Arina.id-Salah satu janji besar artificial inteligence (AI) adalah membantu menyembuhkan penyakit yang selama ini membingungkan umat manusia. Walaupun hal itu belum sampai ke sana, tetapi kini teknologi kecerdasan buatan tersebut telah menciptakan virus baru yang layak dan tidak ditemukan di alam—merupakan salah satu pencapaian teknis yang mengesankan sekaligus mengguncang pemikiran.
Dikutip dari Gizmodo, para peneliti di Arc Institute yang berbasis di Palo Alto, California Amerika Serikat (AS) percaya bahwa mereka telah mencapai sesuatu yang diyakini baru dengan menggunakan permodelan AI untuk memproduksi genom virus anyar dengan mengajarkan model cara mengenali struktur DNA dari berbagai virus yang ditemukan di alam, kemudian menugaskannya untuk membuat resep virus baru.
Setelah permodelan tersebut—model bahasa genom yang disebut Evo—menciptakan beberapa opsi, para ilmuwan menciptakan molekul-molekul dan mencampurnya dengan bakteri untuk melihat reaksi apa yang akan terjadi. Menurut para peneliti yang merinci eksperimen tersebut dalam sebuah studi yang diterbitkan Kamis di Jurnal Science, bakteri ternyata menghasilkan virus yang mampu menyebar menginfeksi bakteri lain.
Eksperimen ini disertai beberapa peringatan anti-pesimis. Pertama, proses sintesis virus sudah ada jauh sebelum AI muncul, jadi bagian dari eksperimen ini hanyalah alat yang sudah ada dalam perangkat peneliti virus. Kedua, virus ini bukan ancaman bagi manusia dan hanya dapat menginfeksi bakteri. Hal itu memang disengaja, karena DNA yang diambil model AI adalah virus yang relatif tidak berbahaya yang dikenal sebagai Phi X-174.
Ada juga fakta bahwa AI benar-benar berusaha keras untuk mencapai tujuannya. Menurut The New York Times, para peneliti meminta Evo menghasilkan 700.000 genom potensial, lalu mempersempitnya menjadi sekitar 300 yang mereka buat di laboratorium. Hanya 16 di antaranya yang terbukti layak. Ini sangat berbeda dengan Teorema Monyet Tak Terbatas (Inifinite Monkey Theorem), tapi tingkat keberhasilannya cukup rendah.
Namun itu mungkin belum cukup untuk menenangkan pikiran siapa pun yang khawatir tentang bagaimana teknologi tersebut mungkin dimanfaatkan. Model ini membutuhkan ratusan ribu upaya untuk menghasilkan beberapa virus yang layak, tetapi yang berhasil dilaporkan mampu mengatasi resistensi pada dua strain E. Coli, yang menunjukkan bahwa mereka lebih dari sekadar tiruan kasar dari virus yang ada secara alami.
Jurnal Science memuat artikel pendamping bersama studi yang ditulis oleh Profesor Tom Inglesby dan Dr. Moritz Hanke dari Center for Health Security di Johns Hopkins University. Mereka mengeluarkan peringatan tentang terobosan tersebut. “Meskipun ini menjanjikan untuk aplikasi ilmu hayati, hal ini juga menimbulkan pertanyaan mendesak tentang biosafety dan biosecurity,” tulis mereka. “Kemampuan untuk menyusun genom virus menggunakan AI generatif kini sudah ada; namun tata kelola untuk mengarahkannya dengan aman tidak demikian.”
Untuk itu, National Institutes of Health mengeluarkan kebijakan baru minggu lalu mencegah penelitian ilmu hayati berisiko tinggi dengan melarang ilmuwan melakukan eksperimen yang dapat membuat agen biologis menjadi lebih berbahaya. Namun, kebijakan tersebut tidak membatasi riset berbasis AI.
“Penelitian yang murni komputasi (yaitu, in silico) yang mungkin mencakup pengembangan model komputasi dan perangkat lunak, atau menggunakan cara tersebut untuk merancang bentuk agen biologis baru, tidak dilarang oleh kebijakan ini kecuali melibatkan entitas yang menjadi perhatian,” demikian dokumen tersebut.
Entitas yang menjadi perhatian menyiratkan sesuatu yang sudah ada—Times menyebut cacar sebagai contoh yang jelas. Tapi bagaimana jika mereka menciptakan virus baru yang berbahaya? Lalu, bagaimana aturan itu berlaku? Ini hanya skenario mimpi buruk lain yang sepertinya akan sulit dikendalikan dan akan menghantui tidur Anda tiap malam.



Comments are closed.