Mon,4 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Hidup di Atas Rawa, Budaya dan Kearifan Masyarakat Hulu Sungai Utara

Hidup di Atas Rawa, Budaya dan Kearifan Masyarakat Hulu Sungai Utara

hidup-di-atas-rawa,-budaya-dan-kearifan-masyarakat-hulu-sungai-utara
Hidup di Atas Rawa, Budaya dan Kearifan Masyarakat Hulu Sungai Utara
service

Hidup di atas rawa? Perkataan ini terdengar asing dan sulit dilakukan oleh orang yang hidup di daratan. Namun, tidak bagi masyarakat di Kecamatan Danau Panggang dan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Selama beratus tahun, mereka hidup dan membangun budaya di kawasan rawa. Lahan rawa terdapat pada hampir seluruh ekosistem kecuali pada padang pasir. Istilah “rawa” lebih umum digunakan dalam Bahasa Indonesia sebagai pengganti “lahan basah” meskipun tidak semua lahan basah dapat dikategorikan sebagai rawa. Fahmi dan Wakhid (2018) dalam laporan berjudul “ Karakteristik Lahan Rawa” menjelaskan bahwa lahan rawa merupakan ekosistem yang berada pada daerah transisi di antara daratan dan perairan (sungai, danau, atau laut), terbentuk secara alamiah atau buatan yang memakan waktu ribuah bahkan jutaan tahun. Hidup di atas rawa merupakan bentuk kehidupan yang telah dijalani masyarakat di Kecamatan Danau Panggang dan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, selama ratusan tahun. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia Nasrullah, Anthopolog Universitas Lambung Mangkurat, kepada Mongabay Indonesia mengatakan, mereka yang hidup di rawa telah menjalani proses adaptasi yang panjang dan memiliki aset yang memungkinkan bekerja di sana. Sebut saja, beternak dan mencari ikan, memelihara kerbau rawa, bahkan membuat kerajinan dari purun, yaitu tanaman sejenis rotan yang tumbuh di rawa. Mereka bertahan karena ada potensi mata pencaharian. “Sebaliknya, karena sudah mengalami adaptasi panjang, mereka juga sedikit banyak akan kesulitan hidup dan bekerja di daratan,” jelasnya, Sabtu (28/3/2026). Sejauh ini, belum ada arsip atau manuskrip kuno yang mencatat dengan tepat siapa masyarakat pertama yang menetap di daerah ini. Saat ini, mayoritas suku…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.