Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Bulan Hard Reset

Bulan Hard Reset

bulan-hard-reset
Bulan Hard Reset
service

Ketika sedang membuka laman Instagram, lewatlah cuplikan pengajian Cak Nun di suatu saat dalam satu reel sekian puluh detik saja. Cuplikan tersebut tentang penyambutan bulan Ramadlan.

Iki lho arek-arek lagi seneng.. jare Marhaban Yaa Ramadhan, selamat datang Ramadlan dengan suka ria.” (Ini lho teman-teman ini sedang bersuka ria menyambut Ramadlan tiba’.)

Temenan seneng ta rek? (‘beneran seneng niih?…),” lanjut Cak Nun.

”Kalau segala hal yang dengan sukacita dilakukan oleh umatnya, maka Allah pasti tidak akan berfirman:    

‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa’.”

Namun di sini ada kata ‘diwajibkan’ di dalam Firman itu, berarti suka atau tidak suka, puasa harus dilakukan.

Mosok biasanya pagi-pagi adalah waktu yang sangat pas dan nyaman untuk menikmati secangkir kopi hitam dengan nyamikan bakwan tahu atau mendoan, lha kok ini disuruh puasa. Siang hari di tengah-tengah kesibukan kerja, untuk ‘break’ sejenak biasanya nyruput es teh, sambil menyelesaikan pekerjaan, dan sesuatu yang wajib disruput sesudah makan siang, lha kok ini disuruh menahan untuk tidak melakukan sesuatu yang kita sukai dan sekaligus melakukan sesuatu yang tidak disukai (puasa). Lha pasti kenyamanan menjadi terganggu dong.

Kecuali kalau kalau kita benar-benar cinta dan pasrah kepada Allah.

Kita melakukan puasa Ramadlan tetapi mungkin yang terjadi adalah hanya pergeseran jam makan, sebagaimana sang jenaka, penyair, dan sekaligus filsuf Abu Nawas berkata bahwa puasa yang dijalani kebanyakan umat Islam hanya sedang memindahkan jam makan (dan malah menambah volume serta macamnya).

Kemudian dia bilang bahwa banyak dari kita yang merasa jadi suci hanya karena menahan lapar, padahal pada saat bersamaan, jiwa kita sedang berpesta pora menyantap nafsu duniawi yang busuk.

Saya tidak sedang membicarakan sosoknya, tetapi yang saya kutip adalah kata-kata dan kalimatnya.

Di awal-awal bulan Ramadlan, semua yang berpuasa sedang ‘macak’ lesu, lemas dan bibir kering. Di lain pihak, kita juga sedang melihat beberapa pihak yang sedang membagi-bagikan sedekah dengan wajah angkuh, seolah dia sedang membeli kunci surga dengan sedekah yang dia berikan. Padahal mereka memberi ‘sedekah’ tersebut tidak lupa diabadikan oleh tim dokumentasi yang kemudian dalam waktu sekejap, pembagian ‘sedekah’ sudah tayang di banyak platform media sosial.

Pada saat bersamaan kita sedang melihat beberapa orang saling memamerkan seberapa lapar dan dahaga mereka. Ini adalah sebuah tragedi yang dibungkus ritual yang dikerjakan berulang-ulang dengan model yang selalu sama.

Padahal Jalaluddin Rumi bilang bahwa maksud puasa agar kita bisa menutup pintu dunia, agar jendela langit terbuka lebar. Namun yang kita lihat adalah sebaliknya. Kenyataan yang ada adalah ‘tutup mulut dari nasi dan lauk pauknya, namun membuka hati lebar-lebar untuk amarah, kesombongan, dan cinta dunia’.

Banyak di antara yang menjalankan puasa tatapi sambat: kok lapar yaa, haus juga, apalagi kalau panas terik begini…. Kok lama ya tunggu Maghrib tiba…

Puasa sejati adalah sebuah perjalanan batin, sebuah pendakian menuju cahaya Tuhan.

Bayangkan jiwa kita adalah cermin. Namun cermin ini sekarang sedang kotor oleh kegelapan berupa keinginan nafsu dunia, kesombongan, amarah, dengki, iri, dan keinginan duniawi yang lain.

Lapar yang kita jalani sekarang ini bukanlah sebuah hukuman, melainkan kain penggosok debu, agar cahaya Tuhan, Nur Ilahi bisa terpantul di sana.

Puasa Ramadlan bisa menjadi sarana ‘turun mesin’, total overhaul untuk tubuh kita: raga dan jiwa, detoksifikasi: membersihkan racun tubuh dengan mengistirahatkan saluran pencernaan dan memecah racun yang tersimpan dalam lemak saat tidak ada asupan makanan.

Proses ini mengoptimalkan fungsi hati dan usus, serta memicu autophagy (daur ulang sel rusak). Pada saat sahur/berbuka mengkonsumsi makanan sehat, kaya nutrisi, berserat tinggi, serta mencukupi kebutuhan cairan. Agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang yang celaka karena hanya mendapat lapar dan dahaga saja.

Dengan puasa kita juga melakukan restart, bahkan hard reset agar kembali ke performa dan kondisi yang bersih, putih, dan suci.

Lapar diubah menjadi Cahaya, dahaga menjadi jalan pintas menuju makrifat.

Semoga…

R1-1447H

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.