Safri, nama samaran, masih mendekam di lembaga pemasyarakatan di Aceh. Dia kena bui karena memperdagangkan orangutan sumatera. Bahkan, dia pernah mengantar langsung orangutan sumatera dari Kabupaten Aceh Tamiang ke Provinsi Satun, Thailand, menggunakan speedboat selama delapan jam. Bukan hanya orangutan, burung, dan siamang juga dia bawa. “Biasanya, toke dari Indonesia dan Thailand berkomunikasi mengatur jadwal pesanan,” katanya, 27 Oktober 2025 lalu. Pengiriman lancar karena pimpinan mereka di Surabaya, sudah menyiasati agar aman melintasi Selat Malaka. Para penyelundup merasa aman setelah meninggalkan daratan. Alasannya, mereka memiliki mesin kapal bertenaga kuat untuk menghindari kejaran aparat penegak hukum. “Jika keadaan aman, yang dipakai hanya satu atau dua mesin. Tapi, jika ada patroli maka semua mesin dihidupkan.” Safri mengaku, ketika di Thailand mereka tidak bisa turun dari speedboat, karena sudah ada tim yang menunggu. Setelah satwa berpindah tangan, mereka segera pulang ke Aceh. “Di laut tidak banyak yang memantau.” Mongabay Indonesia berkunjung ke Pelabuhan Kota Langsa, Aceh, untuk melihat langsung speedboat maupun kapal yang pelaku penyeludupan gunakan. Bea dan Cukai Kota Langsa sita kapal yang terbuat dari fiber itu. Kapal gunakan tiga bahkan lima mesin 200 PK. Dari situs penjualan, harga mesin tempel sekitar Rp200 juta per unit. Konsumsi bahan bakar mencapai 81 liter per jam untuk setiap mesin. Mengapa Thailand? Jarak dari Aceh maupun Sumatera Utara, ke provinsi di Thailand lebih dekat ketimbang daerah lain di Indonesia. “Selat Malaka terlalu gampang dilewati para penyelundup. Pengamanan tidak ketat. Saya melaut hingga tiga minggu dan jarang melihat kapal patroli penegak hukum,” kata Sulaiman, nelayan di…This article was originally published on Mongabay
Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri [2]
Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri [2]





Comments are closed.