Ancaman bencana alam sering kali menyelimuti Indonesia yang berada tepat di atas kawasan cincin api (ring of fire). Di tengah guncangan gempa yang belum lama melanda Nusa Tenggara Timur hingga santernya kabar mengenai risiko megathrust di selatan Jawa dan barat Sumatera, perbincangan publik turut diwarnai kekhawatiran.
Read more: ‘Megathrust’ bukan mitos: Membangun budaya sadar bencana lewat komunikasi risiko
Namun, apakah kita benar-benar memahami apa itu megathrust, atau kita hanya terjebak dalam rasa takut yang semu akibat banyaknya ramalan dan teori konspirasi tanpa tahu cara menyelamatkan diri?
Menanggapi banyaknya miskonsepsi yang beredar di masyarakat mengenai istilah-istilah dasar geologi, kami mengundang Peneliti Ahli Utama Geologi Kuarter dan Paleotsunami dari BRIN Eko Yulianto untuk berbincang dalam siniar mingguan kami, SuarAkademia.
Eko menjelaskan bahwa, secara harfiah, megathrust merujuk pada patahan atau sesar naik berskala raksasa yang menjadi batas pertemuan dua lempeng tektonik utama. Dalam konteks Indonesia, pertemuan ini terjadi antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Eko menambahkan bahwa publik acap keliru menukarkan istilah lempeng dengan sesar biasa. Sesar seperti sesar lembang hanyalah retakan di bagian kerak bumi. Sementara lempeng mencakup lapisan kerak hingga bagian atas mantel bumi.
Karena dimensi yang sangat luas dan dalam, pelepasan akumulasi energi di zona megathrust berpotensi memicu gempa bermagnitudo sangat dahsyat.
Eko mengatakan bahwa secara ilmiah, gempa memang memiliki sifat berulang, tapi periode ini tidak pernah bersifat tetap, misalnya 200 tahun sekali. Kalkulasi ilmiah modern bahkan tidak menggunakan tanggal prediksi, melainkan menghitung akumulasi energi (slip deficit) dan proyeksi probabilitas.
Lempeng tektonik, menurut Eko, sering kali bergerak tidak sendirian, melainkan menggandeng segmen di sekitarnya (super cycle), seperti pada kasus gempa Samudra Hindia 2004 ataupun Jepang pada 2011. Ketidakpastian sifat batuan dan pergerakan antar segmen ini yang membuat prediksi tanggal dan jam gempa menjadi hal yang mustahil secara sains.
Menghadapi ancaman bencana yang pasti terjadi namun tidak diketahui waktunya, Eko mengingatkan bahwa langkah mitigasi taktis adalah kunci utama keselamatan. Menurut dia, gempa bumi pada dasarnya tidak merenggut nyawa, kecuali karena dampaknya (misalnya bangunan yang roboh).
Eko mengingatkan juga bahwa masyarakat di daerah pesisir harus siap menjadikan tubuh sendiri sebagai sensor utama. Jika merasakan guncangan gempa yang sangat kuat atau berdurasi lama, masyarakat harus segera evakuasi mandiri ke tempat tinggi tanpa harus menunggu pengumuman resmi.
Pada kasus tsunami lokal seperti di Mentawai, gelombang laut bisa menyapu daratan dalam waktu kurang dari 3 hingga 5 menit setelah gempa terjadi.
Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.





Comments are closed.