Bincangperempuan.com- Gen Z sering mendapat cap sebagai generasi manja atau boros demi gaya hidup. Label itu muncul karena banyak yang terlihat masih bergantung pada orang tua untuk biaya sehari-hari. Namun di sisi lain, kita juga melihat anak muda dari generasi ini justru bekerja keras mengambil pekerjaan sampingan, mulai dari ojol malam hari, jualan di online shop hingga freelance di platform digital, sekadar untuk bertahan. Lantas, apakah masalahnya terletak pada karakter Gen Z yang lembek, atau justru kondisi ekonomi saat ini yang semakin sulit dijangkau oleh anak muda?
Realita Gen Z Generasi Menumpang
Survei Wells Fargo 2026 Money Study mengungkap bahwa banyak orang dewasa Gen Z menunda pilihan hidup besar seperti menikah, pindah rumah, melanjutkan pendidikan, atau berganti karier karena tekanan finansial. Hampir dua pertiga (64%) orang tua dengan anak Gen Z berusia 18–28 tahun mengatakan anak mereka masih bergantung secara finansial, baik untuk uang, tempat tinggal, maupun dukungan lain. Lebih dari separuh (56%) orang tua itu merasa bantuan tersebut membebani keuangan mereka sendiri. Sementara itu, 46% responden Gen Z menggambarkan kehidupan finansial mereka berantakan.
Di Indonesia, pola serupa juga terlihat. Menurut data GoodStats, sekitar 62,7% Gen Z masih menerima dukungan finansial dari orang tua untuk kebutuhan seperti makan, asuransi, atau tempat tinggal. Hanya 17,6% yang mengaku sudah benar-benar mandiri secara finansial. Bahkan, 38% Gen Z yang sudah memiliki rumah sendiri pun masih meminta bantuan orang tua. Survei Dentsu 2025 juga mencatat bahwa 40% Gen Z Indonesia hanya mampu memenuhi sebagian kebutuhan bulanan mereka.
Fenomena ini bukan karena Gen Z malas bekerja. Sebaliknya, mereka aktif mencari informasi finansial dari sumber nontradisional. Hampir separuh (44%) mengandalkan video YouTube, sementara 34% belajar dari Instagram atau TikTok, dan 25% dari komunitas online. Mereka belajar mengelola uang dengan cara yang lebih fleksibel dan sesuai zaman, meski sering kali masih harus menumpang di rumah orang tua.
Penyebab Utama: Ekonomi yang Tak Masuk Akal
Ketergantungan ini lebih banyak dipicu oleh perubahan struktur ekonomi daripada sifat pribadi. Dulu, generasi orang tua Gen Z bisa membeli rumah atau menikah di usia 20-an dengan gaji relatif terjangkau. Kini, penghasilan awal karir Gen Z sering kali kalah cepat dengan laju inflasi dan kenaikan harga properti, makanan, serta transportasi.
Di Jakarta, misalnya, gaji fresh graduate rata-rata Rp4–5 juta per bulan, tetapi biaya sewa kos, makan, transportasi, dan kebutuhan dasar lainnya bisa mencapai Rp4–6 juta. Survei Kompas 2026 menunjukkan bahwa 53% Gen Z merasa gaji mereka tidak cukup untuk hidup sesuai keinginan. Persaingan kerja semakin ketat, sehingga banyak yang terjun ke gig economy—kerja lepas, seperti ojek online, atau content creation untuk menambah penghasilan. Meski tingkat pendidikan lebih tinggi, imbalan yang didapat belum sebanding dengan biaya hidup yang melonjak.
Gen Z juga menghadapi pasar kerja yang berbeda. Banyak perusahaan masih menawarkan gaji awal yang stagnan, sementara harga kebutuhan pokok terus naik. Hasilnya, mereka lebih sering memilih strategi frugal dengan berburu diskon, soft saving, dan membangun penghasilan tambahan melalui side hustle.
Namun, tekanan ini tidak hanya dirasakan Gen Z. Sebanyak 56% orang tua dalam survei Wells Fargo mengaku keuangan mereka ikut tertekan karena terus memberikan dukungan. Di Indonesia, risiko “generasi sandwich” semakin nyata. Banyak Gen Z khawatir dengan kondisi pensiun orang tua mereka. Data tersebut menunjukkan tingkat kekhawatiran mencapai angka tinggi, bahkan hingga 87% dalam beberapa survei terkait. Jika tidak ditangani, dampak jangka panjangnya bisa meluas seperti penundaan pernikahan dan kelahiran anak, penurunan tingkat kelahiran, serta perlambatan konsumsi ekonomi secara keseluruhan.
Gen Z Bukan Generasi Pasif
Meski demikian, Gen Z tidak diam saja. Mereka menunjukkan adaptasi yang cukup tangguh. Banyak yang menggabungkan pekerjaan utama dengan side job, belajar investasi dasar melalui konten edukasi, dan memprioritaskan kemandirian finansial sebelum mengambil langkah besar seperti menikah. Survei Deloitte 2025 menyebutkan bahwa 34% Gen Z Indonesia menjadikan kemandirian finansial sebagai prioritas utama dalam karier mereka. Mereka lebih realistis, stabilitas keuangan dulu, baru kemudian mengejar makna kerja atau kehidupan keluarga.
Stereotip “manja” sering muncul karena terlihatnya gaya hidup digital—belanja online, nongkrong, atau konten lifestyle. Padahal, pola ini lebih mencerminkan adaptasi terhadap era yang serba cepat dan mahal, bukan kemalasan. Gen Z justru lebih sadar akan pentingnya work-life balance dan fleksibilitas, meski itu berarti harus bekerja lebih keras di balik layar.
Baca juga: Belajar Demokrasi dari Gen Z Nepal yang Pilih Perdana Menteri Lewat Discord
Jalan Keluar yang Dibutuhkan
Fenomena ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan saling lempar kesalahan. Tanpa literasi finansial yang kuat, Gen Z akan terus terjebak dalam arus gaya hidup konsumtif yang dipoles label self-reward. Pengetahuan mengelola uang harus jadi fondasi dasar agar tidak mudah terombang-ambing tren ekonomi yang tidak sehat.
Di sisi lain, meski hambatan ekonomi bersifat struktural, Gen Z tetap perlu mengambil kendali atas apa yang bisa diupayakan. Kedisiplinan mengelola pengeluaran dan ambisi mengasah skill digital tetap menjadi instrumen penting. Kemandirian tidak akan jatuh dari langit lewat subsidi pemerintah saja, melainkan lahir dari kemauan individu untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang makin kompetitif.
Dukungan dari pemerintah dan orang tua pun harus lebih terukur, bukan memanjakan. Pemerintah perlu menyediakan jaring pengaman seperti subsidi perumahan, sementara orang tua harus berani berkomunikasi jujur soal batas dukungan finansial. Tanpa batasan tegas, bantuan keluarga justru berisiko menjadi “racun” yang mematikan daya juang anak untuk berdiri sendiri.
Referensi:
- Business Wire. (2026, 30 Maret). Wells Fargo 2026 Money study reveals Americans redefining the American dream: Gen Z leaning on parents for financial support.https://www.businesswire.com/news/home/20260330567719/en/Wells-Fargo-2026-Money-Study-Reveals-Americans-Redefining-the-American-Dream-Gen-Z-leaning-on-Parents-for-Financial-Support
- Deloitte. (2025). 2025 Gen Z and millennial survey: Stimulating change in the workplace and beyond.https://www.deloitte.com/global/en/issues/work/genz-millennial-survey.html
- Deloitte. (2025, Mei). 2025 Gen Z and millennial survey: Country report Indonesia. Jakarta Satu.https://jakartasatu.com/wp-content/uploads/2025/05/2025-GenZ-Millennial-Survey-Country-Report-Indonesia.pdf
- GoodStats. (2024, 13 Juni). 60% Gen Z masih bergantung pada orang tua, apakah Gen Z bisa mandiri secara finansial?https://goodstats.id/article/60-gen-z-masih-bergantung-pada-orang-tua-apakah-gen-z-bisa-mandiri-secara-finansial
- Indonesia Move. (2025, 22 Mei). Survei: Gen Z tetap optimistis di tengah tekanan finansial yang terus meningkat, prioritas pengeluaran bergeser.https://www.indonesiamove.com/ekonomi/991457863/survei-gen-z-tetap-optimistis-di-tengah-tekanan-finansial-yang-terus-meningkat-prioritas-pengeluaran-bergeser
- Katadata SISI+. (2024, 30 Januari). Mayoritas Gen Z bergantung kepada orang tua untuk dukungan finansial.https://sisiplus.katadata.co.id/berita/ekonomi-bisnis/796/mayoritas-gen-z-bergantung-kepada-orang-tua-untuk-dukungan-finansial
- Kompas.com. (2026, 9 Februari). Gen Z sulit gapai financial freedom, penyebabnya ternyata gaji.https://money.kompas.com/read/2026/02/09/132322526/gen-z-sulit-gapai-financial-freedom-penyebabnya-ternyata-gaji
- Kompas.com. (2026, 19 Februari). Survei Deloitte: Biaya hidup jadi sumber stres finansial Gen Z dan milenial.https://money.kompas.com/read/2026/02/19/162800226/survei-deloitte–biaya-hidup-jadi-sumber-stres-finansial-gen-z-dan-milenial




Comments are closed.