Pidato Prabowo kemarin mengecewakan. Ini bukan tak pendapat saya saja. Ada banyak akademisi dan pakar memiliki argumen yang sama. Pernyataan Presiden di luar forum pun tak kalah menyesakkan. Prabowo terkesan menyederhanakan permasalahan di Palestina hanya pada urusan keamanan belaka. Dan ini sepertinya sudah menjadi preseden Prabowo atas genosida di Palestina.
Kemarin (07/10) menjadi peringatan invasi serangan Israel ke ke wilayah Gaza. Majalah Tempo pun menurunkan edisi khusus mengulas hal ini. Pesannya pun jelas. Perlawanan atas penindasan dan penjajahan adalah perjuangan ingatan, melawan lupa. Ini kata Milan Kundera. Kekerasan, penjajahan, hingga genosida di Palestina pun begitu.
Konflik di Palestina tidak terjadi baru dua tahun lalu. Meletus sejak lama, bahkan terbilang berabad-abad. Dan hingga hari ini tidak ada tanda-tanda selesai. Hari ini, di Gaza saja, puluhan ribu korban merengang nyawa. Jutaan orang harus mengungsi dan kehilangan tempat tinggal.
Ekonomi pun ambruk. Luka ini takkan mudah, bahkan mungkin tidak akan, benar-benar pulih. Struktur sosial rusak, keluarga terpecah-pecah, kondisi warga yang kelaparan, hingga keruntuhan mental pun dirasakan warga Palestina. Sepertinya ini tak menjadi perhatian Pemerintah Indonesia. Padahal sebagian besar warganya bersuara keras melawan itu semua atas nama kemanusiaan, juga tak sedikit memakai narasi agama.
Memang, ekspresi dan narasi dukungan atas Palestina jelas berbeda-beda. Cara kita menggambarkan dan menunjukkan dukungan pun tak sama. Namun, harapan besar ekspresi dukungan ini bisa mendesak komunitas internasional bersikap lebih tegas untuk penyelesaian konflik di Palestina. Sayangnya, Negara sepertinya tidak sejalan dengan suara warganya.
***
Dukungan atas sikap Negara, lewat diplomasi Prabowo, pun tetap terdengar. Bahkan terlihat “sengaja” diamplifikasi. Bahkan, saya mendapati video ungkapan dukungan seorang otoritas agama. Menariknya, sosok ulama ini terbilang cukup vokal dan gigih memperjuangkan Palestina. Saya masih belum mengerti mengapa beliau malah mendukung diplomasi “setengah hati” ala Prabowo kemarin. Ya, kita cukup menghormatinya sebagai bagian dari perbedaan pendapat.
Suara-suara kita sebagai warga mungkin terhitung lirih, bahkan mungkin saja tak terdengar. Namun, bukan berarti, usaha kita berhenti di sini. Dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan tuntutan agar Israel bertanggung jawab atas kerusakan serta korban akibat konflik, yang masih berlangsung bisa dilakukan dengan banyak cara.
Sastra pun menjadi alternatif. Eigar Keret, penulis, menggunakan cerita pendek (cerpen) satire dalam menggambarkan bagaimana kondisi di Palestina. Kekesalan, kemarahan, kebingungan, hingga beragam kejadian sehari-hari dijalani Keret seakan menggambarkan apa yang terjadi di konflik Palestina. Ia pun tak ragu menertawakan, menyindir, dan mengungkapkan kebenciannya.
Potongan paragraf paling saya suka dari karya Keret adalah kala ia menggambarkan anaknya. Keret pernah membayangkan anaknya sebagai seorang psikopat. Ia melihat anaknya seakan sosok sosok Chucky di beberapa film produksi Amerika, yakni bertemperamen tinggi, tidak berpikiran suci, tidak punya sedikit pun moralitas.
Keret melihat rasisme, ketidaksetaraan, hingga ketidaksensitifan menjadi ciri khas bayinya dan Chucky. Mereka, kata Keret, hanya peduli keinginan dipenuhi, bahkan tak ragu untuk menghancurkan dunia untuk itu. “Tunjukkan saja tombol penghancur (dunia) tersebut kepadanya. Dia takkan ragu memencetnya tanpa berpikir dua kali” tulis Keret.
Di cerpen “Telpon dan Tanggapan,” Keret menggambarkan keprihatinannya dengan tak kalah unik. “Di Timur Tengah, orang merasa kemungkinan kematian mereka lebih besar daripada di mana pun di dunia sehingga menyebabkan sebagian penduduk mengembangkan tendensi agresif kepada orang asing, yang mencoba untuk membuang sedikit waktu mereka yang tersisa di bumi” pungkas Keret.
Sikap agresif itu ia gambarkan lewat tokoh istri dalam cerpennya. Sebagai simbol dari keterancaman yang terus menghantui warga Palestina. Hidup mereka dikepung ketakutan akan bom, granat, dan peluru, hingga membuat keramahan menjadi kemewahan yang sulit dijaga.
***
Hegemoni dan penjajahan Israel atas Palestina, menurut Noam Chomsky dan Ilan Pappe, keduanya penulis, bisa dilawan diantaranya dengan mendesak masyarakat Internasional untuk bersikap dan bertindak nyata. Sayangnya, banyak kepala negara belum tegas untuk mendesak dan melakukan tindakan nyata menghentikan aneksasi Israel di tanah Palestina.
Solusi dua negara didorong oleh Prabowo. Pertanyaan sejuta umat pun berseliweran? Apakah solusi ini tepat untuk menyelesaikan genosida di Palestina? Pendapat para pakar dan akademisi masih belum yakin, solusi ini bisa menyelesaikan permasalahan genosida, perebutan lahan, hingga pengusiran atas warga Palestina.
Luka-luka akibat hegemoni hingga penjajahan yang dilakukan otoritas Israel, hingga hari ini masih berlangsung. Edward Said, penulis, memberikan penegasan atas implikasi atas penjajahan Israel di Palestina. Bagai luka yang tak akan pernah benar-benar sembuh. erasaan kehilangan dan terbuang melekat akibat pendudukan ilegal, perampasan tanah, dan pembersihan etnis Palestina oleh Israel.
Belum lagi jika kita kejahatan Israel atas kelaparan, malnutrisi, hingga penghilangan nyawa seakan menjadi pemandangan sehari-hari di Palestina. Pada akhirnya, penderitaan rakyat Palestina bukan sekadar isu politik, tapi tragedi kemanusiaan yang terus dibiarkan.
Selama dunia masih ragu bersuara tegas, luka itu akan tetap menganga. Keadilan tidak akan lahir dari kompromi setengah hati, melainkan dari keberanian menolak penindasan dalam bentuk apa pun. Kapan Indonesia, lewat Negara, bisa bersikap keras? Entahlah. Sebab, Negara tidak memiliki kemewahan sebagaimana Keret lewat sastra.





Comments are closed.