Sat,11 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri [2]

Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri [2]

jejak-penyelundupan-siamang-dari-sumatera-ke-luar-negeri-[2]
Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri [2]
service

Safri, nama samaran, masih mendekam di lembaga pemasyarakatan di  Aceh. Dia kena bui  karena memperdagangkan  orangutan sumatera. Bahkan, dia pernah mengantar langsung orangutan sumatera dari Kabupaten Aceh Tamiang ke Provinsi Satun, Thailand, menggunakan speedboat selama delapan jam. Bukan hanya orangutan, burung, dan siamang juga dia bawa. “Biasanya, toke dari Indonesia dan Thailand berkomunikasi mengatur jadwal pesanan,” katanya, 27 Oktober 2025 lalu. Pengiriman lancar karena pimpinan mereka di Surabaya, sudah menyiasati agar aman melintasi Selat Malaka. Para penyelundup merasa aman setelah meninggalkan daratan. Alasannya, mereka memiliki mesin kapal bertenaga kuat untuk menghindari kejaran aparat penegak hukum. “Jika keadaan aman, yang dipakai hanya satu atau dua mesin. Tapi, jika ada patroli maka semua mesin dihidupkan.” Safri mengaku, ketika di Thailand mereka tidak bisa turun dari speedboat, karena sudah ada tim yang menunggu. Setelah satwa berpindah tangan, mereka segera pulang ke Aceh. “Di laut tidak banyak yang memantau.” Mongabay Indonesia berkunjung ke Pelabuhan Kota Langsa,  Aceh, untuk melihat langsung speedboat maupun kapal yang pelaku penyeludupan gunakan.  Bea dan Cukai Kota Langsa sita kapal  yang terbuat dari fiber itu. Kapal gunakan tiga bahkan lima mesin 200 PK. Dari situs penjualan, harga mesin tempel  sekitar Rp200 juta per unit. Konsumsi bahan bakar mencapai 81 liter per jam untuk setiap mesin. Mengapa Thailand? Jarak dari Aceh maupun Sumatera Utara, ke provinsi di Thailand lebih dekat ketimbang daerah lain di Indonesia. “Selat Malaka terlalu gampang dilewati para penyelundup. Pengamanan tidak ketat. Saya melaut hingga tiga minggu dan jarang melihat kapal patroli penegak hukum,” kata Sulaiman, nelayan di…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.