Fri,10 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Dari Elang Jawa hingga Burung Hantu, Masa Depan Raptor Indonesia Kian Rentan

Dari Elang Jawa hingga Burung Hantu, Masa Depan Raptor Indonesia Kian Rentan

dari-elang-jawa-hingga-burung-hantu,-masa-depan-raptor-indonesia-kian-rentan
Dari Elang Jawa hingga Burung Hantu, Masa Depan Raptor Indonesia Kian Rentan
service

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keragaman burung pemangsa (raptor) tertinggi di dunia. Kelompok ini mencakup elang, alap-alap, rajawali, hingga burung hantu yang berperan penting sebagai predator puncak dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selain menjadi habitat bagi banyak spesies menetap (resident), Indonesia juga menjadi jalur migrasi dan wilayah persinggahan penting bagi raptor dari Asia Timur dan Asia Utara, seperti Siberia, Mongolia, Jepang, Korea, Taiwan, dan Tiongkok. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan turut mendorong tingginya tingkat endemisitas, menghasilkan sejumlah spesies unik yang hanya ditemukan di wilayah tertentu. Tedi Setiadi, Sekretaris Jenderal Raptor Indonesia (RAIN), menjelaskan bahwa raptor di Indonesia terbagi ke dalam tiga ordo utama, yakni Accipitriformes, Falconiformes, dan Strigiformes. Dua ordo pertama merupakan burung pemangsa yang aktif siang hari (diurnal), sementara Strigiformes atau burung hantu aktif malam hari (nokturnal). Perkembangan penelitian raptor di Indonesia mengalami kemajuan signifikan dalam tiga dekade terakhir. Pada awal abad ke-20, kajian masih terbatas pada pencatatan spesimen dan klasifikasi taksonomi oleh para naturalis Eropa. Memasuki pertengahan 1980-an, penelitian mulai menghubungkan keberadaan raptor dengan kondisi habitat serta dampak fragmentasi hutan. Titik balik terjadi pada 1990-an ketika kondisi kritis elang jawa (Nisaetus bartelsi) mendapat perhatian luas. Sejak saat itu, elang jawa menjadi spesies raptor yang paling banyak diteliti di Indonesia dan menjadi fondasi berkembangnya riset terhadap spesies lain. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian ilmiah juga meningkat terhadap elang flores (Nisaetus floris), yang menghadapi ancaman konservasi serupa. Meski penelitian terus berkembang, status konservasi banyak raptor belum menunjukkan perubahan berarti. Elang jawa, misalnya, masih berstatus Genting (Endangered) secara global.…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.