Dengarkan artikel ini:
Audio ini dibuat menggunakan AI.
Ketika FIFA diguncang kritik, kedekatan dengan pusat kekuasaan bisa menjadi aset sekaligus risiko. Apakah relasi Erick Thohir dan Gianni Infantino menguntungkan Indonesia, atau justru berpotensi menjadi beban reputasi secara personal di dalam negeri jika orbit kekuasaan induk olahraga sepak bola berubah arah?
Dalam astronomi politik, ada hukum yang jarang berubah: semakin dekat sebuah aktor dengan pusat gravitasi kekuasaan, semakin besar energi yang ia peroleh.
Namun, pada saat yang sama, semakin besar pula risiko yang harus ia tanggung ketika pusat gravitasi itu mulai bergetar.
Di dunia sepak bola global, pusat gravitasi tersebut bernama FIFA. Selama satu dekade terakhir, kepemimpinan Gianni Infantino berhasil mengonsolidasikan pengaruh FIFA melalui ekspansi kompetisi, peningkatan pendanaan federasi anggota, perluasan Piala Dunia, hingga berbagai proyek pembangunan sepak bola di negara-negara berkembang.
Bagi banyak federasi nasional, kedekatan dengan pusat kekuasaan FIFA bukan sekadar simbol diplomasi olahraga, melainkan aset strategis yang dapat membuka akses terhadap sumber daya, perhatian politik, dan peluang institusional di dalam negeri.
Indonesia termasuk salah satu negara yang menikmati momentum tersebut. Hubungan positif antara Ketua Umum PSSI Erick Thohir dan Presiden FIFA Gianni Infantino terlihat dalam berbagai kesempatan publik, mulai dari pasca tragedi Kanjuruhan hingga pembukaan kantor FIFA Hub di Jakarta. Termasuk, dukungan Erick secara personal atas kandidasi Infantino kembali sebagai Presiden FIFA inkumben di 2027.
Dalam perspektif diplomasi olahraga, hubungan seperti ini lazim dianggap sebagai modal politik yang bernilai tinggi.
Namun sejarah organisasi internasional mengajarkan sesuatu yang lebih rumit. Persahabatan dengan pusat kekuasaan selalu tampak indah ketika matahari sedang bersinar. Persoalan muncul ketika badai mulai mendekat.
Kini, FIFA menghadapi salah satu ujian legitimasi terbesar dalam era Infantino. Kritik terhadap rencana FIFA Forward Enterprise, sebuah entitas komersial bernilai sekitar USD 20 miliar yang dirancang untuk mengelola aset-aset komersial FIFA, memicu gelombang resistensi dari sejumlah konfederasi besar.
Tiga konfederasi besar yang dihuni negara dan fans terbesar, yakni UEFA, CONCACAF, dan AFC secara terbuka mempertanyakan proses pengambilan keputusan, transparansi, serta arah tata kelola organisasi.
Bahkan mulai muncul pembicaraan mengenai reformasi struktural, kompetisi alternatif, hingga tantangan terhadap kepemimpinan Infantino menjelang pemilihan FIFA berikutnya.
Di sinilah pertanyaan yang lebih menarik muncul. Bukan apakah Erick Thohir terlalu dekat dengan Infantino.
Melainkan, bagaimana nilai sebuah kedekatan berubah ketika legitimasi pusat kekuasaan mulai diperdebatkan?
Bayangan Legitimasi
Sosiolog Jerman Robert Michels pernah mengemukakan konsep Iron Law of Oligarchy, yaitu semakin besar sebuah organisasi, semakin besar kecenderungannya dikuasai oleh kelompok elite yang relatif sempit.
FIFA, dengan lebih dari dua ratus asosiasi anggota dan jaringan bisnis bernilai miliaran dolar, tidak kebal terhadap logika tersebut.
Dalam teori elite network, relasi personal bukan sekadar hubungan antarindividu, melainkan merupakan infrastruktur kekuasaan. Jaringan menentukan akses. Akses menentukan pengaruh. Pengaruh menentukan distribusi manfaat.
Karenanya, kedekatan Erick Thohir dengan Gianni Infantino dapat dibaca sebagai bentuk kapital politik internasional.
Bagi Indonesia, relasi tersebut berpotensi memperbesar visibilitas, mempercepat komunikasi dengan pusat pengambilan keputusan FIFA, serta memperkuat posisi PSSI dalam berbagai agenda strategis sepak bola global.
Namun, teori legitimasi institusional mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bergantung pada kekuatan formal, melainkan juga pada persepsi mengenai keabsahannya.
Ketika legitimasi seorang pemimpin dipertanyakan, gelombang keraguan sering kali meluas melewati batas individu dan menjalar ke seluruh jaringan yang mengelilinginya.
Fenomena ini dikenal dalam literatur manajemen reputasi sebagai reputational spillover effect. Reputasi bekerja seperti tinta di atas air, tidak berhenti pada satu titik, tapi menyebar.
Dalam konteks tersebut, tantangan terbesar bagi PSSI bukanlah kedekatan dengan FIFA. Tantangan terbesarnya adalah memastikan bahwa kedekatan itu selalu dipahami sebagai hubungan institusional, bukan ketergantungan personal.
Sebab sejarah FIFA menunjukkan bahwa rezim datang dan pergi, sementara federasi nasional harus tetap bertahan.

Harga Kedekatan Erick
Pelajaran paling berharga justru datang dari masa lalu. Era João Havelange berakhir dengan kontroversi terkait hak komersial FIFA dan kasus ISL yang mengguncang kredibilitas organisasi.
Era Sepp Blatter kemudian runtuh di tengah skandal korupsi yang dikenal luas sebagai FIFA-Gate, menyeret berbagai tokoh dari federasi nasional maupun konfederasi regional ke dalam pusaran investigasi dan krisis reputasi.
Reformasi FIFA pasca-2015 bahkan menjadi fondasi utama yang mengantarkan Infantino ke kursi kepresidenan.
Polanya hampir selalu sama. Ketika rezim sedang kuat, kedekatan dianggap aset. Ketika rezim melemah, kedekatan mulai ditafsirkan ulang.
FIFA sebagai pengelola organisasi global harus menjaga kepercayaan seluruh anggota. Ketika sebagian anggota merasa suara mereka tidak cukup terwakili, pertanyaan tentang akuntabilitas akan muncul secara alami.
Kritik terhadap proses pengambilan keputusan dalam kontroversi FIFA Forward Enterprise memperlihatkan gejala tersebut.
Bagi Erick Thohir dan PSSI, masa depan hubungan ini sangat bergantung pada arah perkembangan FIFA sendiri. Termasuk preseden saat pimpinan federasi nasional tak jarang dikaitkan dengan isu tak positif di tengah pusaran “gate”.
Jika Infantino berhasil mempertahankan legitimasi dan memenangkan kembali dukungan mayoritas anggota, maka kedekatan dengan pusat kekuasaan FIFA akan tetap menjadi aset strategis yang bernilai tinggi.
Namun, apabila tekanan reformasi semakin membesar, atau muncul koalisi yang berhasil mendorong perubahan kepemimpinan FIFA, maka seluruh jaringan politik yang terbentuk selama era Infantino akan memasuki fase penyesuaian baru.
Termasuk, probabilitas interpretasi keterkaitannya dengan dinamika dalam negeri tempat sebuah federasi memilih keberpihakannya, serta nasib sang pimpinan federasi nasional tersebut.
Oleh karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah apakah Erick berada di pihak yang benar atau salah.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah PSSI sedang membangun pengaruh yang berbasis pada individu, atau pengaruh yang berbasis pada institusi?
Sebab dalam politik sepak bola global, loyalitas kepada seorang pemimpin bisa membawa keuntungan jangka pendek.
Tetapi legitimasi institusional adalah satu-satunya mata uang yang bertahan ketika rezim berganti.
Dan sejarah FIFA menunjukkan, yang paling berbahaya bukanlah berada dekat dengan pusat kekuasaan. Yang paling berbahaya adalah ketika pusat kekuasaan itu mulai kehilangan gravitasinya. (J61)





Comments are closed.