Jakarta, Arina.id—Muktamar ke-35 NU (Nahdlatul Ulama) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tak hanya menjadi ruang untuk membahas masa depan organisasi.
Di balik hiruk-pikuk persiapan dan dinamika permusyawaratan, terselip pesan spiritual yang dituangkan melalui theme song resmi Muktamar ke-35 NU.
Lagu bertajuk “Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul” tersebut hadir dengan karakter yang cukup unik. Syairnya menggunakan bahasa Arab dengan pola metrum Bahr Wafir, sementara aransemen musiknya memadukan warna musik Timur Tengah dengan sentuhan khas Nusantara.
Lebih dari sekadar lagu pembuka sebuah hajatan besar, karya tersebut membawa pesan tentang harapan, amanah, perjuangan, dan doa bagi perjalanan Nahdlatul Ulama ke depan.
Yang menarik, vokal lagu tersebut diisi oleh dua perempuan dari kalangan dzurriyah, yakni keturunan keluarga pendiri dan masyayikh pesantren. Mereka adalah Lia Nikmah Wafira, yang akrab disapa Ning Vira, dan Ning Majdah.
Bagi Ning Vira, dipercaya menjadi salah satu pengisi suara theme song Muktamar merupakan pengalaman yang penuh makna.
Ia menyebut keterlibatan tersebut bukan sekadar kesempatan tampil dalam agenda nasional, tetapi sebuah amanah yang membawa nama besar keluarga pesantren.
“Ini adalah amanah dan kebanggaan yang sangat berharga bagi kami. Lagu ini diharapkan menjadi pepiling (pengingat) agar Muktamar melahirkan pemimpin yang amanah, visioner, mandiri, serta terus berpegang pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyyah,” ujar Ning Vira, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, pesan yang dibawa lagu tersebut juga menjadi ajakan bagi warga Nahdliyin untuk tidak melupakan akar perjuangan para ulama terdahulu.
“Mari kita bersama-sama menjaga agama, merawat bangsa, dan meneruskan perjuangan para masyayikh serta pendahulu NU,” tambahnya.
Nuansa haru juga dirasakan Ning Majdah ketika mendapat kepercayaan mengisi vokal lagu untuk salah satu forum terbesar NU tersebut.
Ia mengaku tidak menyangka dapat menjadi bagian dari karya yang dipersembahkan untuk Muktamar ke-35 NU.
“Rasa bahagia dan tidak menyangka bisa dipercaya untuk acara sebesar Muktamar nasional ini. Ini adalah bentuk rasa syukur dan kontribusi kecil kami dari dzurriyah untuk Nahdlatul Ulama,” kata Ning Majdah.
Menariknya, proses produksi lagu tersebut berlangsung dalam waktu relatif singkat. Proses pengambilan vokal di studio bahkan dapat diselesaikan hanya sekitar satu hingga dua jam.
Ning Vira sebelumnya telah mempelajari materi lagu. Sementara Ning Majdah baru menerima dan mendalami materi tersebut pada hari pelaksanaan rekaman.
Meski demikian, proses rekaman tetap berjalan lancar. Adaptasi cepat serta kesiapan keduanya membuat seluruh bagian vokal dapat diselesaikan tanpa kendala berarti.
Salah satu bagian penting dalam Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul memuat ungkapan “Bi farhatin, bi hamdillah, bi syukrillahi, wa ridwanillah.”
Pesan tersebut menggambarkan semangat menerima amanah dengan kegembiraan, memperbanyak pujian dan rasa syukur kepada Allah SWT, serta mengarahkan setiap ikhtiar untuk mendapatkan keridaan-Nya.
Pesan tersebut terasa relevan dengan semangat Muktamar ke-35 NU yang tidak hanya berbicara tentang pergantian dan kepemimpinan organisasi, tetapi juga tentang bagaimana NU menjaga tradisi, merawat nilai keagamaan, serta memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.
Dari Bumi Tambakberas, yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan NU, lagu tersebut akhirnya menjadi semacam pesan doa yang dinyanyikan.
Bait demi bait membawa harapan agar Muktamar menghasilkan keputusan terbaik, menghadirkan kepemimpinan yang amanah, serta memperkuat khidmat NU kepada umat dan Indonesia.
“Semoga seluruh rangkaian acara Muktamar berjalan lancar, penuh hikmah membawa keberkahan, dan mendapat keridaan Allah SWT,” kata Ning Majdah.




Comments are closed.