Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Koalisi Perempuan Indonesia Kritik Proses Transisi Energi

Koalisi Perempuan Indonesia Kritik Proses Transisi Energi

koalisi-perempuan-indonesia-kritik-proses-transisi-energi
Koalisi Perempuan Indonesia Kritik Proses Transisi Energi
service

Di balik megahnya narasi dekarbonisasi global dan ambisi transisi menuju energi bersih, tersimpan realitas kelam yang luput dari sorotan kamera penandatanganan memorandum. Di wilayah-wilayah lingkar tambang batu bara dan konsesi mineral kritis, kaum perempuan terus menanggung beban kerusakan lingkungan paling berat tanpa pernah diberikan kursi di meja perundingan.

Deru mesin alat berat bergemuruh membelah keheningan desa, menyisakan debu tebal yang menutupi dedaunan dan menyelinap ke ventilasi dapur rumah-rumah warga. Sumber air yang dahulu jernih kini berubah warna, memaksa para ibu berjalan lebih jauh mencari mata air tersisa demi kelangsungan hidup keluarganya. Pola kepedihan inilah yang secara konsisten membayangi kawasan-kawasan ekstraktif di Indonesia. Ketika lingkungan hidup didegradasi atas nama pembangunan, perempuan selalu berada di garis depan penerima dampak terburuk.

Beban berlapis ini bukanlah sekadar komparasi angka statistik, melainkan kenyataan hidup sehari-hari. Mulai dari pencemaran sumber air bersih, gangguan kesehatan kronis yang menyerang anak-anak, hingga hilangnya mata pencaharian tradisional—semuanya bermuara pada membengkaknya beban kerja domestik perempuan. Ironisnya, saat keputusan besar mengenai penghentian operasional batu bara atau pembukaan proyek mineral kritis dirumuskan, suara mereka justru senyap, teredam oleh riuh kesepakatan para elite.

Presidium Nasional Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Farida Indriani, melayangkan kritik tajam terhadap proses transisi energi saat ini yang dinilainya masih bias gender dan eksklusif.
Presidium Nasional Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Farida Indriani, melayangkan kritik tajam terhadap proses transisi energi saat ini yang dinilainya masih bias gender dan eksklusif.

Kursi Kosong di Meja Perundingan

Dalam perhelatan Sidang Umum Fair Finance Asia (FFA) 2026 yang digelar di Jakarta, ketimpangan struktural ini mencuat menjadi sorotan utama. Presidium Nasional Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Farida Indriani, melayangkan kritik tajam terhadap proses transisi energi saat ini yang dinilainya masih bias gender dan eksklusif.

“Perempuan secara konsisten tidak berada di meja perundingan ketika keputusan tentang penghentian batu bara maupun proyek mineral kritis dibuat,” ungkap Farida Indriani, Presidium Nasional KPI

Farida menegaskan bahwa pelibatan perempuan tidak boleh lagi diposisikan sebagai formalitas belaka atau sekadar “konsultasi pelengkap” setelah sebuah proyek berjalan dan konflik sosial terlanjur meletus. Menuruti alur seperti itu sama saja dengan melanggengkan marjinalisasi. Perempuan, terutama dari komunitas adat dan masyarakat lokal, wajib diakui secara hukum dan de facto sebagai pemegang hak (rights holders) sekaligus pengambil keputusan yang sah.

Menurut pandangan KPI, transisi energi yang benar-benar adil harus dirancang secara partisipatif sejak tahap perencanaan awal. Desain proyek energi bersih—sejak coretan pertama di atas kertas kebijakan—harus sudah mengintegrasikan kebutuhan mendasar komunitas lokal. Hak atas air bersih, jaminan layanan kesehatan reproduksi dan keluarga, perlindungan basis ekonomi mandiri perempuan, hingga mekanisme pembagian manfaat yang transparan serta saluran pengaduan yang responsif gender, wajib menjadi fondasi utama.

Mengulang Siklus Eksploitasi

Kekhawatiran bahwa agenda hijau global hanya akan menjadi topeng baru bagi eksploitasi gaya lama diutarakan pula oleh Victoria Fanggidae, Direktur Eksekutif The PRAKARSA. Indonesia saat ini menempati posisi yang sangat strategis sekaligus rentan dalam lanskap energi global. Di satu sisi, Indonesia masih bergelut melepaskan ketergantungan tingginya dari batu bara. Di sisi lain, Indonesia adalah produsen nikel terbesar di dunia—sebuah komoditas mineral kritis yang diperebutkan sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik dan teknologi masa depan.

Victoria mengingatkan agar lonjakan permintaan terhadap mineral kritis ini tidak mengulangi dosa-dosa ekologis dan sosial yang telah menahun dilakukan oleh industri batu bara. Transisi energi seharusnya memutus rantai ketimpangan, bukan sekadar memindahkan lokasi kerusakan geografi dari lubang tambang batu bara ke konsesi nikel.

“Jika masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tambang dan fasilitas pengolahan tidak diperlakukan sebagai mitra yang setara dan tidak memperoleh manfaat yang adil, maka kita hanya akan mengganti satu bentuk eksploitasi dengan bentuk ketimpangan yang lain,” papar Victoria.

Indikator Keadilan yang Baru

Melalui sudut pandang ini, keberhasilan transisi energi di Indonesia sudah saatnya didefinisikan ulang secara radikal. Indikator keberhasilan tidak boleh lagi hanya diukur secara kuantitatif melalui persentase penurunan emisi karbon atau jumlah gigawatt pembangkit listrik ramah lingkungan yang berhasil dibangun. Indikator sejati dari transisi yang adil adalah sejauh mana komunitas lokal, khususnya kaum perempuan, mendapatkan pemulihan keadilan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup secara adil.

Selama suara kaum perempuan di lingkar tambang tetap diabaikan, maka label ‘keadilan’ yang ditempelkan pada agenda transisi energi hanyalah sebuah ilusi kosmetik. Masa depan hijau yang berkelanjutan tidak akan pernah bisa dibangun di atas fondasi pemiskinan struktural dan penyingkiran hak-hak perempuan. Perubahan arah kebijakan harus dimulai sekarang: buka pintu ruang sidang, tarik kursi untuk mereka, dan dengarkan sejak awal.


Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.