Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Bioenergi Malapari, Bahan Bakar Masa Depan dari Pesisir

Bioenergi Malapari, Bahan Bakar Masa Depan dari Pesisir

bioenergi-malapari,-bahan-bakar-masa-depan-dari-pesisir
Bioenergi Malapari, Bahan Bakar Masa Depan dari Pesisir
service

Di bawah atap Gedung Utama Indonesia Convention Center (ICC) di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, riuh rendah suara manusia beradu dengan kilau lampu pameran. Pertengahan Juli 2026 menjadi panggung bagi Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memamerkan masa depan yang mereka racik di laboratorium. Di salah satu sudut etalase tematik bertema energi, perhatian pengunjung tersedot pada untaian biji-bijian kering dan botol-botol berisi cairan minyak keemasan.

Itulah minyak dari biji Malapari (Pongamia pinnata). Bagi masyarakat pesisir atau mereka yang akrab dengan lanskap mangrove, malapari bukanlah sosok asing. Pohon ini kokoh berdiri menantang asinnya ombak dan gersangnya pasir pantai, sering kali dianggap sekadar peneduh atau penjaga benteng abrasi alami. Namun di tangan para peneliti, tanaman pesisir ini sedang bersiap memikul beban yang jauh lebih besar: membebaskan Indonesia dari ketergantungan energi fosil.

Oase di Tanah Kritis

Selama beberapa dekade, narasi transisi energi Indonesia kerap terjebak dalam dilema “pangan versus energi”. Perluasan kebun sawit untuk program biodiesel berulang kali menuai kritik karena dituding memicu deforestasi hutan alam dan mengorbankan lahan pertanian produktif. Di sinilah malapari masuk sebagai sebuah antitesis yang menjanjikan.

Danu, seorang peneliti di Pusat Riset Botani Terapan BRIN yang tergabung dalam Kelompok Riset Teknologi Makropropagasi, berdiri di depan etalase dengan mata berbinar saat menjelaskan keistimewaan tanaman ini. Menurut Danu, keunggulan mutlak malapari terletak pada ketangguhannya menempati ruang-ruang yang ditolak oleh tanaman pangan.

“Malapari adalah penyintas lahan marjinal,” kata Danu. “Ia mampu tumbuh subur di tanah-tanah kritis yang miskin hara, wilayah pesisir yang terpapar salinitas tinggi, hingga kawasan kering yang gersang.”

Rahasia ketangguhan malapari tertanam di dalam tanah. Sistem perakarannya dilengkapi dengan bintil-bintil akar biologis yang memiliki kemampuan luar biasa untuk mengikat nitrogen bebas dari udara. Alih-alih menguras nutrisi tanah seperti kebanyakan tanaman monokultur komersial, kehadiran malapari justru bertindak sebagai tabib bagi bumi—memperbaiki struktur tanah, mengembalikan kesuburan, dan memulihkan ekosistem yang sempat mati suri. Pucuk-pucuk hijaunya menawarkan fungsi ganda: merestorasi lahan kritis sekaligus memanen energi bersih secara simultan.

Dari Lahan Kritis ke Energi Bersih, BRIN Ungkap Potensi Besar Malapari
Dari Lahan Kritis ke Energi Bersih, BRIN Ungkap Potensi Besar Malapari

Dari Biodiesel hingga Langit yang Bersih

Potensi terbesar malapari tersimpan rapat di dalam bijinya. Biji-biji berbentuk lonjong tersebut mengandung kadar minyak nabati yang sangat pekat. Melalui serangkaian proses ekstraksi dan pemurnian di laboratorium BRIN, minyak mentah tersebut telah berhasil dikonversi menjadi biodiesel cair berstandar tinggi.

Namun ambisi BRIN tidak berhenti di tangki bahan bakar kendaraan darat. Minyak malapari kini tengah dibidik untuk merevolusi industri penerbangan global melalui pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Industri penerbangan global, yang selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di atmosfer, tengah berkejaran dengan waktu untuk mencari alternatif avtur fosil. Malapari menawarkan jawaban dari tanah ekuator.

“Kami telah membuktikan di laboratorium bahwa minyak malapari sukses diolah menjadi biodiesel. Langkah strategis berikutnya adalah mematangkan potensinya sebagai SAF. Ini peluang besar bagi Indonesia untuk memimpin pasar avtur hijau dunia,” urai Danu optimistis.

Menariknya, pemanfaatan malapari menganut prinsip nihil limbah (zero waste). Pohon ini tidak menyisakan ruang bagi kesia-siaan. Bungkil atau ampas padat yang tersisa dari proses pemerasan biji mengandung protein tinggi yang berpotensi besar untuk diolah menjadi pakan ternak berkualitas. Sementara itu, daun-daun hijaunya yang rimbun tidak dibiarkan membusuk begitu saja; BRIN tengah menjalin kolaborasi riset dengan mitra industri untuk mengekstrak kandungan aktif di dalam daun malapari sebagai bahan baku produk perawatan kulit (skincare).

Merajut Rantai Pasok, Menembus Pasar Global

Potensi luar biasa di atas kertas akan berakhir menjadi pajangan laboratorium jika tidak ditopang oleh ekosistem industri yang nyata. Menyadari hal tersebut, Kelompok Riset Teknologi Makropropagasi BRIN mulai merajut kemitraan strategis dari hulu ke hilir. Langkah hilirisasi ini melibatkan jaringan korporasi dan instansi pemerintah, mulai dari PT SANTI Group, Four Pride, PT SANTI Energi Hijau, PT Rumah Tani Nusantara, PT Pinna Foresta Raya, hingga Kementerian Kehutanan.

Tantangan terbesar dalam industri bioenergi baru selalu berkisar pada konsistensi pasokan bahan baku (feedstock). Banyak pabrik pengolahan kolaps karena kehabisan pasokan biji, sementara petani enggan menanam karena belum ada kepastian pasar. Untuk memutus lingkaran setan ini, BRIN menerapkan strategi paralel.

“Kami sedang merintis pembangunan kawasan inti (pilot project) penanaman malapari di beberapa wilayah potensial,” jelas Danu. “Pengembangan lahan ini berjalan beriringan dengan penyiapan infrastruktur pengolahan. Jadi, saat pohon-pohon ini mulai panen raya dan pasokan bijinya melimpah, mesin-mesin pabrik pengolahan sudah siap menyerapnya tanpa jeda.”

Dalam ekosistem ini, Pusat Riset Botani Terapan BRIN mengambil peran vital di sektor hulu: memroduksi benih dan bibit unggul melalui teknologi makropropagasi. Bibit-bibit pilihan ini dirancang untuk memiliki masa tumbuh yang lebih cepat dan produktivitas buah yang jauh lebih tinggi dibanding tegakan malapari liar di alam.

Danu menambahkan, setelah kawasan inti ini mapan dan formula bisnisnya teruji, BRIN dan mitranya akan mulai membuka pintu lebar-lebar bagi skema kemitraan dengan masyarakat lokal. Lahan-lahan kritis milik warga yang selama ini telantar dan tidak menghasilkan, akan didorong untuk ditanami malapari. Dengan demikian, transisi energi tidak hanya menjadi agenda elit di Jakarta, melainkan menjadi motor penggerak ekonomi baru yang menyejahterakan masyarakat pesisir dan pedesaan.

Napas ramah lingkungan dan prospek ekonomi yang ditawarkan malapari rupanya telah memicu radar investasi internasional. Minat dari korporasi global, termasuk dari Jepang, dilaporkan sangat tinggi. Mereka mulai melirik Indonesia bukan lagi sebagai importir minyak fosil, melainkan sebagai produsen komoditas bioenergi hijau yang kompetitif dan berkelanjutan di kancah global.

Matahari mulai condong ke barat di Cibinong, namun diskusi di sudut etalase energi ORHL BRIN masih terus hangat. Malapari, si penjaga pantai yang selama ini sunyi dalam balutan ombak, kini sedang bersiap melebarkan sayapnya. Dari akar yang memperbaiki tanah, hingga minyak yang menerbangkan pesawat di angkasa, tanaman ini membawa pesan kuat: bahwa solusi atas krisis iklim global mungkin tidak tertimbun jauh di dalam perut bumi, melainkan tumbuh subur di sepanjang garis pantai ekuator kita.


Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.