Wed,29 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Agensi ‘Centyl’ Perempuan Muda di Industri Hipdut, Misogini Sudah Enggak Zaman

Agensi ‘Centyl’ Perempuan Muda di Industri Hipdut, Misogini Sudah Enggak Zaman

agensi-‘centyl’-perempuan-muda-di-industri-hipdut,-misogini-sudah-enggak-zaman
Agensi ‘Centyl’ Perempuan Muda di Industri Hipdut, Misogini Sudah Enggak Zaman
service

Apakah kamu termasuk golongan yang dengan enteng menikmati dentuman irama genre hipdut (hip-hop dangdut)? Atau justru merasa terganggu dengan makna liriknya yang sering kali kental akan pesan misoginis? 

Sebagai bagian dari generasi Z tertua, saya akui bahwa saya berada tepat di tengah spektrum yang membingungkan ini. Ada kalanya saya menikmati alunan lagunya. Namun tak jarang pula saya bergidik ngeri ketika mencerna lirik-liriknya yang secara gamblang mengobjektifikasi perempuan.

Fenomena hipdut sendiri lahir dari perkawinan silang antara hiphop dan dangdut. Ini dua genre besar yang, ironisnya, sama-sama memiliki sejarah panjang terkait eksploitasi sensualitas perempuan. 

Hiphop awalnya diciptakan sebagai suara perlawanan masyarakat minoritas, dalam hal ini kulit ‘hitam’ dan Latino, terhadap penindasan sistemik. Namun, seiring komersialisasi, genre ini bergeser menjadi media yang kerap mengagung-agungkan kejantanan sang “rapper“. Lantas, pesan misoginis menghiasi lirik-liriknya. 

Begitupun dengan dangdut yang lahir dari kelas pekerja sebagai suara murni akar rumput. Seiring waktu, dangdut bertransformasi menjadi industri hiburan yang sangat mengandalkan visualisasi eksploitatif dari tubuh perempuan.

Kedua genre ini menghasilkan bentuk eksploitasi yang serupa namun tak sama. Dalam kultur hiphop arus utama, perempuan sering diposisikan sebagai properti. Digambarkan secara peyoratif mengelilingi sang rapper dengan pakaian minim semata-mata untuk memvalidasi kekuasaan dan kekayaan laki-laki. Sementara di panggung-panggung dangdut, para biduan perempuan dituntut mengenakan pakaian ketat dan melakukan koreografi sensual demi memenuhi tuntutan pasar serta memancing saweran dari penonton laki-laki.

Ketika kedua genre ini dikawinkan menjadi hipdut, dinamika yang muncul menjadi sangat problematik. Coba dengarkan lagu-lagu hipdut yang naik daun belakangan ini, seperti Garam dan Madu atau Coba Lagi oleh Tenxi. Lagu-lagu ini menggambarkan hook-up culture yang tidak setara. 

Baca juga: Lagu Nadin Amizah dan Idgitaf Bantu Perempuan Berdamai Dengan Diri Sendiri

Perempuan lagi-lagi ditempatkan sebagai pihak yang pasif, direduksi menjadi objek piala untuk memperoleh validasi antar sesama laki-laki. Hal ini memunculkan kesan kuat bahwa musik hipdut mempromosikan budaya relasi yang manipulatif dan tidak sehat.

Sampai akhirnya, saya menemukan pesan tersirat mengenai feminisme dalam album terbaru Naykilla bertajuk Centyl dan single andalannya, Mine Mine Gueh. Di tengah kejenuhan narasi patriarkis, lagu-lagu Naykilla membangun agensi perempuan muda dalam hubungan romantis, melawan pemikiran misoginis yang selama ini mengakar dalam genre hipdut.

Secara psikologis, masa remaja dan dewasa muda adalah fase ketika kebutuhan akan pengakuan, penerimaan, dan eksplorasi seksual berada di puncaknya. Alhasil, mendapatkan ketertarikan dari orang lain memberikan suntikan dopamin yang cepat bagi harga diri mereka. Tak heran, hook up culture yang digambarkan dalam lagu-lagu hipdut memvalidasi pengalaman romantis para pendengarnya yang berada di tahap perkembangan remaja dan dewasa muda.   

Namun, hook-up culture yang digambarkan dalam hipdut arus utama saat ini perlu diluruskan. Pasalnya, ia secara persisten mengarahkan laki-laki untuk memperoleh perempuan sebagai alat validasi dari teman sebayanya. 

Maka kehadiran persona perempuan muda seperti Naykilla berperan krusial sebagai check and balance dalam  industri ini. Mereka memastikan bahwa perempuan tidak terus-menerus ditempatkan pada posisi rentan. 

Kita bisa melihat bagaimana keberanian Naykilla mendobrak pola tersebut dalam lagu So Asu. Melalui lirik, “Waktu ditinggalin ku gak mau kalah / Walau ku ngeselin aku gak pernah salah”, Naykilla secara gamblang menggambarkan ketegasan seorang perempuan muda yang menolak menjadi korban dalam hubungan yang toksik. 

Baca juga: Lirik Lagu Cengeng Mendominasi Pasar Lagu Indonesia, Menihilkan Perjuangan Perempuan

Kalimat “aku gak pernah salah” di sini tidak harus diartikan sebagai kebebalan ego semata. Melainkan sebuah bentuk pertahanan diri psikologis (psychological self-defense) dari perempuan yang menolak dimanipulasi atau di-gaslight oleh pasangan yang tidak menghargai dirinya.

Hal serupa ditemukan pada lagu ‘Skip Dulu Ah’ di album yang sama. Liriknya berbunyi, “So, jangan sentuh-sentuh aku / Aku udah enggak mau / Malam ini jangan ganggu / Ku mau coba yang baru / Jangan, jangan telepon aku”

Ia dengan sadar menetapkan batasan (boundaries) yang tegas terhadap orang yang sudah tidak dipilih olehnya. Mencinta dengan pilihan dan menolak dengan otoritas penuh atas tubuh sendiri adalah bentuk lain dari keberdayaan perempuan yang perlu terus digaungkan. 

Melalui lagu-lagunya, pendengar diajak belajar bahwa menjadi perempuan yang asertif, mandiri, dan berdaya dalam hubungan romantis adalah hal yang sepenuhnya valid.

Bagi feminisme sendiri, posisi ideal perempuan muda dalam hubungan romantis adalah sebagai mitra yang setara dan merdeka. Hubungan romantis seharusnya tidak menjadi ruang di mana perempuan muda kehilangan identitas atau agensinya, melainkan sebuah ruang aman untuk tumbuh bersama tanpa harus mengorbankan hak-hak dasarnya sebagai individu.

Pengalaman perempuan muda yang dituangkan dalam lagu-lagu Naykilla memuat pesan penting tentang membangun identitas diri yang sehat di tengah tekanan masyarakat. Sering saya melihat kritik tajam dilayangkan ke gaya fashion Naykilla yang nyentrik, terbuka, dan penuh warna. Beberapa melabeli “terlalu liar” sebagai seorang perempuan. Bukannya tunduk pada penilaian tersebut, ia justru dengan berani mempertegas kepribadiannya melalui lagu ‘My Mine Gueh’. Ia melantunkan lirik berikut.

Pake baju pasar, aku masih sabi (Ah) / Buat cewek yang di sana, jangan gampang menyerah / Kamu bisa juga jadi kayak gua.

Baca juga: Lagunya Bikin Empowering: Senang Berhasil War Tiket Taylor Swift

Pernyataan ini seakan meruntuhkan standar kecantikan elitis yang selama ini memaksa perempuan untuk berpenampilan sesuai dengan dikte masyarakat. Lebih jauh lagi, Naykilla secara sadar mengangkat label “centil” (atau, ‘centyl’) sebagai persona panggung dan identitas fesyennya. Padahal, selama ini kata “centil” lekat dengan konotasi negatif. Istilah yang sering digunakan oleh masyarakat patriarki untuk mendegradasi perempuan, seolah-olah menghakimi perempuan atas pilihannya terhadap tubuhnya sendiri. 

Namun, di tangan Naykilla, kata tersebut justru direbut kembali (reclaimed) dan diubah maknanya menjadi simbol kebebasan berekspresi. Kehadiran figur yang asertif seperti dirinya menjadi sangat penting bagi pembentukan karakter, terutama mengingat profil pendengar genre ini didominasi oleh remaja dan perempuan muda yang sering kali merasa pilihan hidupnya terkungkung oleh norma sosial.

Di balik judul albumnya yang terkesan main-main, terdapat manifesto politik tubuh dan relasi yang sangat serius. Naykilla menyebarkan pesan kesetaraan, memastikan bahwa suara, ruang gerak, dan pengalaman perempuan muda tidak lagi dikesampingkan, melainkan dirayakan.

Pertanyaan besar selanjutnya adalah: akankah spirit ini berjalan secara konsisten? 

Upaya Naykilla untuk menyisipkan keberdayaan perempuan dalam genre hipdut perlu diapresiasi. Produk budaya populer seperti inilah yang secara tidak sadar menanamkan nilai-nilai pada Generasi Z yang mendengarkannya. 

Namun, pesan feminis yang tersirat tanpa merombak struktur industri musik yang eksploitatif di belakang layar hanya akan menjadi strategi pemasaran label rekaman saja. 

Jika genre ini bisa bergeser dari sekadar ruang eksploitasi menjadi ruang unjuk gigi bagi kemandirian perempuan, maka itu adalah sebuah langkah maju yang patut kita kawal bersama.

Foto: Instagram Naykilla

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.