Saat memutuskan untuk menonton ‘Hokum’, aku mengira film ini akan menjadi tipikal film horor. Misalnya, dengan sebuah kisah menyeramkan tentang penyihir, kutukan, dan teror supranatural yang menghantui ruang bawah tanah sebuah hotel tua di tempat terpencil.
Di satu sisi, seperti kebanyakan film horor pada umumnya, perhatian penonton ‘Hokum’ difokuskan pada sosok penyihir yang misterius dan menyeramkan. Sejak awal, penonton dibangun untuk mencurigai dan takut kepada figur perempuan yang diasosiasikan dengan witchcraft. Kita juga dibuat takut pada kekuatannya dan berbagai hal buruk yang mungkin ia lakukan.
Namun, setelah seluruh lapisan cerita terbuka, terdapat satu hal yang terbesit di benakku dan sempat mengganggu pikiranku. Sang penyihir rupanya bukanlah sosok yang paling menyeramkan dalam film ini.
Disutradarai oleh seorang Damian McCarthy, sineas asal Irlandia, Hokum secara singkat menceritakan perjalanan seorang penulis bernama Ohm Bauman yang datang ke sebuah hotel terpencil. Hotel ini sarat sejarah kelam dan legenda tentang seorang penyihir yang menghuni ruang bawah tanahnya. Seiring berjalannya cerita, terungkap bahwa konflik utama dalam film ini tidak berakar pada sihir maupun kutukan. Melainkan sebuah tragedi yang melibatkan seorang housekeeping hotel bernama Fiona dan seorang resepsionis hotel bernama Mal.
Pada suatu hari, Fiona dikabarkan menghilang dan tidak ada seorang pun yang dapat menemukannya. Hingga akhirnya, Ohm Bauman memutuskan untuk memasuki sebuah ruangan terlarang di hotel tersebut dan menemukan jasad Fiona di ruang bawah tanah. Melalui rekaman suara yang ditemukan di dekat jenazahnya, terungkap bahwa Fiona pernah menjalin hubungan dengan Mal yang ternyata telah beristri. Ketika Fiona dikabarkan sedang mengandung, Mal mendesaknya untuk menggugurkan kandungan tersebut demi menjaga reputasi dan menyembunyikan perselingkuhannya. Akan tetapi, Fiona menolak.
Keputusan itu berujung pada tindakan yang jauh lebih kejam. Mal akhirnya meninggalkan Fiona sendirian di ruang bawah tanah hingga meninggal dunia. Maka, sebelum film ini menghadirkan teror supranatural, Hokum terlebih dahulu menunjukkan bentuk kekerasan yang sangat lekat dengan manusia. Yakni seorang perempuan yang harus menanggung konsekuensi dari tindakan laki-laki yang menolak bertanggung jawab.
Dengan demikian, film ini menghadirkan paradoks yang menarik. Perhatian penonton terus tertuju pada sosok penyihir, sementara laki-laki yang menjadi penyebab awal tragedi justru tidak diposisikan sebagai sumber ketakutan yang utama.
Paradoks tersebut mengingatkanku pada bagaimana perempuan sering kali direpresentasikan dalam budaya populer. Dalam banyak film horor, perempuan kerap ditempatkan sebagai sosok yang misterius, tidak dapat diprediksi, dan harus ditakuti. Penyihir menjadi salah satu representasi yang paling umum. Sosoknya tidak hanya hadir sebagai karakter antagonis, tetapi juga sebagai simbol dari perempuan yang dianggap berbeda dan berada di luar batas norma sosial.
Pandangan ini seirama dengan gagasan Barbara Creed dalam buku The Monstrous-Feminine: Film, Feminism, Psychoanalysis (1993). Ia menyatakan bagaimana perempuan dan feminitas sering kali digambarkan sebagai hantu atau sosok yang mengerikan sebagai sumber teror dalam film horor. Penampilan, keberadaan, dan kekuatan perempuan direpresentasikan sebagai sesuatu yang mengancam sehingga pantas untuk dicurigai. Akibatnya, penonton akan terbiasa untuk mengaitkan perempuan dengan teror dan bahaya, sementara laki-laki lebih sering diposisikan sebagai pihak yang rasional atau bahkan sebagai penyelamat.
Motif serupa tampak dalam film Hokum. Sejak awal, atensi penonton ditujukan kepada sosok penyihir yang menghuni ruang bawah tanah. Eksistensinya menjadi pusat ketakutan sekaligus misteri yang perlu dipecahkan. Namun, ketika seluruh cerita mulai terbongkar, terlihat bahwa tragedi terbesar dalam film ini justru timbul dari tindakan seorang laki-laki biasa.
Menariknya, Mal tidak memiliki satu pun kekuatan supranatural. Ia tidak mengutuk siapa pun dan tidak pula meneror para penghuni hotel dengan sihir. Akan tetapi, keputusan yang ia buat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar daripada teror yang diberikan sang penyihir. Demi melindungi reputasi dan kepentingan pribadinya, Mal memilih untuk mengorbankan Fiona. Kehidupan seorang perempuan dianggap dapat disingkirkan ketika keberadaannya mulai mengancam kenyamanan laki-laki.
Di sinilah perilaku patriarki dalam film ini terlihat dengan jelas.
Sosiolog feminis bernama Sylvia Walby dalam bukunya yang berjudul Theorizing Patriarchy (1990) memaparkan patriarki sebagai sistem struktur sosial yang menempatkan laki-laki mempertahankan dominasi atas perempuan. Dalam sistem tersebut, perempuan sering kali menjadi pihak yang memikul konsekuensi terbesar, sementara kebutuhan laki-laki ditempatkan nomor satu. Apa yang dialami Fiona mencerminkan situasi tersebut. Ketika terjadinya kehamilan, tubuh Fiona menjadi medan perdebatan. Namun, keputusan final justru berada di tangan Mal. Fiona kehilangan hak atas hidupnya, sementara Mal berusaha mempertahankan status, reputasi, dan kenyamanannya.
Sebagai seorang perempuan, bagian inilah yang meninggalkan sebuah jejak di hati dan pikiranku. Bukan karena kisah tentang penyihir yang menakutkan, melainkan karena kejadian yang dialami oleh Fiona terasa begitu nyata. Sepanjang sejarah, perempuan sering kali diletakkan sebagai pihak yang harus menanggung akibat dari perbuatan laki-laki. Mereka menanggung stigma, rasa malu, hingga kekerasan yang seharusnya tak pernah menjadi beban mereka. Selain itu, dalam banyak kasus, perempuan bahkan lebih mudah disalahkan dibandingkan laki-laki yang menjadi penyebab utama masalah tersebut.
Namun, barangkali di situlah letak ironi terbesar film ini. Menariknya, sang sutradara—Damian McCarthy dalam wawancaranya dengan Sonya Alexander di majalah Scriptmag, mengungkap bahwa kata ‘Hokum’ berarti nonsense atau sesuatu yang tidak masuk akal. Sekilas, pemilihan judul tersebut terdengar seperti merepresentasikan kisah legenda supranatural yang mengelilingi hotel dalam film ini. Ketika kita sibuk takut pada hal-hal yang dianggap tidak masuk akal, seperti penyihir, kutukan, dan teror supranatural, film ini justru menunjukkan bahwa ancaman yang paling nyata berasal dari manusia itu sendiri.
Karena itu, Hokum tidak hanya dapat dilihat sebagai film horor tentang penyihir dan kutukan saja. Film ini juga dapat dilihat sebagai refleksi mengenai bagaimana masyarakat membangun ketakutan terhadap perempuan sembari mengabaikan bentuk-bentuk kekerasan yang jauh lebih nyata. Sosok penyihir memang menjadi wajah dari horor yang ditampilkan di film ini, tetapi akar tragedinya tetap berasal dari seorang laki-laki yang memilih dirinya sendiri di atas hidup seorang perempuan.
Pada akhirnya, yang paling menyeramkan dari film Hokum bukanlah penyihirnya. Yang paling menyeramkan adalah kenyataan bahwa perempuan masih terlalu sering dijadikan objek ketakutan, sementara laki-laki yang menciptakan penderitaan mereka tidak selalu dikenali sebagai ancaman. Dan mungkin, di situlah horor sesungguhnya berada. Bukan pada sosok penyihir yang menghuni ruang bawah tanah, melainkan pada realitas bahwa kekerasan terhadap perempuan sering kali jauh lebih nyata daripada cerita-cerita yang selama ini kita takuti.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)
(sumber foto: IMDB)





Comments are closed.