Wed,12 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Deleg Deleg

Deleg Deleg

deleg-deleg
Deleg Deleg
service
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Oleh: Dahlan Iskan

Dua sejoli sudah disepakati untuk berjanji sehidup semati. Deleg Deleg Kini mereka sedang berjuang untuk hidup; semoga tidak keburu mati: Two Countries Twin Parks.

Seperti itulah kondisi ”iklim ekonomi” kita saat ini. Semangat membangun ekonomi kalah dengan gegap gempita politik.

Tahun pemilu masih jauh tapi persiapannya sudah memakan tenaga: ada yang korupsi untuk menghadapi pemilu, ada juga yang memberantas korupsi sekadar untuk menghadapi pemilu.

Pembangunan “iklim ekonomi” terabaikan. Termasuk program Two Countries Twin Parks.

Sebenarnya ide itu baik sekali. Kita tidak sekadar mengundang investor asing untuk membangun kawasan industri di Indonesia. Sudah banyak industrial park biasa di Indonesia. Tapi belum ada yang dibangun secara khusus: berdasar ”perkawinan kawasan industri”.

Maka dua negara sepakat untuk memulainya: Tiongkok dan Indonesia. Lokasi kawasan industrinya juga sudah ditunjuk: yang di Indonesia berlokasi di Batang, Jateng. Yang di Tiongkok di provinsi Fujian. Kawasan industrinya di dekat ibu kotanya, Fuzhou.

Kalau ide itu terlaksana maka dua kawasan industri itu sebenarnya dibuat ”sepasang”. Setiap pabrik yang di sini punya hulu di sana. Setiap pabrik di sana punya hulu di sini. Tergantung di mana bahan bakunya.

Seandaianya bahan bakunya ada di Indonesia maka proses menjadikan barang setengah jadinya di Batang. Dikirim ke pabrik sejoli yang di sana. Begitu juga sebaliknya.

Sudah dua tahun kelanjutan pembicaraan soal Two Countries Twin Parks ini slow down. Tidak pernah lagi terdengar langkah majunya. Saling tunggu.

Pihak kawasan industrinya sendiri tentu tidak bisa menunggu dan menunggu. Perusahaan apa pun, begitu investasi sudah dikeluarkan, harus berpikir keras kapan mulai ada pemasukan. Terpaksalah kawasan industri mencari pengusaha yang mau membangun pabrik di lokasinya: tidak lagi harus yang sifatnya sejoli. Apa saja diterima. Yang ideal menjadi pragmatis.

Memang banyak masalah yang masih harus dibicarakan di kedua belah negara. Persoalan yang paling nyata adalah ketentuan bea masuk dan pajak ekspor. Two Countries Twin Parks tidak akan ada gunanya kalau tidak ada perlakuan khusus. Tidak cukup dengan tax holiday dan kemudahan perizinan. Harus sampai ke pembebasan bea masuk di kedua sisi.

Itu bukan mustahil. Bahkan mudah. Tinggal menjadikan kawasan industri yang ditunjuk sebagai kawasan berikat (bonded zone). Atau 粘结区. Toh kita sudah punya kawasan seperti itu. Bahkan sudah sembilan lokasi. Mulai dari Medan, Karawang sampai Morowali.

Deleg Deleg

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan closing statement dalam acara “The City of Blessings” China-Indonesia Economic and Trade Exchange dan Matchmaking Conference Two Countries Twin Parks, Rabu, 26 November 2025.-Ekon.go.id-Ekon.go.id

Rasanya sudah lama kita tidak membahas ide-ide pengembangan ekonomi. Perhatian kita terus ke perebutan pengaruh kekuatan dan kekuasaan. Kalau toh masih ada yang seru dalam pembahasan ekonomi itu adalah bahasan tentang Koperasi Desa Merah Putih dan pengaruh MBG pada ekonomi di bawah.

Kita memang harus mengejar ”uceng dalam jumlah yang amat banyak” tapi tidak boleh kehilangan ”satu deleg”.

Waktu tumbuh besar di desa saya suka cari ikan. Tapi saya tidak pernah tahu ikan yang mana yang disebut ”ikan uceng”. Juga tidak pernah tahu yang mana ikan wader yang lebih besar yang bernama ”deleg”. Tapi Anda pun tahu maknanya: kejar yang kecil kehilangan yang besar.

Tentu yang dikejar koperasi desa Merah Putih adalah uceng, tapi karena jumlahnya sangat banyak bisa lebih bermakna dibanding satu deleg.

Meski begitu tetap saja tidak boleh kehilangan deleg. Agar tidak deleg-deleg –Wilwa pasti tidak tahu makna deleg-deleg dalam bahasa Mandarin.(Dahlan Iskan)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.