Fri,1 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Menelusuri Kiri Islam Hassan Hanafi, Manhaj al-Fikr wa al-Harakah umat Islam Abad Ini

Menelusuri Kiri Islam Hassan Hanafi, Manhaj al-Fikr wa al-Harakah umat Islam Abad Ini

menelusuri-kiri-islam-hassan-hanafi,-manhaj-al-fikr-wa-al-harakah-umat-islam-abad-ini
Menelusuri Kiri Islam Hassan Hanafi, Manhaj al-Fikr wa al-Harakah umat Islam Abad Ini
service

Pada dekade tahun 1980an, muncul seorang pemikir Islam asal Mesir mengagas sebuah pemikiran yang masyhur dikenal dengan sebutan al-Yasar al-Islami atau Kiri Islam, ya tidak lain dan tidak bukan dialah Hassan Hanafi.

Mungkin kita akan merasa sedikit kaget, Kiri? Islam kok Kiri? wajar, karena Kiri seringkali didefinisikan sebagai Sosialis, Marxis, atau Komunis. Namun, Kiri Islam Hassan Hanafi memiliki definisi yang berbeda; Hassan Hanafi berulang kali mengatakan dalam tulisannya terkait Kiri Islam adalah sebuah gerakan progresif revolusioner yang mengadakan perlawanan terhadap status quo.

Dalam hal ini, Hassan Hanafi mengadakan perlawanan terhadap dua hal yakni imperialisme dan kolonialisme yang dilakukan oleh Barat dan kejumudan umat Islam yang ditengarai disebabkan oleh penguasa di dunia Muslim itu sendiri.

Nah, coba lihat! apa yang dilawan oleh Hassan Hanafi dalam Kiri Islam-nya bukankah sama dengan apa yang sedang kita hadapi saat ini?

Barat sudah mulai mendominasi kehidupan diberbagai sektor, cara hidup barat mulai menggeser nilai-nilai kehidupan lokal, kehidupan kolektif masyarakat kita mulai bergeser kepada pola hidup individualis ala Barat; hal ini bermula pada anggapan bahwa untuk menjadi modern maka harus berkiblat kepada Barat. Terlebih lagi, kehidupan kita hari ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat; tentu pengaruh barat akan lebih mudah untuk masuk.

Mungkin, jika Mustafa Kemal Attaturk hidup pada zaman ini, ia tak perlu capek-capek menyebabkan gonjang-ganjing memasukkan westernisasi dalam doktrin Alti ok-nya, karena hari ini masyakat telah terwesternisasi dengan sendirinya.

Selain itu, pada abad ini bukan hanya kebudayaan Barat yang mulai mendominasi, sahabat kapitalisnya yakni Korea Selatan mulai menunjukkan taringnya. Saya ambil contoh yang paling sederhana saja, standarisasi kecantikan ala Korea Selatan yang kini seolah menjadi standarisasi universal.

Tak ayal, jika hari ini banyak dijumpai para perempuan yang motivasi make up-nya untuk menjadi Shining, Shimmering, Splendid layaknya kulit perempuan Korea Selatan yang jika terkena matahari sinarnya dapat memantul dan membuat silau. Padahal, mereka tau bahwa kebanyakan perempuan Indonesia memiliki kulit yang sawo matang, akhirnya mereka menggunakan foundation berlapis yang tidak sesuai warna kulitnya hanya untuk terlihat cantik.

Tentu dapat dikatakan bahwa ini merupakan imperialisme gaya baru; sehingga, kalau ini dibiarkan, tentu akan memunculkan degradasi nilai, moral, dan kebudayaan kita. Kemungkinan terburuk, nilai, moral, dan budaya kita akan hilang tak berbekas.

Pada sisi yang lain, Islam hari ini tengah mengalami berbagai macam persoalan, mulai dari kemiskinan hinga berbagai macam bentuk penindasan; seperti halnya yang sedang terjadi pada rakyat Palestina oleh Zionis Israel.

Selain itu, kemiskinan masih erat mencengkram kebanyakan umat Islam; mulai dari sebagian daerah di Afrika hingga Indonesia. Meski Indonesia dikata adalah tanah surga, kemiskinan masih menjerat sebagian besar rakyatnya. Tidak berhenti disitu, ketertidasan yang terjadi tidak berangkat dari ruang hampa, melainkan penyelewengan kekuasaan dan korupsi yang terjadi menjadi salah satu faktor utama. Jika mengacu pada sila ke-5 “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” maka fenomena ini adalah sebuah bentuk kecacatan moral yang dimiliki oleh orang-orang yang berada dalam lingkar kekuasaan. Lantas, sebagai seorang muslim apa yang harus kita lakukan?

Hassan Hanafi dalam Kiri Islamnya menawarkan berbagai alternatif dalam menyikapi berbagai persoalan tersebut. Dalam menghadapi situasi ini, Hassan Hanafi menawarkan mekanisme Turas wa Tajdid yakni melakukan rekonstruksi terhadap epistemologi yang diwariskan dari para ulama terdahulu dan melakukan pembaruan agar relevan dengan kehidupan kontemporer; mekanisme ini juga masyhur di Indonesia dengan sebutan lain yakni al-Mukhafadhotu ‘ala Qadim al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah (menjaga hal-hal lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik).

Dalam konteks barat, tentu tidak ada kebutuhan untuk menjadi barat jika ingin menjadi manusia yang modern. Oleh karena itu, Hassan Hanafi mempopulerkan istilah Oksidentalisme sebagai kontras dari Orientalisme.

Dalam hal ini, Barat cukup hanya menjadi objek kajian bukan subjek dari peradaban, sehingga Barat harus segera dikembalikan kepada batas-batas alamiahnya dengan cara menolak mitos bahwa Barat adalah pusat dari peradaban dunia.

Hal ini didasarkan kepada argumentasi Hassan Hanafi yang menyebutkan bahwa kemodernan yang didefinisikan oleh Barat belum tentu sama dengan kemodernan dalam perspektif peradaban timur; kemodernan Barat tidak lah universal dan bukan tolak ukur utama kemajuan.

Nah, jika Hassan Hanafi pada waktu itu hanya berfokus kepada hegemoni Barat, pada abad ini kita juga harus memperlakukan hal yang sama terhadap Korea Selatan; kembalikan budaya mereka ke batas-batas alamiahnya.

Lalu, bagaimana dengan kemunduran umat Islam?

Hassan Hanafi dengan sangat tegas menawarkan mekanisme Re-oreientasi Teologi.

Bagi Hassan Hanafi, pada saat ini sudah seharusnya tidak lagi berdebat persoalan ketuhanan, seperti yang pernah terjadi pada Asy’ariyah, Maturidiyah, Mu’tazilah dan kawan-kawan di masa lalu.

Teologi hari ini seharusnya berorientasi pada pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan, karena hal inilah yang benar-benar nyata menjadi persoalan abad ini.

Hal ini sejalan dengan tanggung jawab manusia sebagai Khalifatullah fi al-Ardh bukan Khalifatullah ‘Aninnafsi. Jika Barat harus dikembalikan kepada batas-batas alamiahnya, Islam harus dikembalikan kepada makna revolusionernya seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW; bukankah sudah jelas dalam al-Qur’an bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlaq?

Tentu makna penyempurnaan akhlaq disini jangan dikebiri menjadi penyempurnaan akhlaq egois yang hanya berorientasi pada hubungan manusia dengan tuhan (Halumminallah), akan tetapi terdapat variabel lain yang harus berjalan beriringan yakni hubungan manusia dengan sesama manusia dan alam (Hablumminannas dan Hablumminal’alam).

Hal ini membawa kita kepada pemahaman bahwa tolak ukur kesempurnaan akidah tidak dilihat dari pemikiran spekulatif tentang siapa tuhan akan tetapi melalui gerakan yang berorientasi kepada pembebasan dari berbagai bentuk penindasan.

Sehingga, umat Islam tidak sibuk dalam praktik beragama yang elitis dan saling mengkafirkan satu sama lain yang hanya akan membawa umat kepada kehancuran.

Oleh karena itu, perlu adanya reformasi paradigma befikir umat Islam hari ini. Kiri Islam Hassan Hanafi dapat menjadi alternatif dalam menanggapi berbagai persoalan umat yang kini tengah mengahadapi hegemoni barat dan berbagai bentuk penindasan.

Teologi tidak boleh lagi hanya berputar pada aspek metafisis akan tetapi juga harus bergerilya pada tataran praksis. Sejalan dengan ungkapan Hassan Hanafi, “Revolution and Religion blend very well”. Islam jangan dikebiri dengan pemahaman bahwa ajarannya hanya seputar ritual peribadatan yang berorientasi pada persoalan ukhrowi, hal ini akan menafikan tanggung jawab kita sebagai Khalifatullah fi al-Ardh. Oleh karena itu, kita tidak boleh lupa pada akar historis kemunculan Islam; sejak awal kemunculannya, ia membawa visi revolusioner yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.