Tue,18 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Gen Z Bikin Negara Kepulauan Baru?

Gen Z Bikin Negara Kepulauan Baru?

gen-z-bikin-negara-kepulauan-baru?
Gen Z Bikin Negara Kepulauan Baru?
service

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Gen Z dan Boomer kini menonton dunia yang berbeda dari layar yang sama. Apakah algoritme diam-diam memecah Indonesia menjadi negara kepulauan baru?


PinterPolitik.com

“Print-capitalism gave a new fixity to language, which in the long run helped to build that image of antiquity so central to the subjective idea of the nation.” 

– Benedict Anderson, Imagined Communities (1983)

Cupin, seorang perancang konten berusia dua puluh empat tahun, pernah mengira ia dan ayahnya menonton internet yang sama. Ia baru sadar keliru ketika keduanya duduk berdampingan sambil menggenggam ponsel masing-masing.

Di layar Cupin mengalir potongan video pendek berdurasi belasan detik, lengkap dengan lelucon brainrot dan istilah yang berganti tiap pekan. Di layar sang ayah, seorang baby boomer, berseliweran video ceramah panjang, kutipan motivasi berbingkai bunga, dan tautan berita yang diteruskan dari grup keluarga.

Keduanya membuka aplikasi yang secara teknis serupa, tetapi mesin di baliknya menyajikan dua dunia yang nyaris tidak beririsan. Cupin fasih dengan tren hipdut dan lagu-lagu no na yang viral di kalangan sebayanya, sementara ayahnya sama sekali tidak mengenali satu pun di antaranya.

Sebaliknya, sang ayah hafal betul lagu-lagu Koes Plus dan tokoh-tokoh wayang yang bagi Cupin terasa seperti artefak dari peradaban asing. Percakapan mereka soal budaya populer sering kali berhenti di tengah jalan karena tidak ada rujukan bersama yang bisa dijadikan jembatan.

Fenomena ini bukan sekadar perbedaan selera antargenerasi yang lazim terjadi sejak dulu. Yang berbeda kali ini adalah tidak adanya “arus utama” tunggal yang bisa mereka rujuk bersama sebagai titik temu.

Dulu, seluruh keluarga menonton siaran televisi yang sama pada jam yang sama, sehingga percakapan lintas usia punya bahan bersama. Kini, algoritme merekomendasikan konten yang begitu personal sampai ayah dan anak seolah tinggal di dua pulau yang terpisah lautan.

Maka, muncul dua pertanyaan yang menggantung. Mengapa mesin yang sama justru menghasilkan dunia yang berbeda-beda, dan benarkah teknologi ini sedang membawa peradaban kita mundur ke belakang?

Algoritme yang Memundurkan Kepulauan

Cupin mulai menduga bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar perbedaan aplikasi. Dugaannya menemukan sandaran ketika ia membaca gagasan sejarawan Benedict Anderson dalam bukunya, Imagined Communities.

Anderson berargumen bahwa bangsa adalah “komunitas terbayang”, yaitu jutaan orang yang tidak saling kenal, tetapi merasa menjadi satu kesatuan. Mesin yang membuat imajinasi itu mungkin, menurutnya, adalah kapitalisme cetak yang menstandarkan dialek-dialek lokal menjadi satu bahasa pasar melalui koran dan buku.

Ketika ribuan orang membaca koran yang sama di pagi yang sama, lahirlah rasa keserentakan, yaitu perasaan bahwa ada orang lain di luar sana yang menjalani hari yang sama. Dari benih inilah, kata Anderson, gagasan tentang bangsa modern tumbuh dan mengeras.

Cupin lantas menyadari sebuah ironi yang tajam. Jika mesin cetak, radio, dan televisi adalah mesin yang menyatukan selera menuju satu titik temu, maka algoritme rekomendasi bekerja dengan logika yang persis kebalikannya.

Televisi bertanya, “apa yang disukai kebanyakan orang”, sedangkan algoritme bertanya, “apa yang tidak bisa kau lepaskan”. Pergeseran dari kata “kebanyakan” menuju kata “kau” itulah yang diam-diam memecah kembali daratan budaya menjadi kepulauan.

Contoh dari luar negeri memperjelas gejala ini. Aktivis Eli Pariser dalam bukunya, The Filter Bubble, sudah memperingatkan sejak 2011 bahwa personalisasi algoritmik akan mengurung tiap orang di dalam semesta informasinya sendiri.

Di Amerika Serikat, gejalanya terasa dramatis, sebab final serial M*A*S*H pada 1983 pernah ditonton puluhan juta rumah tangga secara serentak, sementara kini tidak ada satu pun tontonan yang mampu mengumpulkan perhatian sebesar itu. Diskursus di sana pun ramai menyebut tahun 2025 sebagai “kematian monoculture“, yaitu berakhirnya momen budaya yang dinikmati bersama.

Menariknya, tidak semua negara menyerah pada arus ini. Korea Selatan justru sengaja merekayasa sebuah benua budaya baru lewat K-pop, dengan salah satu grupnya saja disebut menyumbang miliaran dolar bagi ekonomi nasional, sehingga fragmentasi diubah menjadi aset.

Cupin pun paham bahwa arah teknologi ini tidak sepenuhnya netral. Ia bisa memundurkan struktur budaya ke era pra-cetak, tetapi arahnya masih bisa dibelokkan oleh pilihan sebuah bangsa.

Namun, satu hal masih mengganjal di benaknya. Jika struktur budaya kita memang sedang kembali menjadi kepulauan, lalu siapa yang menanggung akibatnya, dan apa artinya semua ini bagi Indonesia hari ini?

Kepulauan Baru dan Ujian bagi Negara

Cupin akhirnya menyimpulkan bahwa Indonesia menghadapi ironi yang unik. Bangsa ini adalah arkipelago harfiah, yaitu ribuan pulau yang dulu dipaksa menjadi satu melalui bahasa Indonesia, radio, dan koran, persis seperti tesis Anderson.

Kini algoritme melakukan operasi yang berkebalikan pada tubuh bangsa yang sama. Satu “komunitas terbayang” nasional perlahan terurai menjadi ribuan pulau selera yang tidak lagi berbagi peta bersama.

Cupin menyebut kondisi ini sebagai “arkipelago algoritmik”, yaitu keadaan ketika batas antarkomunitas tidak lagi ditentukan oleh geografi atau ideologi, melainkan oleh selera yang dikurasi mesin. Secara struktural, kondisi ini menyerupai dunia pra-modern, tetapi pulau-pulaunya tidak terlihat di peta mana pun.

Ada satu perbedaan penting yang perlu dicatat. Peradaban lampau memang terpisah dalam ruang, tetapi tiap peradaban tetap bergerak dalam waktunya sendiri.

Sebaliknya, kepulauan algoritmik cenderung membekukan waktu, sebab seluruh arsip masa lalu tersaji serentak dan diberi bobot yang sama oleh mesin. Gen Z, kata sejumlah analis budaya, hidup di dalam sebuah arsip raksasa tempat lagu era 1970-an dan tren pekan ini bersaing di ruang yang sama.

Bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, gejala ini menghadirkan tantangan yang layak dibaca jernih. Fenomena seperti tagar #KaburAjaDulu yang sempat ramai di kalangan Gen Z menandakan bahwa daratan kebangsaan perlu terus dirawat agar tetap memikat di tengah gempuran pulau-pulau selera global.

Tantangan ini sesungguhnya juga sebuah peluang besar. Teoretikus poskolonial Homi Bhabha dalam bukunya, The Location of Culture, menawarkan konsep hibriditas, yaitu ruang ketiga tempat yang lokal dan yang global melebur menjadi identitas baru yang justru lebih kuat.

Riset akademik pun menunjukkan bahwa Gen Z Indonesia tidak sepenuhnya pasif terhadap arus asing. Sebuah studi tahun 2025 dalam jurnal “Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology” menemukan bahwa mereka tetap mengangkat budaya lokal di TikTok, meski dalam bentuk yang lebih adaptif dan diestetisasi.

Maka dari itu, strategi yang bekerja bukanlah memaksakan kembali “arus utama” tunggal ala era siaran. Yang lebih menjanjikan adalah menaikkan pulau-pulau budaya lokal ke dalam logika algoritma, sehingga identitas kebangsaan hadir sebagai jangkar yang menarik untuk dikurasi, bukan sebagai seragam yang harus dipakai.

Pada akhirnya, Cupin menyadari bahwa pertanyaan tentang kepulauan baru ini jauh lebih tua daripada teknologinya sendiri. Yang benar-benar dipertaruhkan bukanlah nostalgia atas budaya bersama yang memudar, melainkan pertanyaan klasik tentang siapa yang berhak menggambar batas di antara pulau-pulau kita, dan dalam bahasa siapa peta itu ditulis. 

Selama sebuah bangsa mampu terus merawat daratan bersamanya sambil menghormati keberagaman pulau-pulaunya, arkipelago algoritmik tidak perlu menjadi ancaman, tetapi bisa berubah menjadi kekayaan yang memperkaya wajah Indonesia di era digital. (A43)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.