Kolam kecil berukuran 4×5 meter dan kedalaman tiga meter melengkapi sawah-sawah di Dusun Nawungan, Kelurahan Selopamioro, Bantul, Yogyakarta. Para petani menyebutnya sebagai embung penampung hujan. Hingga awal Mei, hujan masih mengguyur Yogyakarta. Petani di Nawungan memanfaatkan embung untuk mengairi bawang merah yang mereka tanam sejak April. “Sebelum ada embung hujan ini saya cuma menanam padi gogo sama singkong aja, hasilnya serba pas-pasan. Itu sekitar 1980-1990-an,” kata Sabaryanti, petani perempuan di Nawungan. Lahan di sana memang berada di wilayah perbukitan kering. Walhasil, air hujan menjadi menjadi satu-satunya sumber pengairan area persawahan yang berbatasan langsung dengan Gunungkidul di sisi timurnya ini. Sejatinya, ada dua mata air di Nawungan tetapi debitnya tak tak memungkinkan untuk mengairi seluruh area sawah. Kondisi ini menyebabkan petani di sana tak mungkin menanam saat kemarau, sebelum muncul inisiatif embung hujan di awal milenium. Berbekal semangat gotong royong, embung hujan mulai banyak untuk petani di sana. Sabariyanti pun masih ingat saat dia bikin kolam-kolam itu bersama petani lain pada era 2000-an itu. “Waktu itu bikinnya kerja bakti, jadi sistemnya gantian. Seperti saya bantu dulu ke petani lain, setelah rampung baru dibantu yang lainnya menggarap di lahan saya,” katanya. Setelah embung jadi, Sabaryanti pertama kali memanfaatkan untuk menanam tembakau. Komoditas itu dia pilih karena harga tinggi dan tak butuh banyak air. Seiring waktu, petani menambah kapasitas dengan memperlebar ukuran embung. Termasuk milik Sabaryanti kini memiliki kapasitas 80 meter kubik hingga mampu menopang pertanian bawang merah dan cabai yang dia budidayakan selama musim kemarau. Salah satu embung hujan yang digunakan petani…This article was originally published on Mongabay
Embung Hujan, Cara Petani Bantul Hadapi Kekeringan
Embung Hujan, Cara Petani Bantul Hadapi Kekeringan





Comments are closed.