Di perbukitan berhutan Amabi Oefeto, sebuah kecamatan di Kabupaten Kupang, pada suatu pagi yang terik. Lani yang berusia enam tahun bermain di tepi sungai. Ia terlihat memetik daun, bermain dengan ranting, dan melemparkan batu ke air. Naomi, ibunya, masih mengingat masa ketika pemandangan seperti ini menjadi keseharian Lani. “Dulu dia tidak punya teman bermain di rumah,” kenangnya, sambil memperhatikan Lani menyeka keringat wajahnya, dikutip dari laman UNICEF.
Karena kesempatan untuk berinteraksi dengan anak-anak lain sangat terbatas, Naomi khawatir Lani akan tumbuh menjadi anak yang pemalu dan kurang percaya diri. Ia pun memutuskan untuk mendaftarkan Lani ke satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Naomi berharap PAUD dapat memberikan hal yang belum bisa ia sediakan sepenuhnya di rumah: teman sebaya untuk bersosialisasi dan bermain. Ia juga percaya bahwa pendidikan sejak usia dini akan memberi Lani awal yang lebih baik untuk masa depannya.
Namun, tantangan lain segera muncul. Tinggal di desa terpencil yang berjarak sekitar 30 menit dengan berjalan kaki dari pasar terdekat membuat Naomi kerap kesulitan menyiapkan makanan bergizi sebelum sekolah. “Saya harus pergi cukup jauh ke Pasar Oesao untuk membeli bahan olahan sarapan Lani,” tutur Naomi. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak selalu memiliki bahan untuk dimasak, sehingga Lani terkadang harus berangkat sekolah dengan perut kosong.
Dampaknya terlihat ketika Lani berada di kelas. Anak yang lapar cenderung lebih sulit belajar, dan Lani pun mengalaminya. Ia mudah gelisah dan sulit berkonsentrasi. Menurut gurunya, Lani sering tampak kurang bersemangat saat bermain dan belajar bersama teman-temannya, sehingga ia belum dapat sepenuhnya memperoleh manfaat dari berbagai kegiatan yang dirancang untuk mendukung tumbuh kembangnya.
Pengalaman Lani mencerminkan tantangan yang lebih luas bagi banyak anak usia dini di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Akses terhadap layanan PAUD berkualitas masih terbatas. Provinsi ini mencatat Angka Partisipasi Kasar PAUD sebesar 31,78 persen (BPS, 2025), yang berarti hanya sekitar tiga dari sepuluh anak terdaftar di satuan PAUD. Angka ini masih berada di bawah rata-rata nasional sebesar 36,19 persen.
Jarak masih menjadi hambatan yang nyata
Namun, akses saja tidak cukup. Gizi juga berperan penting agar anak dapat belajar, tumbuh, dan mencapai potensi perkembangannya secara optimal. Malnutrisi—terutama kekurangan gizi dan defisiensi mikronutrien—masih menjadi tantangan besar di provinsi ini. Lebih dari satu dari tiga anak balita mengalami stunting, sementara satu dari enam anak mengalami wasting. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar satu dari lima anak balita mengalami stunting, dan satu dari 14 anak mengalami wasting (SSGI, 2024).
“Gizi sangat penting bagi perkembangan otak anak, terutama pada masa usia dini,” ujar Nugroho Warman, Spesialis Pendidikan UNICEF Indonesia. “Ketika anak-anak memperoleh akses terhadap pembelajaran usia dini yang berkualitas, disertai gizi dan pengasuhan yang baik, mereka akan lebih mampu berpartisipasi, belajar, dan membangun keterampilan yang mereka butuhkan untuk masa depan.”
Anak usia dini membutuhkan layanan yang lengkap dan terintegrasi—bukan hanya perlindungan, tetapi juga pengasuhan, gizi, kesehatan, dan pendidikan,” ujar Mareta Wahyuni dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Ia menekankan bahwa ketika mitra dari berbagai sektor bekerja bersama, anak-anak dapat memperoleh awal kehidupan yang terbaik.
Untuk menjawab berbagai tantangan yang saling berkaitan ini, Pemerintah Indonesia, dengan dukungan UNICEF, DBS Foundation, dan kerja sama pemerintah daerah, memperkuat layanan pengembangan anak usia dini yang terintegrasi di Kabupaten Kupang melalui inisiatif baru yang diluncurkan pada 2026.
Program terpadu ini menggabungkan dukungan gizi dan pendidikan untuk membantu memastikan anak-anak di satuan PAUD dapat tumbuh lebih sehat, belajar lebih baik, dan lebih siap memasuki jenjang sekolah dasar. Dukungan ini menargetkan setidaknya 5.270 penerima manfaat langsung melalui bantuan langsung maupun penguatan sistem. Penerima manfaat tersebut mencakup anak-anak yang terdaftar di PAUD dan sekolah dasar, orang tua, serta pengasuh, guru, dan kepala sekolah.
Komponen pendidikan dalam program ini berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran. Melalui pelatihan guru untuk memperkuat praktik pembelajaran di kelas dan penyediaan Kit PAUD yang berisi alat permainan edukatif serta bahan ajar, program ini mendukung guru untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan membantu anak membangun keterampilan dasar literasi dan numerasi yang kuat.
Komponen gizi dalam inisiatif ini berfokus pada peningkatan kualitas makanan yang disediakan pemerintah, sekaligus pemberian layanan gizi esensial, termasuk edukasi gizi, secara langsung kepada murid dan orang tua.
Karena pendekatan holistik seperti ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat, DBS Foundation menegaskan komitmennya.
“DBS Foundation berkomitmen untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar melalui peningkatan akses terhadap gizi dan kualitas pembelajaran, bersama UNICEF. Kami berharap program ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga membantu membangun sistem di sekolah, satuan PAUD, dan masyarakat sekitar agar anak-anak memiliki peluang yang lebih baik di masa depan,” ujar Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications, PT Bank DBS Indonesia.
Di sekolah Lani, para guru mulai menerapkan pembelajaran dari pelatihan yang mereka ikuti. Janet, salah satu guru, melihat anak-anak menjadi lebih terampil berbahasa melalui kegiatan bercerita. “Dengan menggunakan alat permainan edukatif yang kami perkenalkan, seperti boneka tangan, anak-anak mengembangkan kemampuan literasi melalui bermain peran dan bercerita kepada teman-temannya,” ujarnya.
Janet juga melihat perubahan yang jelas pada diri Lani. Ia kini memiliki banyak teman dan menjadi lebih percaya diri, bahkan dengan gembira berdiri di depan kelas untuk bernyanyi dan memimpin doa sebelum dan sesudah sekolah.
Para guru dan orang tua juga mulai melihat dampak positif dari peningkatan dukungan gizi dan pembelajaran terhadap kemampuan anak untuk berpartisipasi, berkonsentrasi, dan terlibat aktif, baik di kelas maupun di rumah.
Bagi Naomi, dampak gizi yang baik terlihat dari cara Lani berkembang. “Kalau Lani mendapat makanan bergizi, perubahannya terlihat menyeluruh,” katanya. Anak kecil yang dulu banyak menghabiskan waktu bermain sendiri kini bersemangat pergi ke sekolah untuk bertemu teman, menggambar, bernyanyi, dan belajar bersama teman-teman sekelasnya.
Meskipun program ini masih berada pada tahap awal, pemerintah daerah telah melihat ke depan untuk memastikan dampak jangka panjangnya, agar semakin banyak anak di Kabupaten Kupang dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. “Kami akan melanjutkan praktik-praktik baik yang dihasilkan melalui kemitraan ini dengan mengintegrasikannya ke dalam program-program daerah yang akan kami rancang,” ujar Martin Rahakbauw, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kupang.
Pemantauan berkala akan membantu menilai bagaimana dukungan gizi dan pembelajaran yang terpadu berkontribusi terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan kesiapan anak memasuki sekolah dasar. Pembelajaran dari proses ini akan membantu para pemangku kepentingan memperkuat dan menyempurnakan pendekatan yang digunakan, sekaligus meletakkan dasar untuk perluasan ke lebih banyak satuan PAUD dan sekolah dasar di Kabupaten Kupang.
Komitmen ini sejalan dengan kebijakan Indonesia tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD-HI), yang mengakui bahwa tumbuh kembang anak usia dini membutuhkan akses terhadap layanan terpadu di bidang pendidikan, kesehatan, gizi, dan perlindungan. Pendekatan ini turut mendukung upaya nasional untuk memperkuat pendidikan prasekolah, sehingga anak-anak memperoleh fondasi yang kuat sebelum memasuki sekolah dasar.
Harapan Naomi sederhana dan jelas: Lani dapat terus belajar, tetap sehat, dan memiliki kesempatan untuk meraih cita-citanya. “Saya berharap cita-citanya tercapai, seperti menjadi dokter,” katanya. Dengan dukungan yang lebih kuat bagi gizi dan pembelajaran usia dini, Lani kini memiliki fondasi yang lebih baik untuk tumbuh dan mencapai potensi terbaiknya—dikelilingi teman-teman, didampingi para guru, dan didukung oleh keluarganya.





Comments are closed.