KABARBURSA.COM – Geely mengonfirmasi pencapaian penting dalam pengembangan baterai mobil listrik berteknologi canggih. Baterai mobil listrik solid state ini dikembangkan secara internal oleh Geely.
Salah satu raksasa otomotif Tiongkok ini menargetkan penyelesaian paket baterai Solid State pertama pada 2026, yang kemudian akan dipasang dan diuji langsung pada kendaraan.
Informasi tersebut dilaporkan 21 Finance pada 22 Januari. Laporan ini mengonfirmasi bahwa Geely siap mengembangkan proyek baterai Solid State dari tahap riset laboratorium menuju verifikasi tingkat kendaraan.
Tahap ini dinilai menjadi fase krusial sebelum inovasi Geely ini masuk ke pengujian lanjutan hingga sampai ke proses produksi.
Namun, sementara ini, Geely belum mengungkap platform kendaraan yang akan digunakan untuk pengujian baterai Solid State, termasuk jadwal lanjutan terkait uji ketahanan, sertifikasi, maupun rencana produksi massal.
Meski begitu, langkah ini dinilai akan menempatkan Geely sejajar dengan sejumlah produsen otomotif Tiongkok yang mulai membawa teknologi Solid State ke tahap implementasi nyata.
Secara historis, Geely telah mengembangkan teknologi baterai sejak pertengahan 2010-an melalui berbagai inisiatif R&D (Research & Development) dan produksi awal.
Pada tahun lalu, Geely telah mengonsolidasikan pengembangan baterainya ke dalam entitas Zhejiang Jiyao Tongxing Energy Technology. Langkah ini bertujuan mengintegrasikan produksi sel baterai, sistem keselamatan, serta pengembangan baterai lithium iron phosphate (LFP) Aegis Short Blade yang diproduksi sendiri.
Kemudian dalam pengembangan Solid State, Geely membentuk unit riset khusus dan laboratorium di Zhejiang, China yang bekerja sama dengan produsen baterai lainnya.
Sel eksperimental yang dikembangkan Geely diklaim telah mencapai kepadatan energi sekitar 400 Wh/kg (Watt hour per kilogram) dengan eksplorasi berbagai kimia elektrolit, termasuk pendekatan berbasis sulfida dan oksida.
Sebagai informasi, baterai solid-state menggunakan elektrolit padat sebagai pengganti elektrolit cair seperti yang digunakan baterai lithium-ion konvensional.
Teknologi ini dinilai berpotensi meningkatkan kepadatan energi, keselamatan, dan umur pakai baterai kendaraan listrik.
Di Tiongkok, pengembangan solid-state kini mulai bergerak dari tahap laboratorium menuju perakitan pack, validasi pemasangan di kendaraan, serta produksi percontohan.
Geely bukan satu-satunya pemain. Produsen otomotif China lainnya semisal Dongfeng, menargetkan produksi massal baterai solid-state pada 2027. Sementara mitra SAIC Motor, Qingtao Energy juga menyiapkan pengujian prototipe dengan target pengiriman massal di tahun yang sama.
Chery dan sejumlah pemasok baterai, termasuk Sunwoda, turut mengembangkan sel solid-state dengan skala pilot project.
Pedoman industri nasional Tiongkok menetapkan 2026 sebagai tahun percepatan inovasi teknologi kendaraan listrik strategis, termasuk baterai solid-state dan sistem pengemudian otonom tingkat lanjut.
Dalam konteks ini, target Geely menyelesaikan paket baterai dan validasi kendaraan pada 2026 menjadi bagian dari agenda inovasi industri yang lebih luas.
Dampak bagi Industri Otomotif Nasional
Bagi Indonesia, perkembangan baterai solid-state Geely berpotensi membawa implikasi jangka menengah. Jika teknologi ini berhasil divalidasi dan masuk tahap komersialisasi, rantai pasok kendaraan listrik global berpeluang bergeser, termasuk kebutuhan material, standar keselamatan, dan teknologi manufaktur baterai.
Sebagai negara dengan ambisi besar dalam pengembangan ekosistem EV dan hilirisasi mineral baterai, Indonesia perlu mencermati arah teknologi ini.
Solid-state dapat mengubah spesifikasi baterai di masa depan yang berpotensi memengaruhi strategi investasi, arah riset, serta kesiapan industri lokal dalam menyambut generasi baru kendaraan listrik.(*)





Comments are closed.