Kanker payudara terjadi ketika sel-sel abnormal atau ganas tumbuh dan berkembang secara tidak terkendali di jaringan payudara. Seiring perkembangan teknologi dan ilmu kedokteran, metode skrining kanker payudara terus mengalami kemajuan sehingga dapat membantu mendeteksi penyakit lebih dini dan menekan risiko kematian.
Kendati demikian, melansir dari laman Kemenkes RI, pada tahun 2022 kanker payudara menempati urutan pertama sebagai jenis kanker yang menyumbang kematian terbesar di Indonesia.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 2.4 juta perempuan didiagnosis kanker payudara dan 694 ribu diantara dinyatakan meninggal dunia. Namun, WHO menganggap berdasarkan data, terdapat ketimpangan yang mencolok secara global. Misalnya, negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang tinggi akan memiliki angka diagnosis kanker payudara yang lebih tinggi, tetapi risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan negara dengan IPM rendah.
Hal ini menunjukkan akses terhadap skrining, deteksi dini, dan pengobatan yang lebih baik dapat berperan penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Dosen Departemen Biostatistika, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi, FK-KMK UGM, Prima Dhewi Ratrikaningtyas, menjelaskan kanker payudara pada dasarnya merupakan penyakit yang dapat ditangani dengan baik apabila ditemukan pada stadium awal. Karena itu, pemahaman mengenai faktor risiko dan pemeriksaan sejak dini menjadi penting, termasuk bagi perempuan usia muda.
“Kanker secara umum itu sangat penting untuk bisa kita deteksi sejak awal karena sebenarnya kan bisa disembuhkan total kalau terdeteksi di stadium yang awal. Jadi sebenarnya bisa disembuhkan, termasuk penyakit yang bisa disembuhkan,” katanya, Senin, 24 Agustus 2026, dikutip dari laman UGM.
Menurutnya, kanker sering menjadi penyakit yang menakutkan karena pasien datang ketika kondisi sudah memasuki stadium lanjut. Karena itu, perempuan perlu mengenali apakah dia memiliki faktor risiko kanker payudara sehingga dapat lebih waspada dan melakukan pemeriksaan secara berkala.
“Jadi sangat penting kita sejak awal itu menyadari kita itu punya faktor risiko yang tinggi atau tidak. Kalau punya faktor risiko yang tinggi itu harus lebih aware, lebih rajin untuk periksa atau memeriksa payudaranya sendiri,” tuturnya.
Ia menjelaskan, faktor risiko kanker payudara dapat dibedakan menjadi faktor yang tidak dapat dikendalikan dan faktor yang masih dapat dikendalikan. Jenis kelamin, riwayat keluarga, serta faktor genetik merupakan beberapa faktor yang tidak dapat diubah.
Perempuan memiliki risiko kanker payudara yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, meskipun laki-laki juga tetap dapat mengalami penyakit ini. Risiko juga dapat meningkat apabila terdapat anggota keluarga yang pernah mengalami kanker, terutama kanker payudara.
Selain riwayat keluarga, faktor genetik tertentu juga dapat meningkatkan kecenderungan seseorang mengalami kanker payudara. Karena itu, perempuan dengan riwayat kanker dalam keluarga perlu memiliki kewaspadaan lebih tinggi dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai langkah pemeriksaan yang sesuai.
Ia menyatakan ada sejumlah faktor risiko yang berkaitan dengan pola hidup dan lingkungan yang masih dapat dikendalikan. Karena itu, kata dia, upaya pencegahan juga perlu dilakukan melalui penerapan pola hidup yang lebih sehat dan kesadaran untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Meski pemeriksaan dan layanan kesehatan semakin berkembang, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan secara rutin masih menjadi tantangan. Menurutnya, sebagian masyarakat cenderung baru memeriksakan diri ketika sudah merasakan keluhan atau sakit.
“Budaya di Indonesia itu kalau belum sakit, belum ingin diperiksa. Jadi, belum banyak kesadaran untuk check up rutin,” katanya.
Kondisi ini membuat sebagian pasien datang ketika kanker sudah berada pada stadium lanjut. Padahal, pemeriksaan tidak harus menunggu munculnya rasa sakit atau gejala yang berat.
Selain rendahnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan, keputusan untuk mencari pengobatan juga dapat dipengaruhi ketakutan terhadap diagnosis, operasi, maupun biaya pengobatan. Sebagian masyarakat bahkan memilih pengobatan alternatif dan menunda pemeriksaan medis.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa semakin dini kanker ditemukan, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Karena itu, pemeriksaan medis tetap diperlukan ketika ditemukan adanya perubahan atau kelainan pada payudara.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan perempuan ialah pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI. Pemeriksaan ini dapat dilakukan secara mandiri di rumah sehingga tidak selalu membutuhkan kunjungan langsung ke fasilitas kesehatan.
Ia menilai edukasi mengenai SADARI perlu diperluas agar masyarakat, khususnya perempuan muda, memahami cara melakukan pemeriksaan dengan benar dan menjadikannya sebagai kebiasaan. “Sebenarnya SADARI itu mudah dilakukan. Mungkin perlu promosi kesehatan yang lebih masif tentang SADARI itu sebenarnya mudah,” ujarnya.
Menurutnya, edukasi dapat dilakukan melalui berbagai media yang mudah dipahami masyarakat, seperti poster atau materi visual mengenai langkah pemeriksaan payudara sendiri. Dengan demikian, perempuan dapat mengenali kondisi payudaranya secara rutin dan mengetahui apabila terdapat perubahan yang perlu diperiksakan lebih lanjut.
Ia menyarankan pemeriksaan payudara sendiri dilakukan secara rutin, misalnya satu kali dalam sebulan. Apabila ditemukan benjolan atau perubahan yang mencurigakan, pemeriksaan dapat dilanjutkan kepada tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian medis.
Lebih lanjut, kata dia, penanganan kanker payudara tidak hanya menjadi tanggung jawab pasien maupun tenaga kesehatan. Menurutnya, upaya meningkatkan deteksi dini membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, keluarga, tenaga kesehatan, hingga lingkungan pendidikan.
Ia menilai edukasi mengenai kanker payudara perlu terus diperkuat untuk meluruskan berbagai mitos dan ketakutan yang dapat membuat seseorang enggan memeriksakan diri. Mahasiswa dan masyarakat berpendidikan juga dapat mengambil peran dengan menyebarkan informasi kesehatan yang benar.
Ia berharap layanan kesehatan dan tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi secara lebih komunikatif, termasuk mengajarkan pemeriksaan payudara sendiri kepada pasien. “Semua bersama-sama untuk menangani ini. Kemudian juga keluarga misalnya, keluarga juga harus support,” tuturnya.
Dukungan keluarga menjadi semakin penting ketika seseorang menemukan kelainan pada payudaranya. Menurutnya, keluarga perlu mendorong anggota keluarga untuk segera mendapatkan pemeriksaan medis dan tidak menunda penanganan.
Ia juga mengingatkan pilihan pengobatan alternatif tidak seharusnya menggantikan penanganan medis. Jika masyarakat memilih untuk menggunakan pengobatan alternatif, ucap dia, pemeriksaan dan penanganan secara medis tetap perlu dilakukan.
Menurut dia, deteksi dini menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan peluang kesembuhan kanker payudara. Kesadaran untuk mengenali faktor risiko, melakukan pemeriksaan secara rutin, serta segera mencari pertolongan medis ketika menemukan kelainan perlu dibangun sebagai kebiasaan, bukan dilakukan setelah penyakit berkembang. “Mencegah itu lebih baik daripada mengobati,” katanya.





Comments are closed.