Jakarta –
Parental burnout menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai oleh orang tua, terutama jika sampai memicu kelelahan dan bahkan stres. Bagaimana cara mengatasinya?
Sebelum itu, perlu Bunda ketahui terlebih dahulu tentang definisi parental burnout dan tanda-tanda yang perlu diperhatikan sejak dini.
Dikutip dari Parents, parental burnout awalnya dikenal sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan. Namun belakangan istilah burnout semakin banyak digunakan dalam konteks pengasuhan anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Psychological Science pada tahun 2019 menggambarkan parental burnout sebagai perasaan kewalahan, kelelahan fisik, dan emosional saat mengasuh anak.
Kondisi ini tanpa sadar membuat orang tua menjaga jarak secara emosional dari anak, serta jadi memiliki perasaan yang ‘tidak becus’ dalam mengasuh.
Apa itu parental burnout?
Stres dan jenuh dalam mengasuh anak ini sering kali membuat orang tua jadi mudah marah. Emosi bahkan jadi lebih sulit untuk dikendalikan.
“Parental burnout adalah kelelahan fisik, mental, dan emosional yang dirasakan seseorang akibat stres kronis mengasuh anak,” ujar ahli saraf Puja Aggarwal, seperti dikutip dari Healthline.
Hal serupa disampaikan oleh konselor pernikahan dan keluarga, Michaela Decker. Parental burnout timbul akibat jenuh berkepanjangan, terutama saat tuntutan yang diberi pada orang tua melebihi kemampuannya.
Jika Bunda menjadi salah satu yang mengalaminya, kondisi ini sangat wajar. Rasa jenuh mengasuh anak dan stres menghadapi rutinitas harian yang terasa monoton bisa jadi pemicu utamanya.
Dalam jangka panjang parental burnout tak hanya memengaruhi kesehatan orang tua, tapi juga tumbuh kembang Si Kecil.
Faktor yang memengaruhi parental burnout
Ada beberapa faktor yang diketahui dapat berkontribusi terhadap parental burnout, yang meliputi kurang dukungan sosial, ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta tanggung jawab pengasuhan yang kurang terbagi.
“Rasanya membuat frustrasi karena budaya yang ada sering kali menempatkan beban pada orang tua untuk keluar dari kondisi burnout, sementara sedang sulit bagi mereka,” kata psikolog Adrienne Heinz, PhD.
Gejala parental burnout
Saat Bunda mengalami parental burnout, ada beberapa tanda spesifik yang dapat terlihat. Namun, ada juga tanda-tanda lain yang mungkin tidak terlihat dari luar.
Selain kejenuhan dalam mengasuh anak dan emosi yang semakin sulit dikendalikan, tanda lainnya yaitu:
- Badan terasa selalu lelah sepanjang waktu
- Perasaan tidak berdaya, putus asa, atau meragukan diri sendiri
- Sakit kepala dan nyeri otot
- Kehilangan motivasi
- Perubahan nafsu makan atau kebiasaan tidur
- Menjadi mudah marah
- Selalu ingin menyendiri dan mudah menangis
Kebiasaan untuk menangani parental burnout
Jika Bunda sudah merasa lelah dan mencapai titik jenuh dalam mengasuh Si Kecil, ada beberapa kebiasaan yang perlu dilakukan agar tak semakin berlanjut:
1. Luangkan waktu untuk diri sendiri
Saat sedang mencapai puncak rasa jenuh, segera luangkan waktu untuk diri sendiri dan beristirahat sejenak. Berikan tubuh dan pikiran untuk untuk pulih dulu, Bunda.
Jika memang tidak bisa keluar rumah, Bunda bisa minum secangkir kopi atau teh hangat, duduk di sofa atau sekadar mendengarkan musik favorit.
Menurut penulis buku You Look Tired: An Excruciatingly Honest Guide to New Parenthood, Jenny Pritchett, membagi waktu untuk diri sendiri dan orang lain merupakan kunci penting.
Jangan ragu meminta bantuan dari orang sekitar untuk mengambil alih pekerjaan sejenak, lalu biarkan diri sendiri istirahat.
2. Berhenti saat sudah terlalu lelah
Praktisi kesehatan, Bernadette Melnyk, PhD, berpesan agar orang tua yang mulai mengalami burnout segera mengambil waktu istirahat meskipun singkat.
Menurutnya, beberapa kali istirahat selama 5-10 menit sepanjang hari dapat membantu menyegarkan kembali tubuh dan pikiran orang tua, serta membantu mengelola stres.
Hal tersebut dapat dilakukan di mana saja. Mulai dari kamar tidur, kamar mandi, bahkan saat duduk di dalam mobil yang sedang terparkir.
“Setiap kali merasa kewalahan, luangkan waktu untuk membantu menenangkan tubuh dan pikiran dengan bernapas atau memejamkan mata, maka Anda akan merasa lebih baik,” ungkap Melnyk.
Kuncinya adalah menyadari diri sendiri ketika mengalami tanda-tanda burnout, terutama jika tanda-tanda tersebut mulai mengganggu kemampuan untuk beraktivitas, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan.
3. Jangan terlalu memaksakan diri
Sebisa mungkin saat mulai menghadapi parental burnout, cobalah untuk jangan terlalu keras pada diri sendiri.
Psikolog Eileen Kennedy-Moore, PhD, mengatakan bahwa tidak ada orang yang bisa selalu melakukan semuanya dengan sempurna, terutama ketika sedang berada di bawah tekanan.
“Lingkungan sosial sering kali membuat orang tua merasa harus selalu tenang dan sempurna tanpa kesalahan. Padahal kenyataannya hal itu tidak selalu mungkin dilakukan,” pesan Kennedy-Moore.
Menjadi orang tua berarti akan terus belajar, berusaha, dan menyesuaikan diri dengan keadaan sepanjang waktu. Tak harus semua diselesaikan saat itu juga.
4. Tidur cukup dan olahraga teratur
Tidur sangat penting untuk kesehatan fisik dan mental, tapi saat mengasuh anak hal ini sering kali terabaikan. Padahal saat kurang tidur, Bunda jadi lebih berisiko mengalami stres dan jenuh karena kelelahan.
Jika memang memungkinkan, saat anak sedang tidur siang, Bunda juga dapat ikut istirahat sejenak. Ini dapat memulihkan rasa lelah dan jenuh yang sedang dirasakan.
Cukup tidur juga membantu meningkatkan fokus dan membantu Bunda mengatur emosi dengan lebih baik.
Selain tidur, hal lain yang dapat Bunda lakukan untuk mengatasi stres saat mengasuh anak yakni olahraga. Sediakan waktu setidaknya 20-30 menit per hari.
Itulah penjelasan tentang apa itu parental burnout dan kebiasaan-kebiasaan penting untuk membantu mengatasi parental burnout. Jangan ragu meminta bantuan tenaga profesional jika sudah sangat kelelahan ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)





Comments are closed.