Thu,30 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Ciri Orang yang Memendam Emosi dan Amarah, Kerap Ucapkan 9 Kalimat Ini

Ciri Orang yang Memendam Emosi dan Amarah, Kerap Ucapkan 9 Kalimat Ini

ciri-orang-yang-memendam-emosi-dan-amarah,-kerap-ucapkan-9-kalimat-ini
Ciri Orang yang Memendam Emosi dan Amarah, Kerap Ucapkan 9 Kalimat Ini
service

Jakarta

Marah adalah emosi yang normal, Bunda. Tetapi, menekan amarah dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental.

Ketika seseorang menyembunyikan emosi dan amarah, hal itu biasanya akan termanifestasi secara internal. Mereka mungkin menjadi pasif-agresif dan mati rasa, atau mengalami ledakan amarah dari waktu ke waktu.

Emosi dan amarah yang dipendam juga dapat muncul melalui ungkapan yang terlontar dalam percakapan sehari-hari. Simak kalimat yang diucapkannya oleh orang yang memendam emosi dan amarah berikut ini!

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalimat yang diucapkan orang saat memendam emosi dan amarah

Melansir dari beberapa sumber, berikut 9 kalimat yang kerap diucapkan oleh orang saat memendam emosi dan amarahnya:

1. ‘Mengapa ini selalu terjadi padaku?’

Dikutip dari laman Your Tango, ketika seseorang dipenuhi amarah tetapi menyembunyikannya, mereka cenderung mengalihkan kesalahan. Orang-orang ini memendam amarah, tetapi amarah itu malah keluar secara pasif-agresif dan membuat mereka sering menempatkan diri sebagai korban.

Mereka ingin orang lain mengakui keberadaan mereka, tetapi tidak ingin bertanggung jawab atas tindakan yang telah menyebabkan hal ini. Dalam situasi tersebut, orang-orang ini sering kali mengucapkan kalimat, ‘Mengapa ini selalu terjadi padaku?’.

2. ‘Ini bukan salahku’

Orang yang pemarah sering kali percaya mereka tidak pernah salah, sehingga mereka punya alasan kuat untuk merasa kesal ketika seseorang menegur. Alih-alih menerima situasi buruk dan melanjutkan hidup, mereka malah terus memikirkannya dalam waktu lama.

Kemarahan yang terpendam ini dapat muncul dalam hal-hal kecil di percakapan. Mereka mungkin tampak seperti mengalihkan kesalahan dan menolak mengakuinya, sehingga membuat orang lain merasa tidak nyaman.

3. ‘Lakukan apa yang kamu inginkan’

Jauh di lubuk hati, orang yang marah mungkin ingin seseorang bertanya apa yang salah dan mengakui bahwa mereka merasakan hal tertentu. Tetapi karena mereka tidak berterus terang, orang lain tidak bisa mengetahui isi hati tersebut.

Ketika seseorang mengatakan “lakukan apa yang kamu mau,” itu dapat berarti ia frustrasi dan bersikap pasif-agresif. Mereka tidak bersikap agresif secara terang-terangan, tetapi hal itu tetap menyakitkan bagi orang lain.

4. ‘Aku tidak mau membicarakannya’

Menurut psikoterapis Imi Lo, amarah yang dipendam dapat memberikan tekanan fisik pada tubuh seseorang. Individu yang memendam amarah dapat berbohong pada diri sendiri sesuka hati, tetapi semua amarah yang tersembunyi di bawah permukaan itu akan keluar pada suatu saat nanti.

Mereka mengatakan hal-hal seperti “Saya tidak mau membicarakannya” karena mereka tahu bahwa mereka sedang marah dan tidak ingin meledak, atau tidak ingin menghadapi masalah secara langsung. Mereka juga tidak ingin menerima kesalahan atau pertanggungjawaban atas perilaku mereka.

5. ‘Kamu selalu melakukan ini’

Orang yang suka menyembunyikan amarah kemungkinan besar akan melampiaskannya pada orang lain. Mereka menggunakan pernyataan absolut, seperti ‘selalu’ dan ‘tidak pernah’, karena percaya bahwa merekalah korban. Orang-orang ini suka mengatakan hal-hal seperti “Kamu selalu melakukan ini” kepada pasangan atau orang yang dicintai untuk menyalahkan mereka.

Menurut terapis Judith S. Beck, apa yang dikatakan seseorang saat marah tidak selalu sama dengan apa yang mereka yakini saat tenang. Kemarahan dapat membuat kita mengatakan hal-hal yang tidak kita maksudkan.

6. ‘Baik’

Ketika seseorang berbicara dengan kalimat pendek, seperti “Baik”, mereka mungkin menyembunyikan kemarahan dari orang lain. Alih-alih mengkomunikasikan perasaan, mereka memendamnya, sehingga keluar sebagai respons yang singkat dan lugas.

Bagi orang-orang di sekitar, hal itu sangat membuat frustrasi. Ketika mereka bosan menghadapi sikap pasif-agresif dan kejengkelan, mereka mungkin tidak ingin berada di lingkaran orang pemarah itu lagi, Bunda.

7. ‘Tidak apa-apa’

Dilansir The Economic Times, seseorang yang berulang kali bersikeras bahwa semuanya baik-baik saja, terutama saat marah, mungkin sebenarnya mencoba menghindari konflik. Mereka enggan mengungkapkan perasaan mereka yang sebenarnya.

Menurut penelitian psikolog James J. Gross tentang pengaturan emosi, menekan emosi dapat mengurangi ekspresi lahiriah tetapi tidak mengurangi pengalaman emosional itu sendiri. Sebaliknya, emosi yang tersembunyi sering kali tetap terpendam di dalam diri, dan dapat meningkatkan stres seiring berjalannya waktu.

8. ‘Jangan khawatir soal itu’

Kalimat ini sekilas terdengar sebagai ungkapan untuk memaafkan. Namun, ketika diucapkan dengan nada datar atau setelah seseorang terluka, ungkapan ini sebenarnya dapat menyampaikan kekecewaan daripada penerimaan.

Menurut penelitian Dr. John Gottman tentang hubungan, emosi negatif yang tidak terselesaikan sering kali menimbulkan rasa dendam, terutama ketika seseorang menghindari diskusi tentang konflik alih-alih menyelesaikannya bersama. Menghindari percakapan yang sulit mungkin dapat menjaga kedamaian untuk sementara waktu, tetapi dapat merusak hubungan seiring waktu.

Orang yang mengatakan ‘Jangan khawatir’ mungkin sebenarnya berharap seseorang menyadari bahwa mereka masih merasa kesal.

9. ‘Terserah’

Orang yang sedang marah juga sering mengucapkan kata ‘terserah’. Psikolog sering mengaitkan jenis respons ini dengan penarikan diri secara emosional. Alih-alih melanjutkan argumen, orang tersebut secara mental menarik diri karena mereka tidak lagi percaya bahwa mengungkapkan perasaan akan membuat perbedaan.

Menurut American Psychological Association (APA), penghindaran emosional adalah strategi mengatasi masalah yang umum ketika seseorang merasa kewalahan atau percaya bahwa mereka tidak akan dipahami. Meskipun ungkapan ‘terserah’ tampak acuh tak acuh, sebenarnya itu dapat mencerminkan frustrasi, kekecewaan, atau kelelahan emosional.

Demikian 9 kalimat yang kerap diucapkan oleh orang saat memendam emosi dan amarahnya. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/som)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.