Foto oleh NEOM di Unsplash
Pandangan sains mengenai kedalaman samudra pernah diselimuti oleh Azoic Hypothesis. Teori abad ke-19 ini meyakini bahwa zona di bawah kedalaman 550 meter adalah wilayah mati yang hampa tanpa organisme satu pun. Keterbatasan alat sounding dan metode pengambilan sampel pada masa itu menjadi alasan utama di balik munculnya hipotesis tersebut.
Bantahan atas teori tersebut justru lahir dari perairan Nusantara. Atas saran dari naturalis Alfred Russel Wallace, tim ekspedisi HMS Challenger pada periode 1872–1876 mengarungi perairan Hindia Belanda.
Mereka mengukur topografi dasar laut, mencatat suhu perairan, dan menemukan fakta bahwa perairan Laut Sulawesi memunculkan sirkulasi massa air unik yang menopang kehidupan beragam spesies laut dalam. Momen sejarah ini dilanjutkan oleh Ekspedisi Siboga pada 1899–1900 di bawah kepemimpinan Max Weber bersama Anna Weber van Bosse.
Menempuh perjalanan sejauh 12.000 mil laut di perairan Nusantara, tim ekspedisi mengumpulkan data dasar topografi serta persebaran organisme yang hingga kini menjadi fondasi utama ilmu oseanografi dan biogeografi laut di Indonesia.
“Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara kondisi fisik laut, seperti suhu, kedalaman, dan sirkulasi arus, dengan pola persebaran organisme laut. Temuan-temuan inilah yang kemudian menjadi fondasi penting bagi perkembangan ilmu oseanografi dan biogeografi laut di Indonesia hingga saat ini,” kata peneliti dari University of Sydney Annayu Maharini.
Peluang Raksasa Ekonomi Biru di Bawah Kedalaman Samudra
Sebagai negara kepulauan berwilayah perairan sangat luas, sebagian besar zona laut dalam Indonesia sampai saat ini belum terpetakan secara utuh.
Padahal, di balik kedalaman ribuan meter tersebut tersimpan potensi ekonomi raksasa, mulai dari cadangan mineral kritis, potensi energi baru terbarukan berbasis arus laut, hingga sumber keanekaragaman hayati untuk industri bioteknologi dan farmasi.
Penguasaan wilayah bawah laut ini menjadi pilar utama pembangunan ekonomi nasional. Tanpa data dan pemetaan ilmiah yang mandiri, potensi bernilai triliunan rupiah di dasar laut Nusantara berisiko dimanfaatkan pihak luar tanpa memberikan nilai tambah bagi perekonomian domestik.
Kepala Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) A’an Johan Wahyudi menekankan perlunya penguatan observasi laut, pengembangan teknologi eksplorasi, serta penataan data terpadu melalui agenda Deep Sea Mission 2045.
“Visi tersebut tidak hanya berorientasi pada eksplorasi, tetapi juga mencakup penguatan observasi laut, pengembangan teknologi kelautan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan data, serta kolaborasi nasional maupun internasional,” kata A’an Johan Wahyudi.
Pengembangan sektor ekonomi berbasis laut dalam membutuhkan kesiapan armada riset dan teknologi observasi yang canggih. Penguasaan teknologi eksplorasi secara mandiri akan membuka pintu masuk bagi investasi industri berbasis kelautan, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi biru Indonesia di kancah global.
BRIN mengupayakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kolaborasi strategis lintas sektor guna mengunci nilai ekonomi komoditas samudra di dalam negeri. Sehingga, kekayaan aset maritim di dasar laut Indonesia dapat dikelola secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.
Tim Editor




Comments are closed.