London, Arina.id — Jason Arday, mantan profesor Universitas Cambridge yang mengundurkan diri setelah terseret kontroversi dugaan plagiarisme, ditemukan meninggal dunia di sebuah alamat di kawasan London Selatan, Inggris, Jumat (14/8/2026).
Universitas Cambridge mengonfirmasi kabar duka tersebut. Arday yang berusia 41 tahun ditemukan dalam kondisi tidak responsif pada Jumat sore di kawasan Battersea, London.
Kepolisian Metropolitan London mengatakan, petugas sebelumnya menerima laporan dari London Ambulance Service mengenai seorang pria yang ditemukan tidak responsif di sebuah properti.
“Seorang pria berusia 41 tahun dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian,” kata kepolisian dalam keterangannya dikutip Sabtu (15/8/2026).
Polisi menyatakan kematian tersebut untuk sementara diperlakukan sebagai kejadian yang tidak terduga, tetapi tidak diyakini mencurigakan. Berkas penyelidikan akan diserahkan kepada koroner untuk menentukan langkah selanjutnya.
Wakil Rektor Universitas Cambridge Deborah Prentice menyampaikan kesedihan mendalam atas kabar tersebut. “Kami sangat sedih mendengar kabar tragis ini,” kata Prentice dalam pernyataan singkat.
Keluarga Arday juga menyampaikan pernyataan melalui penerbitnya, Simon & Schuster. Mereka mengkritik apa yang disebut sebagai “kampanye pelecehan” yang muncul setelah berbagai tuduhan terkait karya akademik dan kehidupan pribadi Arday.
“Kampanye misinformasi tersebut terlalu berat bagi Jason, yang merupakan sosok lembut dan selalu ingin melihat sisi terbaik dalam diri setiap orang,” kata keluarga Arday.
Terseret Dugaan Plagiarisme
Kontroversi terhadap Arday mencuat setelah sejumlah akademisi dan pemberitaan media menuduh adanya bagian dari tesis doktornya yang diduga merupakan hasil plagiarisme.
Arday sebelumnya dikenal sebagai profesor kulit hitam termuda di Cambridge ketika diangkat pada 2023. Tuduhan tersebut kemudian mendapat perhatian luas dari sejumlah media dan komentator sayap kanan Inggris.
Sebagian pihak mengaitkan pengangkatan Arday dengan kebijakan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi atau diversity, equality and inclusion (DEI).
Pada 5 Agustus 2026, Arday mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan profesor di Universitas Cambridge sekaligus sebagai anggota Jesus College. Keputusan tersebut disampaikan setelah universitas mengumumkan penyelidikan terhadap sejumlah tuduhan yang ditujukan kepadanya.
Dalam surat yang dipublikasikan secara daring, Arday mengatakan pengunduran diri merupakan “satu-satunya cara” untuk mengakhiri periode yang sulit. Namun, ia menegaskan keputusannya tidak boleh dianggap sebagai pengakuan terhadap berbagai narasi yang berkembang mengenai dirinya.
Arday Bantah Tuduhan Penipuan Akademik
Dalam wawancara dengan The Times pada awal Agustus 2026, Arday mengakui adanya sejumlah “kesalahan” dalam pekerjaan akademiknya. Namun, ia membantah gambaran bahwa dirinya merupakan pembohong, pengarang cerita fiktif, atau penipu akademik.
Arday juga menuding kampanye untuk mencopot dirinya dari jabatan profesor bermotif rasial.
Kontroversi tersebut kemudian memicu perdebatan di lingkungan Universitas Cambridge dan komunitas akademik yang lebih luas.
Sejumlah akademisi Cambridge mengirim surat kepada Prentice pada pekan lalu untuk mempertanyakan pengangkatan Arday serta meminta penyelidikan independen terhadap berbagai persoalan yang muncul. Di sisi lain, akademisi lainnya menyampaikan dukungan kepada Arday melalui surat bersama.
Prentice sebelumnya menyebut dugaan pelanggaran yang dilakukan Arday sebagai sebuah “penyimpangan” dan berjanji melakukan penyelidikan secara menyeluruh serta transparan.
Ia juga menegaskan kontroversi tersebut tidak boleh digunakan untuk memberikan stigma terhadap akademisi lain dari kelompok minoritas etnis.
Penyelidikan Cambridge disebut akan mengkaji keadaan terkait proses pengangkatan Arday serta masa jabatannya. Universitas juga berencana melibatkan akademisi dari luar Cambridge dalam proses tersebut.
Polisi: Kematian Tidak Diyakini Mencurigakan
Kepolisian Metropolitan London menyatakan penyelidikan atas kematian Arday masih berlangsung. Petugas dari Central South Command Unit menangani perkara tersebut dan laporan akan disiapkan untuk koroner.
Menteri Pendidikan Inggris Lucy Powell mengaku terkejut dan sangat berduka atas kabar meninggalnya Arday. Ia meminta masyarakat memberikan privasi kepada keluarga Arday selama menghadapi masa sulit tersebut.
Sementara itu, kontroversi terhadap Arday juga meluas setelah seorang akademisi Amerika Serikat, Nathan Cofnas, mempublikasikan sejumlah tuduhan terhadapnya pada Juli 2026.
Tuduhan tersebut antara lain menyebut adanya beberapa bagian dalam disertasi doktoral Arday yang diduga disalin dari karya lain. Sejumlah media Inggris, termasuk The Times dan The Telegraph, kemudian menerbitkan laporan investigasi mengenai karya akademik dan kehidupan pribadi Arday.
Beberapa klaim mengenai kehidupan pribadinya juga dipertanyakan, termasuk pernyataan bahwa ia pernah menyelesaikan 30 maraton dalam 35 hari dan menggalang dana jutaan dolar untuk kegiatan amal.
Memoar Arday berjudul Great and Unfortunate Things juga menjadi sorotan. Buku tersebut diterbitkan di Amerika Serikat sehari sebelum kabar kematiannya dan dijadwalkan terbit di Inggris pada akhir Agustus 2026.
Hingga kini, polisi menyatakan kematian Arday tidak diyakini sebagai kejadian yang mencurigakan. Penyelidikan dan proses pemeriksaan oleh koroner masih berlangsung.




Comments are closed.