Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang wali murid di sekolah.
Ia adalah seorang breadwinner atau pencari nafkah utama, ibu yang membesarkan dua anak seorang diri setelah ditinggal suaminya.
Setiap pagi ia berjualan makanan ringan sebelum berangkat bekerja. Sore hari, ia masih mengurus rumah, membantu anak belajar, dan memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi.
Ketika saya mengatakan bahwa ia adalah sosok yang kuat, ia tersenyum tipis.
“Sebenarnya saya capek, Pak. Tapi kalau saya berhenti, anak-anak makan apa?”
Kalimat getir itu terus teringat hingga hari ini.
Baca Juga: Panggil Aku Kartini Saja: Membaca Buah Pikir “Kawan Kita Kartini”, Bukan “Ibu Kita Kartini”
Selama ini kita sering menyebut perempuan seperti dirinya sebagai perempuan tangguh. Media menulis kisah mereka sebagai inspirasi. Lingkungan sekitar memuji ketabahan mereka. Namun semakin saya memikirkannya, semakin muncul pertanyaan yang mengganggu : apakah mereka benar-benar sedang menunjukkan ketangguhan, atau sebenarnya sedang dipaksa bertahan karena tidak memiliki pilihan lain?
Pertanyaan ini penting karena cara kita memandang perempuan sering kali menentukan cara kita memperlakukan persoalan yang mereka hadapi.
Ketika seorang perempuan mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi, kita menyebutnya hebat. Kala seorang ibu mengurus keluarga seorang diri, kita menyebutnya luar biasa. Ketika perempuan bekerja sepanjang hari lalu tetap mengurus rumah tangga, kita menyebutnya sosok inspiratif.
Namun pujian-pujian itu terkadang menyembunyikan persoalan yang lebih besar: mengapa beban sebesar itu harus ditanggung seorang perempuan sendirian?
Ketika Kerja Perawatan Dianggap Kewajiban Alami
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak pekerjaan yang menopang kehidupan tetapi jarang dianggap sebagai pekerjaan.
Memasak, membersihkan rumah, merawat anak, mendampingi anggota keluarga yang sakit, hingga memberikan dukungan emosional sering kali dianggap sebagai tugas alami perempuan.
Padahal pekerjaan-pekerjaan tersebut membutuhkan waktu, tenaga, dan energi yang tidak sedikit.
Dalam perspektif feminis, pekerjaan ini dikenal sebagai care work atau kerja perawatan. Tanpa kerja perawatan, masyarakat tidak akan berjalan. Anak-anak tidak tumbuh dengan baik, lansia tidak terurus, dan rumah tangga kehilangan pondasinya.
Baca Juga: Suara Ibu yang Diabaikan di MBG: Jangan Cuma Peduli Angka di Atas Kertas Tapi Abaikan Kualitas
Sayangnya, kerja perawatan sering kali tidak dihargai secara ekonomi maupun sosial. Ia dianggap sebagai bentuk pengabdian yang seolah-olah wajib dilakukan perempuan tanpa keluhan.
Akibatnya, banyak perempuan menjalani apa yang disebut sebagai beban ganda. Mereka bekerja di ruang publik untuk mendapatkan penghasilan, tetapi tetap memikul tanggung jawab utama di ruang domestik.
Ketika mereka berhasil menjalankan semuanya, masyarakat memuji mereka sebagai perempuan kuat. Ketika mereka merasa lelah, masyarakat sering kali meminta mereka untuk lebih sabar.
Ketangguhan yang Tidak Dialami Semua Perempuan dengan Cara yang Sama
Namun pengalaman perempuan tidak pernah tunggal.
Perempuan miskin menghadapi tantangan yang berbeda dengan perempuan dari kelompok ekonomi mapan. Lalu perempuan disabilitas menghadapi hambatan tambahan berupa aksesibilitas dan stigma. Perempuan yang tinggal di daerah terpencil seringkali berhadapan dengan keterbatasan layanan kesehatan dan pendidikan. Sementara perempuan dari kelompok minoritas kerap mengalami diskriminasi berlapis.
Di sinilah pentingnya melihat persoalan dengan perspektif interseksional.
Interseksionalitas membantu kita memahami bahwa ketidakadilan tidak bekerja secara tunggal. Seorang perempuan bisa mengalami diskriminasi karena gendernya, sekaligus karena kondisi ekonomi, disabilitas, lokasi geografis, atau identitas sosial lainnya.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang perempuan, kita tidak bisa menganggap semua perempuan memiliki pengalaman yang sama.
Sebagai contoh, seorang ibu tunggal yang bekerja di sektor informal menghadapi risiko kehilangan penghasilan setiap hari. Ketika ia sakit, pendapatannya berhenti. Ketika anaknya sakit, ia harus memilih antara bekerja atau merawat anak. Dalam situasi seperti ini, tidak ada ruang untuk gagal.
Ketangguhan yang kita lihat sering kali lahir dari keterpaksaan.
Romantisasi Penderitaan Perempuan
Salah satu masalah terbesar dalam masyarakat kita adalah kecenderungan meromantisasi penderitaan perempuan.
Kita menyukai kisah perempuan yang berhasil melewati berbagai kesulitan, menjadikannya inspirasi. Kita membagikan ceritanya di media sosial, mengagumi kemampuannya bertahan.
Namun jarang sekali kita bertanya mengapa kesulitan itu ada sejak awal.
Mengapa masih banyak perempuan yang harus memilih antara bekerja dan merawat keluarga?
Kenapa pekerjaan perawatan masih dibebankan hampir sepenuhnya kepada perempuan?
Selain itu, mengapa perempuan dari kelompok miskin dan marginal sering kali menjadi pihak yang paling terdampak ketika terjadi krisis ekonomi?
Mengapa ketika sistem sosial tidak mampu memberikan perlindungan yang memadai, perempuan yang pertama kali diminta berkorban?
Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar memuji ketangguhan. Karena pujian tidak akan mengurangi beban mereka. Pujian tidak akan membayar biaya pendidikan anak. Pujian tidak akan menghadirkan layanan kesehatan yang lebih mudah diakses. Dan pujian tidak akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih adil.
Perempuan Bukan Jaring Pengaman Kegagalan Sistem
Ada kecenderungan yang berbahaya dalam cara kita memandang perempuan. Kita menganggap mereka sebagai pihak yang selalu mampu menyelesaikan masalah.
Ketika ekonomi keluarga terguncang, perempuan diminta berhemat. Saat anak mengalami kesulitan belajar, perempuan diminta mendampingi. Ketika anggota keluarga sakit, perempuan diminta merawat. Ketika negara, pasar, dan berbagai institusi sosial gagal menjalankan fungsinya secara optimal, perempuan sering kali menjadi jaring pengaman terakhir.
Padahal perempuan bukanlah solusi atas semua kegagalan sistem. Mereka adalah manusia yang juga memiliki keterbatasan, kebutuhan, dan hak untuk hidup dengan layak.
Masyarakat yang adil bukanlah masyarakat yang menghasilkan perempuan-perempuan super yang mampu menanggung semua beban. Masyarakat yang adil adalah masyarakat yang memastikan beban tersebut dibagi secara lebih setara.
Dari Ketangguhan Menuju Keadilan
Perempuan tidak membutuhkan lebih banyak pujian atas pengorbanannya.
Mereka membutuhkan dukungan yang nyata. Mereka membutuhkan akses pendidikan yang setara, layanan kesehatan yang terjangkau, perlindungan sosial yang memadai, lingkungan kerja yang adil, serta pembagian kerja domestik yang lebih setara.
Sudah saatnya kita berhenti mengagumi perempuan hanya karena mereka mampu bertahan dalam kondisi yang tidak adil. Sebab tujuan keadilan bukan membuat perempuan semakin kuat menghadapi penderitaan.
Tujuan keadilan adalah memastikan mereka tidak harus terus-menerus hidup dalam penderitaan yang sama. Ketika seorang perempuan berkata bahwa ia lelah, mungkin yang ia butuhkan bukan pujian atas ketangguhannya.
Mungkin yang ia butuhkan adalah masyarakat yang akhirnya mau mendengar, memahami, dan bersama-sama mengubah keadaan. Karena tidak semua kelelahan harus dirayakan sebagai ketangguhan.
Sebagian kelelahan adalah tanda bahwa sesuatu dalam sistem kita memang perlu diperbaiki.





Comments are closed.