Sat,25 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Asap Rokok Perbesar Risiko Tuberkulosis pada Anak

Asap Rokok Perbesar Risiko Tuberkulosis pada Anak

asap-rokok-perbesar-risiko-tuberkulosis-pada-anak
Asap Rokok Perbesar Risiko Tuberkulosis pada Anak
service

Stop TB Partnership Indonesia (STPI) bersama Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) punya cara unik merayakan Hari Anak Nasional dengan mengangkat keterhubungan isu tuberkulosis (TB) dan rokok di X-Space. Kedua organisasi ini menyatakan penyakit TB menjadi ancaman serius bagi anak, dalam satu jam ada 17 nyawa melayang karena TB.

STPI dan IYCT menyebut permasalahan TB dan rokok perlu ditangani secara serius pemangku kebijakan, sebab isu TB belum menjadi perhatian publik dibanding dampak besarnya penyakit tersebut.

Data TB dunia pada 2024 menunjukkan 135 ribu kasus TB pada anak usia 0-14 tahun di Indonesia. Sehingga,  Indonesia menempati peringkat kedua kasus tuberkulosis dunia. Selain itu, jumlah anak aktif sebagai perokok mencapai 5,9 juta orang. Menurut Masyarakat sipil yang tergabung pada gerakan Save Our Surrounding (SOS) kondisi ini memperparah beban penanganan TB karena asap rokok melemahkan sistem saluran pernapasan dan membuka jalan risiko infeksi menjadi penyakit aktif.

Dokter Anak Shela Putri Sundawa mengatakan paparan asap rokok, baik rokok konvensional maupun rokok elektrik, sama-sama membawa dampak buruk terhadap kesehatan paru-paru anak. Menurutnya, kondisi tersebut membuat anak lebih rentan alami tuberkulosis aktif.

“Mau rokok elektrik, vape, atau rokok konvensional akan membuat paru-paru menjadi tidak bagus, tidak baik. Risiko seseorang terkena TB menjadi lebih mudah,” katanya, Kamis 23 Juli 2026.

Shela yang juga influencer kesehatan ini mengatakan anak dari keluarga perokok berisiko lebih tinggi terkena TB. Anak yang memiliki kontak erat dengan pasien TB bisa memperoleh terapi pencegahan tuberkulosis (TPT). Terapi ini penting untuk dijalani mengingat dapat mengurangi terkena TB. Pemilihan terapi pada anak akan beda dengan orang dewasa, karena disesuaikan berdasarkan usia dan kondisi pasien.

Shela bilang, meski asap rokok tidak secara langsung menyebabkan infeksi TB, tetapi ia akan berpengaruh pada keadaan tubuh anak. Paparan asap rokok mengganggu fungsi saluran napas, memperburuk status gizi, nafsu makan berkurang, dan menghambat proses penyembuhan.

“Pasien yang sembuh dari TB tetap berisiko terkena penyakit paru lain apabila terus merokok atau kena asap rokok, seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK),” ujar Shela.

Ia mendorong pemerintah melakukan perluasan akses layanan diagnosis dan pengobatan TB. Shela menyebut pemeriksaan laboratorium TB ekstra paru khususnya mengalami kesulitan untuk dijangkau masyarakat pelosok.

Akses pemeriksaan di daerah terpencil masih perlu dipermudah. Seperti dukungan pembiayaan, riset, pengembangan vaksin,” katanya. Shela berharap vaksin TB agar segera diuji di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif IYCTC Manik Marganamahendra menyoroti tingginya jumlah perokok aktif di Indonesia yang mencapai 77 juta orang. Hal tersebut didasari promosi rokok yang masih mudah ditemukan di berbagai media, papan reklame, dan materi promosi di warung-warung, membuat anak-anak rentan terpapar iklan rokok.

“Ini permasalahan yang genting dan perlu segera ditangani secara serius. Promosi rokok masih mudah diakses anak-anak, dan masyarakat umum,” katanya.

Terlebih, kata Manik, budaya merokok dianggap sesuatu hal normal. Padahal, setiap tahunnya 600 ribu orang meninggal akibat rokok. Lebih parah dibanding jumlah korban Covid-19 selama 3 tahun. Saat ini, tantangan terberat di Indonesia normalnya perilaku merokok di ruang publik, sekolah, mall, taman, keluarga, dan rumah.

Berdasarkan riset kampus Universitas Indonesia dengan Imparsial College London, 78,4 persen rumah tangga di Indonesia tercemar asap rokok. Ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat paparan tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Fakta ini, menurut Manik, memberikan sinyal kuat perlunya perluasan konsep Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang tidak hanya menyasar fasilitas umum, namun juga lingkungan anak.

Bagi Manik, secara regulasi Peraturan Pemerintah (PP) No 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan telah mengakomodasi kepentingan perlindungan terhadap anak. Namun, kata Manik, aturan teknis dari PP ini masih terkendala dan menyebabkan gangguan perlindungan masyarakat dari asap rokok jadi lambat.

Manik menerangkan PP 28 Tahun 2024 menyebutkan larangan penempatan iklan rokok dalam radius 500 meter dari sekolah dan penjualan 200 meter. Hal ini membutuhkan pengawalan ketat di lapangan. Ia berharap pemerintah memperkuat implementasi pengendalian rokok, sebab industri rokok masih memanfaatkan celah promosi.

“Ini tanggung jawab pemerintah. Makanya, koordinasi lintas kementerian untuk penanganan rokok dan penyakit TB harus jadi tanggung jawab bersama bukan Kementerian Kesehatan saja,” ujarnya.

Ketua Yayasan STPI Donal Pardede menceritakan, saat ini pendekatan penanganan TB berubah dari mode pasif menjadi aktif dengan cara menemukan kasus di masyarakat. STPI, misalnya, melakukan skrining langsung dengan masyarakat agar penderita lebih cepat ditemukan.

Donal menyebut deteksi dini bertujuan meningkatkan peluang kesembuhan untuk penderita sekaligus memutus penularan rantai penyakit. Ia menilai eliminasi TB menunjukkan perkembangan, namun komitmen pemerintah secara tingkatan masih belum merata.

“Semangat komitmen eliminasi TB bukan hanya besar di pusat, tapi juga harus turun pada level tingkatan provinsi, kabupaten atau kota, agar ini target eliminasi TB tercapai,” katanya.

Data Kementerian Kesehatan 2025 mencatat estimasi 1.092.000 kasus TB setiap tahunnya. Donal bilang, angka kematian anak terhitung tinggi akibat penyakit TB. Donal mengatakan, TB anak sering terlambat terdeteksi akibat gejala yang timbul tidak spesifik. Orang tua kerap menganggap gejala akibat TB sebagai penyakit umum, dan baru menyadari situasi ketika sudah buruk dalam waktu lama.

“Begitu dignosa telat, risiko terbesar bukan sakit, tapi juga mengganggu tumbuh kembang fisik dan kognitif di masa emas anak. Ini akibat menganggap sepele berat badan susah naik atau demam oleh orang tua,” katanya.

Donal juga berharap generasi emas bebas dari TB. “Anak-anak tidak lagi kehilangan masa depan atau nyawa akibat penyakit, yang seharusnya bisa diobati dan dicegah.”

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.