Sun,9 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Saban Tahun Berangkatkan Ratusan Ribu Jemaah, Mengapa Produk Haji Indonesia Malah Dipasok Thailand dan China?

Saban Tahun Berangkatkan Ratusan Ribu Jemaah, Mengapa Produk Haji Indonesia Malah Dipasok Thailand dan China?

saban-tahun-berangkatkan-ratusan-ribu-jemaah,-mengapa-produk-haji-indonesia-malah-dipasok-thailand-dan-china?
Saban Tahun Berangkatkan Ratusan Ribu Jemaah, Mengapa Produk Haji Indonesia Malah Dipasok Thailand dan China?
service

8 Agustus 2026 14.00 WIB • 2 menit

Foto oleh ibrahim uz di Unsplash


Penyelenggaraan ibadah haji saban tahun selalu identik dengan pemenuhan kewajiban spiritual dan peningkatan kualitas pelayanan jemaah.

Dengan kuota rutin berkisar 220.000 jemaah Indonesia per tahun, perputaran uang yang mengalir di dalam ekosistem ini menyentuh angka yang sangat fantastis. Sayangnya, potensi ekonomi raksasa tersebut sejauh ini belum dimaksimalkan secara terstruktur untuk mendatangkan manfaat kembali ke tanah air.

Kondisi di lapangan menunjukkan sebagian besar nilai tambah ekonomi haji justru dinikmati oleh negara-negara non-Muslim seperti China dan Thailand. Kedua negara tersebut bertindak sebagai pemasok utama berbagai kebutuhan fisik jemaah, mulai dari perbekalan konsumsi, perlengkapan kain, hingga suvenir ibadah.

Fenomena kebocoran ekonomi (leakage) ini menyebabkan triliunan rupiah dana yang dikeluarkan jemaah asal Indonesia menguap begitu saja di luar negeri tanpa memberikan dampak signifikan bagi pelaku industri dan UMKM dalam negeri.

“Ada kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan ekosistem haji guna meningkatkan layanan sekaligus memanfaatkan potensi ekonominya agar tidak ‘hangus’ di luar negeri,” kata Ketua Tim Peneliti Riset Haji BRIN Abdul Jamil.

Anatomi Kebocoran Ekonomi dan Inefisiensi Transportasi

Pemetaan riset yang digagas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) membedah rantai kebocoran dana haji dari hulu ke hilir. Selain masalah pasokan produk olahan pangan dan kebutuhan harian, sektor transportasi udara menjadi salah satu titik yang menyumbang inefisiensi biaya cukup besar.

Penerbangan haji kerap dihadapkan pada masalah klasik loss-benefit berupa fenomena pesawat yang terbang tanpa penumpang pada rute pemulangan atau pemberangkatan awal. Penerbangan returning empty ini menguras efisiensi anggaran yang seharusnya dapat ditekan.

Di samping itu, sektor layanan kesehatan seperti pelaksanaan tes kesehatan, pengadaan vaksinasi, hingga ketersediaan pasokan obat-obatan jemaah menyimpan nilai bisnis besar yang perlu ditata ketat tata kelolanya.

Pembangunan Kampung Haji Indonesia seluas 80 hektare di Mekkah yang ditargetkan rampung pada 2029 menjadi strategi untuk mengunci rantai pasok produk lokal secara mandiri di Arab Saudi.

“Kita harus menghitung berapa persen kebocoran ekonomi kita di mana produk haji justru dipasok oleh negara non-muslim seperti China atau Thailand, padahal Indonesia punya potensi menyuplai kebutuhan tersebut,” kata Kepala Pusat Riset Hukum BRIN Nawawi.

Untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang kuat (evidence-based policy), BRIN menggelar Program Riset Indonesia Strategis (PRIS) yang berlangsung selama dua tahun. Penelitian skala nasional ini melibatkan 1,120 jemaah haji tahun 2026 yang tersebar di 14 embarkasi di seluruh Indonesia.

Riset ini menggabungkan pendekatan survei lapangan dan wawancara mendalam bersama eksportir, asosiasi KBIHU, penyedia jasa logistik, hingga pelaku UMKM lokal. Kerangka riset terdiri dari empat dimensi utama, yakni pelayanan inti ibadah, industri pendukung, manajemen pengelolaan keuangan haji oleh BPKH, serta pemberdayaan ekonomi rakyat.

Data hasil analisis riset ini akan diproyeksikan sebagai pijakan utama bagi Kementerian Haji dan Umrah dalam merumuskan regulasi yang mampu mengamankan nilai tambah ekonomi haji bagi kesejahteraan nasional.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.