
Memasuki sepertiga bulan Ramadlan. Semakin banyak kekurangan yang disadari. Semakin banyak yang harus dan mestinya dikerjakan. Semakin keteteran irama hidup pagi, siang, dan malam.
Sambil mengunci pintu, saya tengok ke luar, langit terang karena terlihat bintang-bintang berkedip. Maklum beberapa hari terakhir ini selalu diguyur hujan deras disertai angin. Tapi malam ini langit begitu cerah, disertai udara yang sejuk.
Saya mikir, apakah ini tanda laitul qadar. Menurut para ulama, lailatul qadar ditandai dengan salah satunya langit yang terang. Tanda tanda fisik lailatul qadar adalah suasana malam yang tenang, damai, serta udara sejuk yang tidak panas maupun dingin.
Hmmm, tanda alamnya mirip dengan tanda-tanda yang disebut para Ulama.
Saya membatin sambil melangkah keluar pagar halaman menuju masjid. Saya jadi GR.
Jangan-jangan saya ketiban malam Lailatul Qodar kali ini. Saya bergumam.
Ah tapi saya kok nggak yakin. Saya jadi bimbang. Masak manusia macam saya kok dapat lailatul qadar. Nggak pantes lah.
Diperbolehkan masuk ke halaman Masjid-Nya saja saya sangat senang dan bersyukur. Apalagi ketiban lailatul qadar, tentu akan bahagia tak terperi.
Saya susuri jalan aspal dan belok masuk ke gang kampung, menuju masjid Al-Muhajirin.
Sambil jalan pelan saya mengingat-ingat, apa yang mesti saya lakukan ketika menjalani i’tikaf. ibadah sunnah yang sangat dianjurkan terutama pada sepertiga akhir bulan Ramadhan dan sepertiga malam terakhir.
Makna leksikal i’tikaf adalah: berdiam diri. Sedangkan pengertian yang lebih praktikal adalah: berdiam diri atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT, disertai dzikir, membaca Al-Qur’an, shalat, dan memohon ampunan, guna mendekatkan diri kepada-Nya. Ibadah ini dimaksudkan agar kita bisa meraih keutamaan lailatul qadar. Sesuatu yang sangat didambakan oleh setiap muslim.
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Innâ anzalnâhu fî lailatil-qadr. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
Wa mâ adrâka mâ lailatul-qadr. “Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”
Pelan saya lafalkan ayat ini.
Siang tadi saya bertanya ke Yai redaktur senior tentang lailatul qadar apakah lailatul qadar harus terjadi pada malam hari.
Sebuah pertanyaan bodoh, bahkan sangat bodoh. Kenapa begitu? karena namanya juga lailatul qadar. Lail dan qadar. Malam dan ketetapan/kemuliaan. Ya jelas mesti malam dong. Saya tanya sendiri, saya jawab sendiri.
“Ke mana ini arah pertanyaannya?” balas Yai redaktur senior.
“Lha kalo untuk Yai redaktur senior tentu arah filosofis dongsss, setidaknya arah teologis,” jawab saya.
Belum dijawab saya sudah menimpali lagi dengan menanyakan apakah lailatul qadar bisa tiap hari.
Saya pun menunggu beberapa saat. Saya tahu Yai redaktur senior tidak ingin membuat penafsiran atau pemaknaan yang terlalu jauh meninggalkan teks.
Setelah beberapa lama typing, Yai redaktur senior merespons.
‘Tentu bisa. Karena hakikatnya lailatul qadar adalah malam di mana Al-Qur’an diturunkan. Sementara ulama menyebut ada tiga momen turunnya Al-Qur’an. Pertama, dari lauhil mahfudh ke langit dunia sebelum akan diturunkan kepada Nabi Muhammad. Kedua, ketika turun pertama kali kepada Nabi Muhammad di Gua Hira dan pada penurunan-penurunan berikutnya sesuai konteks turunnya ayat kepada Nabi Muhammad; Ketiga, ketika turun ke hati umat manusia, dan itu bisa berlangsung saban hari. Penyair dan pemikir muslim Muhammad Iqbal bilang: bacalah Al-Qur’an seakan ia diturunkan kepadamu.”
Nah, puas saya dengan jawaban beliau ini. Tetapi saya memang lagi kumat usilnya. Saya tanya lagi bagaimana kalau ada tafsir bahwa lailatul qadar adalah berkomunikasi intim makhluk dengan Khaliq di sebuah saat di mana tak ada yang lainnya.
Yai redaktur senior menjawab dengan santai penuh canda nan bijaksana, “Boleh saja…Buat antum apa sih yang ngga boleh wkwkwk.”
Saya lalu berhenti sampai di situ. Karena kalau saya teruskan maka bisa ngelantur kemana-mana. Dan jawaban Yai redaktur senior tersebut sudah cukup saya pahami, untuk saya harus berpikir sebelum bertanya.
***
Saya teruskan perjalanan saya.
Anjuran untuk melakukan ibadah sunah berupa i’tikaf ini adalah ajakan Allah untuk bermesraan dengan-Nya. Lho kurang cinta apa Allah kepada hamba-Nya. Di dalam pertemuan antara makhluk dengan Khaliq, pertemuan yang sangat private, dan sangat mesra tersebut Allah menawarkan, “Kamu minta apa…., pasti Aku penuhi permintaanmu. Tentu Aku tahu apa yang ada di dalam hatimu, tetapi Aku ingin mendengar dari mulutmu apa yang engkau inginkan.”
Kurang apikan apa lagi Allah terhadap hamba-Nya. Hanya saja hamba-Nya yang ndablek, sombong, pethitha-pethithi, kemlinthi, mbagusi, dan memang sontoloyo manusia ini.
Seperti diri saya ini.
Saya memasuki masjid, melalui pintu samping. Saya lihat ada empat orang yang sedang melakukan ‘pertapaan’ di situ. Ada yang khusyuk berdo’a persis di samping saya. Ada yang sedang shalat, dan di ujung sana ada yang sedang membaca Al-Qur’an dengan suara yang sangat lirih.
Secara filosofis, lailatul qadar bisa dipahami sebagai titik pertemuan antara dunia manusia dan realitas ilahi. Maknanya adalah saat ketika manusia menerima arah hidup (berupa petunjuk, cahaya, nur ilahi), dan berubahnya sejarah manusia oleh hadirnya wahyu. Yang tadinya rampok, maka dalam sekejap bisa tersadarkan (dengan petunjuk Allah) dan menjadi alim, bahkan menjadi da’i.
Dengan hadirnya cahaya ilahi, kegelapan, ketidaktahuan digantikan oleh cahaya pengetahuan dan petunjuk. Lailatul qadar juga melambangkan pencerahan spiritual manusia. Satu momen kesadaran spiritual dapat mengubah seluruh perjalanan hidup manusia.
Secara umum kita dapati bahwa lailatul qadar artinya “malam kemuliaan” atau “malam ketetapan”. Ini adalah malam istimewa di bulan Ramadhan, yang digambarkan dalam Al-Qur’an (Surah Al-Qadr) sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, tempat diturunkannya Al-Qur’an, dan waktu turunnya malaikat untuk membawa keberkahan, rahmat, serta ampunan Allah SWT.
Secara filosofis pula, pernyataan bahwa lailatul qadar lebih baik daripada seribu bulan menunjukkan bahwa, waktu memiliki kualitas spiritual, bukan hanya ukuran matematis (quantity). Tetapi juga ukuran quality. Bahwa yang semalam itu setara dengan 83 tahun itu kan masalah kualitas. Sehingga hal ini memiliki konteks spiritual yang kental. Sebuah momen dalam perjalanan hidup manusia dapat memiliki nilai lebih besar daripada puluhan tahun hidup manusia.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ
Lailatul-qadri khairum min alfi syahr. “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Ramadlan dan lailatul qadar mengajarkan manusia untuk memaknai waktu secara lebih dalam. Dengan kata lain, lailatul qadar adalah simbol bahwa satu malam kesadaran spiritual bisa lebih bermakna daripada seluruh hidup yang dijalani tanpa kesadaran.
Ada juga tafsir menarik dari sebagian ulama bahwa qadar berarti sempit atau padat. Mengapa? Karena pada malam itu banyak malaikat turun ke bumi sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qadr. Maknanya, bumi dipenuhi malaikat dan malam itu menjadi sangat penuh dengan rahmat dan keberkahan.
تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ
Tanazzalul-malâ’ikatu war-rûḫu fîhâ bi’idzni rabbihim, ming kulli amr. “Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.”
Lalu, mengapa waktu lailatul qadar dirahasiakan? Dari penjelasan ulama didapatkan bahwa waktu pasti lailatul qadar tidak disebutkan agar manusia tidak beribadah hanya pada satu malam dan tetap menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hal ini juga memiliki makna spiritual yaitu manusia harus selalu siap menerima rahmat Tuhan kapan saja.
Malam hari adalah waktu yang hening, tenang, di mana aktivitas harian manusia berhenti (beristirahat). Dalam kondisi ini manusia lebih mudah melakukan kontemplasi. Sehingga waktu malam hari yang sunyi dan hening ini membantu manusia untuk terbuka terhadap pengalaman spiritual termasuk di dalamnya adalah mendapat nur ilahi.
Jadi inilah jawaban atas pertanyan bodoh saya kepada Yai redaktur senior.
Di dalam sunyi masjid saya mencoba merangkai-rangkai ala manusia seperti saya ini. Lailatul qadar adalah malam ketika takdir manusia ditetapkan. Di keheningan malam, kemuliaan spiritual terbuka. Maka, di waktu itu rencana ilahi bagi kehidupan diingatkan di hadapan malaikat dan rahmat Allah melimpah ke dunia. Secara simbolik, malam ini menunjukkan bahwa manusia hidup dalam lingkaran takdir Allah, tetapi tetap diberi kesempatan untuk mendekat kepada Tuhan dan memperbaiki dirinya.
Saya mencoba merenungi rangkaian-rangkaian ini, tetapi saya masih juga dihadapi pada dilema yang ada pada diri saya.
“Ya Allah, sesungguhnya aku sangat malu meminta minta padamu, padahal Engkau memerintahkan untuk mengabdi kepada-Mu, aku masih banyak belum mengerjakan…,” gumam saya dalam hati, sangat lirih, sambil tertunduk.
“Alangkah sombongnya hamba-Ku kalau tidak mau meminta kepada-Ku, sedangkan kamu membutuhkan.”
“Hamba-Ku…, aku hanya ingin mendengar bisik mesra yang keluar dari mulutmu….”
R22-23





Comments are closed.