaksinya bersandar pada undang-undang. Betul. Namun kemerdekaan itu tidak pernah dipasangkan dengan kapital jangka panjang maupun mandat mengelola kekayaan intelektual. Yang satu diberi hak berkata tidak tanpa diberi benang. Yang satu dirancang memintal benang tanpa pernah diberi hak itu.
Lapisan ketiga menuntut tiga hal, dan ketiganya keras kepala.
Tidak ada bangsa yang terbang dengan meminjam sayap orang lain. Selama peristiwa di halaman kita terutama ditafsirkan oleh redaksi yang bermarkas jauh dari kawasan ini, kita hanya penumpang di udara sendiri.
Kemerdekaan redaksi bukan konsesi negara kepada wartawan. Ia mesin yang mengubah belanja negara menjadi pengaruh, bukan sekadar tayangan.
Dan desain kelembagaan yang datang sesudah uang tidak pernah mengejar ketinggalannya.
Negara membiayai, negara tidak menyunting. Pemisahan itu ditegakkan dengan kontrak berjangka panjang, dewan penyunting yang tidak bisa dicopot per kuartal, dan pendanaan yang tidak dibuka ulang setiap kali sebuah liputan menyinggung pejabat. Prinsip ini tidak menunjuk siapa pun. Ia berlaku bagi PFN yang bertransformasi, bagi lembaga penyiaran publik yang dibenahi, bagi badan yang belum lahir, bahkan bagi patungan dengan swasta. Ia berlaku pula entah uangnya datang dari anggaran, dari dana abadi, atau dari dana kelolaan. Aturannya sederhana, dan melanggarnya sengaja dibuat mahal. Harga itulah yang membuat janjinya dipercaya.
Sebuah keluarga mempertaruhkan cerita yang membesarkan anak-anaknya. Seorang anak muda mempertaruhkan apakah bakatnya tumbuh menjadi aset miliknya sendiri atau kerja borongan bagi platform asing. Seorang pejabat memegang instrumen kebijakan luar negeri yang paling murah dan paling jarang dipakai. Dan bangsa berpenduduk 280 juta jiwa mempertaruhkan apakah ia masih perlu menunggu kantor berita asing untuk tahu arti peristiwa di halaman rumahnya sendiri.
PFN tidak tersangkut karena orang-orangnya kurang bersemangat. Ia tersangkut karena diminta terbang dengan uang yang dirancang membeli benda, dan dengan rumah yang tidak pernah dirancang menampung suara.
Pagi itu laba-laba naik tanpa sayap. Ia hanya memintal benangnya sendiri, lalu mengaitkan diri pada medan yang sedari lama menggantung di atas kepalanya.
Medan itu ada di atas kita juga. Ketika kawasan ini menjadi berita, kursi bagi suara yang bermodal cukup dan cukup merdeka untuk membantah pemodalnya masih kosong.
Kita masih berdiri di ujung ranting. Angin bukan masalahnya.
*********************
Tentang Penulis
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis
Hak cipta dilindungi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.





Comments are closed.