Pelakunya gerombolan berpakaian sipil. Diduga ada tiga “kelompok terkoordinasi” yang diturunkan untuk melakukan kekerasan secara sporadis.
* * *
YOGA MEMBUKA pintu rol toko cermin milik bapaknya, Bambang Setiawan (60), yang meninggal dikeroyok gerombolan berpakaian hitam pada Jumat dini hari, 28 Agustus 2026.
Melihat seisi ruangan, hati Yoga mencelos. Setiap sudut mengingatkan bapaknya.
Cermin, pajangan kaligrafi, dan pigura menghiasi toko. Berdiri di sisi depan ada cermin berbingkai hijau stabilo bikinan terakhir bapaknya.
Yoga berkata bapaknya puas sekali dengan hasil mutakhirnya itu hingga membanggakannya kepada anak-anak dan cucunya.
Di bagian belakang, ada meja kerja tempat Bambang biasanya mengukur, memotong kayu, kemudian memolesnya menjadi pigura.
Satu bungkus rokok milik bapaknya masih tergeletak di sana. “Iya, itu rokok Bapak,” kata Yoga, 29 tahun.
Toko bernama Istaka Jaya Frame di Jalan Pejompongan Raya itu masih buka ketika demonstrasi berlangsung di depan gedung DPR pada 27 Agustus 2026.
Demonstrasi adalah pemandangan biasa bagi warga Pejompongan. Yoga ingat sejak aksi Reformasi Dikorupsi pada 2019, massa selalu dipukul mundur oleh kepolisian ke arah kampungnya.

Warga setempat biasa menolong demonstran yang terkena gas air mata dengan menyediakan air untuk mencuci muka.
“Memang orang-orang di sini begitu. Ada yang minta minum, dikasih minum. Ada yang butuh air untuk cuci muka, dikasih air untuk cuci muka,” cerita Yoga. “Ibaratnya, warga jaga warga.”
Meski tetap waspada, kehadiran massa bukan hal menakutkan bagi warga. Massa biasa meminta tolong dan melarikan diri dari kejaran polisi lewat kampung, tetapi tidak pernah menyerang warga setempat.
Peristiwa pada Kamis malam adalah ketidaklaziman. Gerombolan orang tidak dikenal dengan pakaian sipil menyerbu Jalan Pejompongan. Mereka mengeroyok warga setempat.
Gerombolan orang itu menghilangkan nyawa seorang suami, bapak, dan tetangga bernama Bambang Setiawan.
Hidup Sederhana di Pinggir Rel Kereta
Sebuah gang sempit di pinggir Jalan Pejompongan Raya memisahkan gedung pencakar langit dengan rumah sederhana milik keluarga Bambang yang terletak persis di samping rel kereta.
Di rumah itu Bambang tinggal bersama istri, dua anak, dan seorang cucu. Rumah itu peninggalan keluarga Sudarsih, istri Bambang, sejak 1950-an.
Warga terbiasa dengan deru kereta yang menyela dan menenggelamkan percakapan.
Yoga sedang bercerita tentang bapaknya ketika kereta berderu. Ia memilih untuk diam sebentar sebelum melanjutkan ceritanya. Ia teringat masa kecilnya dulu ketika ikut menemani bapaknya berjualan cermin dengan gerobak.
“Saya sering dibawa ikut jualan sama bapak dan ibu,” cerita Yoga.
Di sampingnya, dinding rumah dihiasi foto-foto keluarga. “Bingkainya bikinan bapak semua.”


Usaha bingkai dan cermin itu dirintis Bambang dan Sudarsih sejak sekitar tahun 2000. Keduanya berbagi tugas: Sudarsih membuat bingkai, Bambang berjualan.
Mereka dulunya menjajakan cermin di depan gedung DPR sebelum dilarang. Bambang kemudian menyewa toko di Pejompongan Raya, berjarak 50 meter dari gang rumahnya. Setelah itu Sudarsih menyerahkan semua urusan bisnis ke Bambang.
Hasil berjualan bingkai dan cermin itu cukup untuk membiayai kebutuhan dasar keluarga. “Masih bisa makan sehari-hari. Untuk kebutuhan lainnya juga masih tercukupi,” kata Sudarsih.
Sudarsih bertemu Bambang pada 1990-an, setelah suami pertamanya meninggal. Saat itu Bambang bekerja mengurus katering di kantor BNI, terletak di seberang Jalan Pejompongan Raya. Ia kerap main ke rumah Sudarsih di pinggir rel.
“Di sini banyak kawannya. Dia sering ke sini,” cerita Sudarsih. “Saya kenalannya nggak lama. Cuma hitungan bulan, lalu menikah.”

Sudarsih punya satu anak laki-laki dari pernikahan pertamanya, bernama Ucok. Bambang menyayangi Ucok bak anaknya sendiri. Ucok telah menikah dan memiliki anak perempuan ketika meninggal ditabrak kereta.
Naira, putri Ucok, diasuh Bambang dan Sudarsih dan jadi “cucu kesayangan.”
Naira memanggil Bambang dengan sebutan “Mbah” atas permintaan kakeknya sendiri. Sebagai orang Jawa, keturunan Surabaya dan Pemalang, “Dia senang sekali dipanggil ‘mbah’,” ujar Sudarsih.
“Memang nggak malu dipanggil ‘Mbah’?’ tanya Sudarsih saat suaminya masih berumur 40an.
“Ngapain malu. Memang sudah tua,” jawab Bambang.
Bambang dikenal sebagai orang biasa-biasa saja. Tidak neko-neko. Baik dan murah hati ke keluarga maupun tetangga.
Sebagai kepala rumah tangga, ia senang melayani daripada dilayani. Sudarsih jarang memasak. Bambang biasanya membelikan sarapan buat anak-anaknya. Ia tahu makanan kesukaan setiap anggota keluarganya.
Bagaimana dengan makanan kesukaan Bambang? “Kalau dia mah, apa yang kita makan, itu yang dia makan.”
Ia pernah berjanji kepada Sudarsih untuk memberikan apa pun untuk keluarganya.
“Selagi saya mampu, semua saya kasih,” janji Bambang.
Pamit Mematikan Lampu Toko
Hari terakhir hidupnya, Bambang baru saja pulang mengantarkan tetangganya yang sudah sakit dua hari ke rumah sakit. Bambang dan tetangganya diantar ke RS Pelni oleh Yoga. Yoga pulang duluan. Ia berpesan kepada bapaknya untuk mengabari lewat telepon jika sudah mau pulang.
Tetapi Bambang pulang sendiri ke rumah dengan berjalan kaki. Yoga melihat bapaknya masuk ke rumah membawa makanan. Ia mandi, berganti baju, lalu bersiap-siap kembali ke rumah sakit lagi.
Bambang sempat ingin keluar, tetapi Sudarsih menahannya. Saat itu situasi di depan gang rumah sudah kaos.
“Sudah, jangan keluar dulu. Lagi diserbu,” kata Sudarsih.
(Belakangan warga sekitar baru tahu dari video yang beredar bahwa Fatur, remaja usia 18 tahun yang tinggal di sebelah rumah keluarga Bambang, diseret keluar dari gang oleh gerombolan orang tidak dikenal lalu dikeroyok.)
Setelah situasi sempat mereda selama sekitar 15-30 menit, Bambang keluar lagi.
Bambang bilang ke Sudarsih hendak mematikan lampu toko yang masih menyala. Ia meminta kunci toko ke Sudarsih.
Sudarsih tidak menahan Bambang keluar karena berpikir ia akan ditemani Yoga yang ada di luar.


Yoga bersama warga lain menjaga kampung. Mereka juga mencari-cari Fatur yang hilang. “Fokus kami ke Fatur. Karena sudah beberapa jam tidak pulang-pulang. Padahal orangnya tidak pernah ke mana-mana,” cerita Yoga.
Yoga tidak tahu bapaknya keluar rumah lagi.
Ketika kembali ke rumah, Yoga bertanya ke ibunya, “Bapak di mana, Ma?”
Hingga larut malam, Bambang tidak kembali.
Yoga mengajak ibunya mencari Bambang. Mereka pergi ke tempat bapaknya sering nongkrong. Warga di sana mengatakan tidak melihat Bambang.
Sampai jam 3 pagi, Bambang masih belum kelihatan. Yoga meminta ibunya pulang dan istirahat, sementara ia melanjutkan pencarian.
Yoga pergi ke RS Pelni, berpikir Bambang ada di sana menemani tetangganya. Tapi, Bambang tidak ada. Yoga menghubungi kakaknya, Wisnu, yang bekerja shift malam, untuk mencari Bambang.
Tak lama kemudian, Wisnu menghubungi Yoga. Ia mengirimkan video seseorang dengan baju berwarna hitam diseret, ditendang, dipukuli dengan balok kayu hingga kepalanya tampak berlumur darah. Dalam video lainnya, tampak korban diseret dengan kondisi sudah tidak bergerak. Gerombolan orang tak dikenal yang menyeretnya itu berseru, “Bawa! Bawa! Bawa!”
Wisnu bertanya kepada Yoga, “Ini Bapak, bukan?”
Rekaman video itu tidak terlalu jelas, tapi samar-samar Yoga mengenali perawakan bapaknya. Yoga menelepon ibunya, bertanya baju yang dipakai bapak. Seingatnya bapak memakai baju putih garis-garis.
“Ah, bukan. Orang sudah ganti baju hitam,” kata ibunya kepada Yoga.
Yoga mematikan telepon. Menonton videonya sekali lagi. Ia curiga itu benar bapaknya.
Yoga kemudian mencari bapaknya ke rumah sakit. Di RS Pelni, ia pergi ke IGD, tapi tidak menemukan pasien korban demonstrasi. Lalu ia mendatangi RS TNI AL Dr. Mintohardjo, rumah sakit terdekat dengan titik demonstrasi.
Pihak rumah sakit mengatakan ada pasien tanpa identitas yang dibawa dua laki-laki berbadan besar dan berkulit gelap. Setelah diperiksa, pasien dalam keadaan tidak bernyawa. Jenazah kemudian dioper ke RS Polri Kramat Jati.
Yoga diperlihatkan foto jenazah dengan kondisi sekujur tubuh babak belur dan punggung sudah hancur. Yoga terdiam melihatnya.
“Ini bapak saya.”

‘Usut Tuntas’
Semua berlalu begitu cepat setelah keluarga mengetahui kematian Bambang Setiawan.
Yoga menjaga ibunya di rumah dan mengurus pemakaman, sementara Wisnu mengurus administrasi di Polda Metro Jaya untuk menjemput jenazah di RS Polri Kramat Jati.
Kepolisian sempat menganjurkan autopsi jenazah, tapi keluarga menolak. “Saya berpikir luka-lukanya sudah kelihatan begitu. Tidak perlu diautopsi. Abang dan ibu saya juga berpikiran sama,” kata Yoga.
Jenazah tiba di rumah dalam keadaan sudah dimandikan. “Sudah rapi. Memang kami dari keluarga juga minta rapi saja. Abang juga mungkin tidak kuat melihatnya,” cerita Yoga.
Bambang dimakamkan di TPU Kemanggisan setelah salat Jumat, sekitar pukul 2 siang. Ia dikubur dalam satu liang bersama mendiang ibu mertua dan anak sambungnya yang dulu meninggal ditabrak kereta.
Sejumlah saksi berkata pemakaman Bambang dikawal rombongan aparat berseragam dari kepolisian dan tentara.
Meski sudah ikhlas, keluarga berharap kematiannya diusut tuntas. “Harapannya, sesuai hukum yang berlaku,” kata Yoga.


Demonstrasi 27 Agustus 2026 dihelat Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dengan tuntutan utama pengesahan RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor. Tetapi, sekitar pukul 1 siang, AMPB membubarkan diri setelah pimpinan massanya diterima masuk ke ruang sidang DPR.
Setelah itu massa berganti kelompok lebih beragam, beberapa di antaranya mahasiswa, pengemudi ojek online, dan aliansi masyarakat sipil. Meski tuntutan sebagian besar demonstran masih dominan mengesahkan RUU Perampasan Aset, tapi ada pula yang menyorot soal Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, militerisasi, dan bencana gempa NTT serta kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
Polri menerjunkan 18.504 aparat keamanan di seputar DPR. Pasukan polisi menghalau demonstran lewat kawasan mal Senayan Park, di bawah kolong jembatan layang Jalan Gerbang Pemuda.
Selain polisi berseragam, ada rombongan intelijen polisi berpakaian sipil (baju hitam) melakukan pengawasan di berbagai titik, yaitu di kolong jembatan, sekitar DPR, dan di jalan menuju Pejompongan Raya.
Kepolisian menyemburkan meriam air dan menembakkan gas air mata mulai pukul 7 malam, memaksa massa yang tersisa membubarkan diri. Dalam keterangan terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mendelegitimasi massa aksi di luar AMPB, menuding mereka hanya datang untuk membuat kerusuhan dan tidak menyampaikan aspirasi.
Kehadiran organisasi masyarakat Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya yang dipimpin langsung Hercules dikaitkan dengan kematian Bambang dan pengeroyokan Fatur, tetangga Bambang.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan massa GRIB dengan ikat kepala berwarna putih dan membawa balok kayu tampak turun dari sejumlah truk terbuka berwarna kuning sekitar pukul 10 malam dari arah Slipi. Mereka mengejar dan memukuli warga secara sporadis.
Video lain menunjukkan iring-iringan Brimob yang bertemu massa GRIB, tidak berupaya menghalaunya, malahan ikut mengepalkan tangan dan menyemangati.
Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) dalam konferensi pers menyorot ada “kelompok tertentu yang terkoordinasi” untuk menghalau massa aksi.
Dua kelompok mengenakan ikat kepala putih di sekitar DPR dan Pejompongan, dan satu kelompok tanpa ikat kepala dan berbadan tegap di sekitar Jalan KS Tubun dan Pejompongan.
Ketiga kelompok itu melakukan kekerasan ke warga sekitar.
Berdasarkan keterangan Fatur, pelaku pengeroyokannya adalah intel kepolisian yang menyeretnya ke arah DPR, lalu membawanya ke Polda Metro Jaya.
Sebuah video memperlihatkan seseorang yang diduga adalah intel kepolisian ada di antara orang-orang yang mengeroyok Fatur. Anggota intel kepolisian itu sebelumnya tampak berada di sekitar jalan mal Senayan Park.
“Pelakunya intel. Dari DPR,” kata Fatur.
Saat di Polda Metro Jaya, ia mengatakan dirinya juga disiksa dan dipaksa untuk mengaku sebagai provokator.
Dimas Bagus Arya dari TAUD mengatakan pengerahan gerombolan orang tidak dikenal kali ini “punya skala lebih besar” dibandingkan demonstrasi Agustus 2025, dan menyerupai apa yang dilakukan oleh Pam Swakarsa pada masa Orde Baru.
“Pola ini menjadi salah satu sarana bagi aparat penegak hukum melakukan upaya cuci tangan ketika terjadi eskalasi kekerasan dan menciptakan konflik horizontal,” katanya.
Polda Metro Jaya mengatakan masih menyelidiki kasus pengeroyokan Bambang.
“Kami sedang mengumpulkan fakta-fakta hukum di lapangan,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin.
Keluarga Bambang bercerita pada Sabtu, 29 Agustus, perwakilan DPR datang ke rumah, yaitu Andre Rosiade dari Partai Gerindra, dan Rieke Diah Pitaloka dari PDIP.
Dua politisi itu berjanji kepada Sudarsih dan kedua anak Bambang bahwa kasus kematiannya bakal diusut tuntas.
“Pokoknya sampai ketemu pelakunya,” kata Yoga menirukan janji mereka.
Keluarga belum sempat memproses duka. Masjid mengumumkan kematian Bambang. Tamu bertubi-tubi datang siang dan malam menyampaikan belasungkawa, wartawan dari satu media ke media lain datang mewawancarai keluarga.
Tetapi hanya kemarin malam, Bambang masih hidup. Bambang masih berbincang dengan keluarga. Bambang masih membuka toko. Bambang juga masih membelikan makan untuk keluarga.
Bambang masih bekerja meski sudah masuk usia pensiun. Terakhir, ia keranjingan mengulik akal imitasi untuk menyunting gambar.
“Hasilnya dicetak, lalu dibuatkan bingkai sama beliau. Ada satu di depan. Foto dia lagi di sirkuit balapan tapi duduk di bangku kayu. Lucu,” kata Yoga sambil tertawa.


Bambang menjadi tulang punggung keluarga. Anaknya, Yoga, diputus kontrak kerja menjelang Hari Raya Idulfitri sebagai cleaning service di RSCM. Sekarang ia bekerja sebagai pengemudi ojol. Wisnu, anak paling tua, bekerja sebagai bartender di sebuah bar di Kemang.
Sudarsih masih tidak tahu apakah keluarganya dapat melanjutkan usaha cermin.
“Selama puluhan tahun dagang saya memang nggak pernah urus penjualan. Bapak yang paham. Nggak pernah kepikiran siapa yang meninggal duluan. Ternyata dia duluan.
Tapi kalau dilepas juga sayang. Langganannya sudah banyak.”
“Mudah-mudahan… almarhum bakal memandu dari sana.”





Comments are closed.