Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meneliti karakteristik partikulat halus (PM2.5) di Kota Tangerang Selatan. Riset ini bertujuan mengidentifikasi komposisi kimia, sumber pencemar, serta kaitannya dengan faktor meteorologi dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat sebagai dasar pengendalian pencemaran udara di perkotaan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Novita Ambarsari, mengatakan penelitian dilakukan merespons meningkatnya perhatian publik terhadap kualitas udara di Tangerang Selatan dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami ingin mengetahui karakter polutannya, termasuk apakah sumber pencemar berasal dari dalam wilayah Tangerang Selatan atau dipengaruhi daerah sekitar,” ujarnya ke Tim Humas BRIN, Senin, 20 Juli 2026.
Tangerang Selatan dipilih karena memiliki mobilitas kendaraan tinggi dan menjadi wilayah lintasan kota penyangga Jakarta, sehingga berpotensi menerima polusi lintas wilayah. Dalam riset ini, tim mengukur PM2.5 dan sejumlah gas pencemar, seperti nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), ozon (O₃), dan amonia (NH₃), yang berperan dalam pembentukan partikulat sekunder di atmosfer.
Selain pemantauan konsentrasi, BRIN menganalisis komposisi kimia PM2.5 melalui metode pengambilan sampel berbasis filter menggunakan MiniVol Air Sampler. Sampel kemudian diuji di laboratorium untuk mengetahui kandungan senyawa organik, ion, logam, hingga morfologi partikel.
“Metode ini memungkinkan sampel PM2.5 dianalisis di laboratorium sehingga tidak hanya mengukur konsentrasi, tetapi juga mengungkap kandungan rinci, seperti senyawa organik, ion, logam, dan morfologi partikel, yang tidak dapat diperoleh dari sensor pemantauan kualitas udara,” jelas Novita.
Penelitian dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan dengan memadukan data pemantauan kontinu dan hasil analisis laboratorium BRIN agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai karakteristik pencemaran udara. Hasil kajian menunjukkan konsentrasi polutan di perkotaan dipengaruhi aktivitas transportasi serta kondisi meteorologi, seperti arah dan kecepatan angin serta curah hujan.
“Di kawasan perkotaan seperti Tangerang Selatan, kepadatan transportasi menjadi sumber emisi utama. Sementara kondisi meteorologi seperti hujan, arah, dan kecepatan angin turut menentukan tinggi rendahnya konsentrasi polutan. Sehingga, keduanya perlu dikaji secara bersamaan,” kata Novita.
Temuan sebelumnya di berbagai wilayah juga menunjukkan kaitan antara peningkatan aerosol dan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Karena itu, riset ini diharapkan memberikan gambaran lebih rinci mengenai karakter pencemar udara dan dampaknya bagi kesehatan masyarakat. Ia berharap hasil penelitian dapat menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengendalian pencemaran udara yang lebih tepat sasaran.
Ke depan, BRIN akan mengembangkan kajian senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) pada PM2.5, air hujan, dan fase gas untuk memperkaya data pencemar udara di Jabodetabek serta mendukung upaya mitigasi pencemaran udara di Indonesia.
Novita menegaskan, pengendalian pencemaran udara memerlukan sinergi lintas sektor, mulai dari lembaga riset, pemerintah daerah, kementerian, hingga masyarakat, agar kebijakan yang dihasilkan lebih efektif dan berbasis bukti ilmiah.
“Penelitian kualitas udara tidak cukup hanya mengukur konsentrasi polutan, tetapi juga perlu memahami kandungan kimia, sumber pencemar, dan faktor yang memengaruhinya. Karena itu, kolaborasi lintas instansi diperlukan agar data dan hasil riset saling melengkapi dalam mendukung kebijakan pengelolaan kualitas udara yang lebih efektif,” katanya.





Comments are closed.